Temuan Mikroorganisme dalam Water Drinking Fountain

Pertumbuhan sejumlah mikroorganisme ditemukan dalam sampel air minum water drinking fountain sehingga memunculkan kekhawatiran mahasiswa terkait potensi risiko terhadap kesehatan saat dikonsumsi.


Irwansyah (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, melakukan pengujian untuk membandingkan sampel air keran dan air minum water drinking fountain sebagai bagian dari tugas praktikum pada Minggu (18/10). Setelah melalui proses inkubasi selama satu minggu, Irwansyah menemukan pertumbuhan sejumlah mikroorganisme dalam sampel air minum yang diambil dari mesin water drinking fountain yang berlokasi di Gedung Pusat Akademik UIN Jakarta.

“Dibuktikan bahwa banyak mikroorganisme yang berkembang di situ, namun kami belum bisa mengidentifikasi satu per satu jenisnya. Namun, sepertinya berbahaya karena itu (mikroorganisme) di dalam air minum,” ujar Irwansyah, Sabtu (31/10).

Dalam proses pengujian, Irwansyah menggunakan media Nutrient Agar (NA) sebagai media pertumbuhan mikroorganisme. Bahan media tersebut terlebih dahulu dilarutkan menggunakan akuades (air murni yang telah melalui proses penyulingan sehingga bebas dari mineral, garam, dan kotoran) sebelum digunakan dalam pengujian sampel.

Irwansyah mengaku terkejut dengan hasil pengamatan tersebut. Menurutnya, pihak UIN Jakarta perlu lebih memerhatikan proses pengolahan air dan mahasiswa perlu memperhatikan indikator pada fasilitas air minum sebelum mengonsumsinya.

Untuk menindaklanjuti temuan itu, Institut pun menghubungi Kepala Subbagian Tata Usaha UIN Jakarta, Abdul Halim. Halim mengaku sesekali mengonsumsi air dari fasilitas di area tersebut. Setelah mengetahui temuan itu, Halim tampak terkejut mengetahui bahwa sampel air yang menunjukkan pertumbuhan sejumlah mikroorganisme berasal dari water drinking fountain di Gedung Pusat Akademik. 

Kemudian, Halim menjelaskan bahwa UIN Jakarta bekerjasama dengan Niagara dalam pengelolaan water drinking fountain. Halim menyebut terdapat pembagian tugas antara pihak UIN Jakarta dan Niagara.

“UIN Jakarta bertugas menangani permasalahan terkait sumber air dan sumber listrik. Namun terkait pemeliharaan mesin, pengecekan berkala, dan kualitas air, penggantian filter atau yang berhubungan dengan mesin itu tugas teknisi vendor Niagara,” jelas Halim, Rabu (4/11).

Mengenai sumber air yang digunakan, Halim mengungkapkan bahwa air water fountain menggunakan air tanah yang melalui proses penyaringan menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Oleh karena itu, Halim berharap agar keluhan terkait air dan fasilitas lainnya disampaikan melalui situs Sistem Manajemen Aduan Sarana dan Prasarana Terpadu (SIMANTRA) untuk segera ditindaklanjuti. 

Terkait jadwal pengecekan berkala, Halim mengaku tidak mengetahui detail karena dikoordinasikan oleh pihak vendor Niagara. Institut telah menghubungi Yusuf sebagai teknisi vendor Niagara pada Senin (26/10). Namun, Yusuf menolak untuk memberikan keterangan dan menyerahkan seluruh wawancara kepada Abdul Halim.

Dosen Prodi Farmasi UIN Jakarta, Isra Janatiningrum menjelaskan bahwa pertumbuhan koloni mikroorganisme pada media Nutrient Agar (NA) belum dapat memastikan air tersebut berbahaya. Menurutnya, diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengidentifikasi jenis bakteri yang tumbuh. Isra mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 yang mensyaratkan air minum bebas dari bakteri Escherichia coli dan Total Coliform dalam setiap 100 mililiter sampel.

Meski begitu, Isra mengapresiasi temuan tersebut dan berharap dapat menjadi perhatian kampus untuk memastikan keamanan air water drinking fountain. Menurut Isra, penggunaan teknologi Reverse Osmosis (RO) tidak menjamin air sepenuhnya bebas dari kontaminasi karena bakteri masih dapat masuk melalui tangki, pipa, keran, atau nozzle. Oleh karena itu, pemeriksaan bakteri idealnya dilakukan minimal satu bulan sekali di laboratorium terakreditasi.

“Jika air tersebut terbukti tercemar oleh bakteri berbahaya, dampak kesehatan yang paling sering ditimbulkan antara lain diare, mual, hingga muntah. Dalam jangka panjang, konsumsi air yang terkontaminasi kuman berbahaya juga dikhawatirkan dapat mengganggu penyerapan gizi serta menurunkan daya tahan tubuh seseorang,” jelas Isra, Jumat (6/11).

Berkaitan dengan program green campus tentang membawa tumbler, Isra berharap kampus dapat menjamin keamanan air. Menurutnya, keberhasilan program tersebut juga bergantung pada kepercayaan mahasiswa terhadap air minum yang disediakan kampus.

Reporter: Siti Fatimah Azzahra 
Editor: Rifki Kurniawan

Previous post Merespons Krisis Iklim Melalui Kompetisi