
Kopi Kamu Wijaya menghadirkan ruang inklusif dengan memberdayakan penyandang down syndrome sebagai pelayan dan barista.
Siang itu suasana terasa ramai sejak saya berangkat dari Stasiun Sudimara menuju Stasiun Tanah Abang pada Sabtu (28/2). Terlihat lalu-lalang manusia membawa kantong belanjaan, sementara terik matahari menyeringai di sepanjang jalan. Suasana berubah ketika saya berada di Moda Raya Terpadu (MRT) Dukuh Atas menuju Stasiun Blok M. Hujan tiba-tiba turun deras, membuat orang-orang yang semula berjalan santai mendadak berlarian mencari tempat berteduh.
Hujan mulai mereda ketika saya tiba di Stasiun MRT Blok M. Derasnya hujan berubah menjadi rintik-rintik yang nyaris tak terasa. Dari sana, saya melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online menuju Kopi Kamu Wijaya di Jakarta Selatan.
Sesampainya di depan kedai, saya segera melangkah masuk ke dalam kedai. Terdengar sambutan ramah dari seorang kasir. Di samping kasir, terlihat seorang pelayan mengucapkan “Selamat datang’ dengan senyum ramah. Sapaan itu terdengar sederhana, namun terasa tulus. Di sana saya sempat terdiam kagum ketika menyadari bahwa pelayan tersebut merupakan penyandang disabilitas intelektual down syndrome.
Saya memesan kopi gula aren—di daftar menu tertulis “kopi keren” seraya menyampaikan kepada kasir, bahwa saya telah memiliki janji dengan Kepala Staf. Mereka pun langsung meminta saya untuk menunggu. Pelayan kemudian menunjukkan tempat kosong di ruang samping kasir, dan saya pun duduk di sana.
Sambil menunggu, perhatian saya tertuju pada sejumlah lukisan hasil karya barista dan pelayan yang terpajang di dinding. Rasa penasaran yang besar kemudian menggerakkan saya untuk melihat detail setiap lukisannya, sembari menunggu Kepala Staf datang. Ada sekitar sepuluh lukisan yang dipajang, masing-masing menghadirkan ekspresi dan karakter yang berbeda.
Tidak lama kemudian, pesanan saya diantar oleh pelayan yang saya temui di awal. Ia meletakkan secangkir kopi di meja dengan hati-hati, disertai senyuman. Beberapa saat setelahnya, Kepala Staf Kopi Kamu, Uri Mabruri, menghampiri.
Kami mulai berbincang, Uri menceritakan bagaimana para karyawan lain termasuknya tidak menyangka Kopi Kamu mempekerjakan penyandang down syndrome . “Awalnya kaget saat diberitahu akan ada anak down syndrome, saya berpikir bagaimana cara mengajari mereka dan apakah mereka bisa mengikuti arahan saya. Akan tetapi nyatanya tidak sesulit itu mengajarkan mereka, asalkan kita sabar,” ucap Uri, Sabtu (28/2).
Menurut Uri, pendampingan terus dilakukan secara konsisten kepada setiap pekerja down syndrome. Meski demikian, ia menegaskan tidak ada hal khusus seperti perlakuan istimewa yang membedakan barista dan pelayan down syndrome. “Mereka sama dengan kita hanya perlu lebih perlahan, sebenarnya tidak ada bedanya dengan karyawan lainnya,” tambahnya.
Konsep inklusif yang diusung Kopi Kamu menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Salah satunya Ifa, pengunjung yang datang pada sore hari. Ia menilai keberanian kedai tersebut membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas sebagai langkah positif.
“Keren sih di era sekarang, tempat ini mau menerima mereka untuk bekerja, lalu ada pengalaman baru juga bagi kita yang datang,” ujar Ifa, Sabtu (28/2).
Ifa menceritakan kesannya saat disambut dengan pelayan Kopi Kamu ketika datang. Menurutnya hal itu memberikan kesan yang ikonis sejak pertama kali datang. “Saat datang rasa bersyukur ikut hadir. Sekaligus dapat merefleksikan diri kita juga karena adanya konsep yang ikonis di Kopi Kamu ini,” tambahnya.
Reporter: RAA
Editor: Anggita Rahma Dinasih
