
Peletakan batu pertama masjid PPG dilakukan kembali di tahun 2025 setelah mangkraknya proyek pembangunan masjid PPG pada 2020 silam. UIN Jakarta bekerja sama dengan donatur asal Kuwait dalam pembangunan masjid tersebut.
Jumat (19/9), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali mengadakan acara seremonial peletakan batu pertama pembangunan masjid di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sawangan. Pembangunan masjid yang diberi nama Al-Rabi’a itu merupakan kerja sama UIN Jakarta dengan donatur asal Kuwait bernama Abdul Latif Al-Rubai, serta didukung oleh Baituzzakat Kuwait dan Asosiasi Indonesia–Kuwait Charity.
Pada tahun 2020 silam, peletakan batu pertama pembangunan masjid di PPG sempat dilakukan, namun tanpa bantuan dana dari pihak manapun. Yudhi Munadi, selaku Ketua Pembangunan Masjid PPG sekaligus Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum FITK menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan rencana pembangunan masjid tahun 2020 mangkrak.
“Sebelumnya memang benar sudah ada upaya untuk membangun masjid itu, bukan kita tidak mau melanjutkan, namun ada beberapa alasan, di antaranya dana yang kurang, beberapa tiang pondasi dicuri, serta tanah yang tidak rata,” ucap Yudhi, Selasa (23/9).
Yudhi menuturkan, pondasi masjid yang telah dibangun empat tahun lalu itu sebenarnya masih bisa dilanjutkan. Namun, pembangunannya akan membutuhkan biaya lebih besar untuk meratakan tanah, sementara dana yang didapat terbatas. Oleh karena itu, UIN Jakarta memilih lokasi lain yang lebih hemat biaya pengurukan sekaligus dinilai lebih aman dari bencana alam.
“Jika dipaksakan di tempat yang lama, khawatir menyebabkan penyerapan (air) jadi lambat dan akan terjadi banjir. Maka dari itu, kita memilih lokasi lain untuk meminimalisir hal itu terjadi,” ujarnya.
Lanjut, ia menjelaskan, meski pembangunan masjid tersebut merupakan hasil kerja sama dengan donatur asal Kuwait, namun mereka tidak mewajibkan UIN Jakarta untuk memberikan timbal balik. Yudhi menuturkan, dana dari mitra hanya mencakup sebagian kecil, sedangkan sisanya diambil dari kas pembangunan masjid tahun 2020 yang mencapai Rp1 miliar.
“Dalam proposal tertulis dana yang diperlukan sebesar Rp9 miliar, namun yang diberikan hanya Rp2 miliar saja serta tambahan dari kas pembangunan masjid tempo hari sebesar Rp1 miliar. Kita masih harus mencari Rp6 miliar lagi,” tuturnya.
Meskipun belum ada kepastian waktu penyelesaian, Yudhi menyampaikan, pihak donatur asal Kuwait berharap masjid tersebut sudah dapat digunakan oleh civitas academica dan masyarakat sekitar dalam satu tahun ke depan. “Jika dananya tersedia, ya, secepatnya. Dari pihak Kuwait menginginkan tahun depan sudah bisa digunakan,” katanya.
Siti Salwa Ristima, mahasiswi PPG Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) sangat menantikan kelanjutan pembangunan masjid tersebut. Meski PPG memiliki musala di setiap lantai, mahasiswa kerap mengeluhkan ketiadaan air di tempat wudunya. Selain itu, musala tersebut dibagi menjadi ruang salat perempuan pada lantai ganjil, dan ruang salat laki-laki pada lantai genap. Lantaran terpisah, menyulitkan akses mahasiswa saat berada di lantai yang tidak sesuai dengan klasifikasinya.
Pun, tidak semua musala dilengkapi sajadah, bahkan yang tersedia dirasa tak layak dan kurang nyaman digunakan untuk salat. “Senang sih, karena bakal ada Masjid di PPG. Sebenarnya ada musala, tapi perempuan sama laki-laki itu dipisah perlantai, terus gak semua musala ada sajadah. Jadi kurang nyaman buat salat di situ,” kata Salwa, Minggu (21/9).
Salwa menuturkan, di antara beberapa musala itu, hanya sedikit yang menyediakan mukena. Hal tersebut membuat ia harus membawa mukena sendiri atau melaksanakan salat di kos. Ia berharap, dengan adanya Masjid di PPG, mukena bisa tersedia agar memudahkan jamaah perempuan.
Selaras dengan Salwa, Raihan Muhammad, mahasiswa PPG Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) turut senang akan adanya masjid di PPG. Menurutnya, masjid tersebut akan membutuhkan waktu pengerjaan yang lama. “Menurut gue pembangunan ini bakal memakan waktu lama. Dan gue kurang tau pasokan airnya dari mana, kalau dari Gedung PPG bakal sama aja, soalnya air di PPG sering mati,” tutur Raihan, Rabu (24/9).
Raihan menilai, masjid tersebut hanya akan ramai pada saat salat Jumat. Namun, keramaian itu justru berasal dari masyarakat sekitar, bukan dari kalangan mahasiswa. Sebab, hanya sedikit mahasiswa PPG yang memiliki jadwal kuliah pada hari itu. “Paling ramenya kalau salat Jumat aja, itupun rame sama masyarakat daerah sini, mahasiswa rame ketika salat fardu saja,” pungkasnya.
Ia berharap, fasilitas masjid dapat memadai kebutuhan mahasiswa dan terbuka bagi siapa saja yang ingin beribadah. Selain itu, ia juga menginginkan adanya pengurus yang dapat memakmurkan masjid, mengingat musala PPG kini kurang terurus.
Reporter : Ilham Hidayat
Editor : Rizka Id’ha Nuraini
