
Pada PBAK FST 2026 terdapat pemberitahuan bahwa Maba tidak diwajibkan untuk cukur pendek. Namun, terdapat beberapa prodi yang tetap mewajibkan Maba-nya cukur pendek.
Sabtu (15/8) akun Instagram @pbakfstuinjkt mengunggah postingan terkait kebijakan terbaru terkait regulasi batasan panjang rambut bagi mahasiswa baru (Maba) Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Dalam unggahan tersebut, terdapat keterangan bahwa pada tahun ajaran baru 2026, Maba tidak wajib untuk mencukur rambut lebih dari tiga sentimeter.
Tidak seperti tahun sebelumnya, pada laporan Institut berjudul Rambut Pendek Saat PBAK yang meregulasi Maba terkait batasan panjang rambut dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025.
Namun, terdapat program studi (prodi) yang masih mewajibkan Maba-nya untuk mencukur sesuai ketentuan, yaitu Teknik Pertambangan dan Teknik Informatika. Hal tersebut membuat beberapa Maba bingung sekaligus resah dengan adanya aturan wajib tersebut.
Maba Prodi Teknik Pertambangan, Ahsan—bukan nama sebenarnya—menjelaskan, awalnya ia mengetahui adanya pemberitahuan bahwa Maba akan cukur pendek. Namun, setelah itu terdapat pemberitahuan dan perubahan peraturan jadi tidak diwajibkan.
Ahsan melanjutkan, dirinya menerima pemberitahuan untuk cukur pada Selasa (18/8) dengan ketentuan cukuran tiga sentimeter untuk semua sisi. Lalu, setelah itu terdapat kumpulan dengan angkatan 24 dan 25, dan ternyata terdapat Maba yang cukurnya lebih pendek dari ketentuannya. Jadi, seluruh Maba di prodi-nya harus mengikuti cukuran yang terpendek, yaitu satu sentimeter.
“Karena ada satu yang cukurnya berbeda, jadi semuanya diwajibkan untuk menyamakannya. Supaya kayak kita tuh kompak, kayak solidaritas gitu,” ujar Ahsan, Kamis (27/8).
Lalu, Ahsan mengungkapkan, rambut harusnya tidak untuk dipermasalahkan. Menurutnya, ia seharusnya bisa bebas dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Selain itu, ia menyoroti jika masa Maba ini sudah menguras biaya, dengan mencukur, bahkan dua kali seperti yang Ahsan lakukan, jelas memberatkan dirinya.
“Kita juga kan sudah dewasa gitu. Terus kita sebagai mahasiswa pastinya banyak pengeluaran. Jadi ya menurut saya hal itu kurang penting gitu ya,” ungkapnya.
Senasib dengan Ahsan, Maba Prodi Teknik Informatika, Endin—bukan nama sebenarnya—mengungkapkan, dirinya mengeluhkan terkait cukuran pendek yang ada pada prodi-nya tersebut. Pasalnya, cukuran pendek tersebut pun tidak rata di semua prodi, hanya beberapa prodi saja. “Sebenarnya dari fakultas itu sudah tidak wajib kan ya, tapi ini per prodi saja. Juga ketentuannya juga itu, satu sentimeter untuk samping kanan-kiri dan tiga sentimeter untuk bagian atas,” ungkap Endin, Kamis (27/8).
Endin pun menambahkan, terdapat kecemburuan dari Maba karena prodi lain sudah tidak wajib untuk cukur pendek. Tak sedikit juga Maba yang mengungkapkan keresahannya kepada pihak panitia, namun tidak mendapat respons.
“Sempat ada yang speak-up juga. Ketika ada pertemuan dan disediakan semacam menfess, lalu ada yang menulis dan bertanya terkait cukuran pendek. Panitia sempat membacanya, namun hanya diam dan tidak memberikan jawaban apa-apa,” ujarnya.
Sebelumnya, Institut telah berupaya untuk menghubungi Ketua Pelaksana PBAK FST 2026, Muhammad Berelvhy Akram Syahridan. Namun, sampai laporan ini terbit, tidak kunjung mendapat respon. Lalu, Institut pun telah mencoba untuk menghubungi Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FST, Arian Nathan Pricha Mushoddaq. Sama, tidak mendapatkan balasan.
Selain itu, Institut juga menghubungi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Khodijah Hulliyah. Serupa, sampai berita ini terbit, Institut tak kunjung mendapat jawaban.
Reporter: Naufal Fauzan
Editor: Rifki Kurniawan
