
UIN Jakarta melepas 1.500 mahasiswa KKN di Auditorium Harun Nasution. KKN tahun ini bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk jaminan perlindungan, serta PSGA untuk perlindungan terhadap kekerasan gender agar mahasiswa lebih tenang dalam melaksanakan KKN.
Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta melangsungkan acara Pelepasan Mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN) bertajuk “KKN Berdampak untuk Pembangunan Kewilayahan Berkelanjutan: Sinergi Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Masyarakat Menuju SDGs”. Acara berlangsung di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Selasa (28/7) dengan diikuti oleh 1.500 mahasiswa.
Kegiatan itu dihadiri oleh Wakil Menteri (Wamen) Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza dan Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Transformasi Digital Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Okto Irianto.
Wamen Perindustrian, Faisol Riza berpesan kepada mahasiswa UIN Jakarta, mulai dari KKN sampai lulus sarjana biasanya banyak ketidakpastian di masa depan. “Maka, buatlah rencana yang matang dari sekarang,” ucapnya, Selasa (28/7).
Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala PPM, Ade Rina Farida mengungkapkan, terdapat beberapa perbedaan antara KKN tahun ini dengan tahun sebelumnya. KKN kali ini bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan untuk jaminan perlindungan, serta Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) untuk perlindungan terhadap kekerasan gender, agar mahasiswa lebih tenang dalam melaksanakan KKN.
Farida juga menuturkan, kelompok KKN tahun ini diberikan tema-tema spesifik sesuai tempat KKN. “Seperti KKN Pemberdayaan Zakat–Wakaf dikhususkan untuk Depok, KKN Desa Rukun bekerja sama dengan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, dan lainnya,” ucapnya.
Salah seorang peserta KKN yang mengikuti acara pelepasan, Ari Indrawan menyebut, dirinya cukup grogi menghadapi satu bulan ke depan meski sudah melakukan persiapan sejak sebelumnya. “Karena kita langsung terjun di masyarakat jadi semoga bisa lancar PDKT-nya agar nggak grogi pas di sana,” sebutnya, Selasa (28/7) .
Serupa dengan Ari, Zalfa Az Zahra mengungkapkan, dirinya merasa grogi karena ia dan teman-teman kelompoknya baru pertama kali menjalankan KKN, sehingga acuan kerjanya perlu matang sejak awal. Ia juga merasa cukup kesulitan ketika menyesuaikan antara program kerja dengan kebutuhan desa yang akan menjadi lokasi KKN. Meski begitu, Zalfa berharap program-program kelompoknya akan berkesan dan bermanfaat bagi masyarakat Rajeg, Kabupaten Tangerang—lokasi KKN-nya.
Reporter: Cindy Seviona Azahra dan Rahmadina Al Fathiyyah
Editor: Naufal Fauzan
