Merespons Krisis Iklim Melalui Kompetisi

HMPS Pendidikan Matematika UIN Jakarta menggelar OPTIKA⁺ 26  yang mengusung tema kelestarian lingkungan. Kegiatan ini menjadi wadah bagi pelajar dari sekolah Islam dan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. 


Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta  menggelar Olimpiade Matematika dan Lomba Media Pembelajaran (OPTIKA⁺ 26) bertajuk “Jejak Hijau Dalam Angka: Transformasi Matematika Berbasis Nilai Keislaman untuk Kelestarian Lingkungan”. Kegiatan ini diadakan sejak 27 Juni 2026 dan ditutup pada 1 November 2026 di Kampus Pendidikan Profesi Guru (PPG) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang terletak di Bojongsari Baru, Kota Depok.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua kategori perlombaan, yakni Olimpiade Matematika dan Lomba Media Pembelajaran. Olimpiade Matematika diikuti oleh siswa-siswi tingkat Sekolah Dasar (SD) keislaman, Sekolah Menengah Pertama (SMP) keislaman, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) keislaman. Sementara itu, Lomba Media Pembelajaran diperuntukkan bagi mahasiswa perguruan tinggi dari program studi Pendidikan Matematika maupun Matematika.

Ketua Pelaksana, Maulana Riandy Nugraha, menjelaskan bahwa penyelenggaraan perlombaan tersebut bertujuan untuk menyediakan wadah kompetisi akademik bagi sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Menurutnya, kesempatan untuk berkompetisi di bidang akademik tidak hanya diperuntukkan bagi siswa sekolah umum, tetapi juga perlu diberikan kepada siswa sekolah Islam.

“Jadi, kami ingin mewadahi sekolah-sekolah Islam yang ada di Indonesia agar bisa bersaing di dunia akademik. Tidak hanya sekolah umum yang memiliki wadah untuk berkompetisi, tetapi sekolah Islam juga punya kesempatan yang sama,” ujar Maulana, Minggu (1/11).

Tema yang diusung dalam kegiatan ini berupa kelestarian lingkungan. Hal itu didasarkan pada keresahan terhadap kondisi lingkungan dan krisis iklim.  Serta, adanya kegiatan ini, juga untuk menunjukkan bahwa matematika tidak hanya berkaitan dengan angka dan perhitungan, tetapi juga dapat diterapkan untuk membantu menjawab berbagai persoalan, termasuk masalah lingkungan.

Hal tersebut turut diterapkan dalam penyusunan soal Olimpiade Matematika. Panitia mengintegrasikan konteks kelestarian lingkungan ke dalam soal-soal yang diujikan agar peserta dapat memahami keterkaitan antara ilmu matematika dan persoalan lingkungan di kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat lebih memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Serta, kesadaran tersebut tidak berhenti pada kegiatan perlombaan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, masyarakat, terutama siswa-siswi yang mengikuti olimpiade dan membaca soal-soal yang kami buat, bisa lebih sadar dan memahami bahwa kelestarian lingkungan perlu dijaga bersama. Sebab, dampaknya akan berpengaruh terhadap kehidupan kita semua,” jelasnya.

Selain meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, Olimpiade Matematika juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperoleh prestasi akademik. Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bogor, Faiq Sabiq Izzaturrahman, mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam lomba tersebut dapat menjadi tambahan prestasi untuk mendaftar ke perguruan tinggi melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

“Kalau dihitung-hitung bisa jadi tambahan prestasi untuk SNBP biar bisa tembus (kampus impian) gitu,” ucap Faiq (1/11).

Sementara itu, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 44 Jakarta, Azka, berharap keikutsertaannya dalam olimpiade tersebut dapat membantu mengembangkan minat dan bakatnya di bidang akademik. Ia juga berencana mengikuti kompetisi serupa ketika sudah duduk di bangku SMA.

“Semoga saya bisa lebih banyak dapat prestasi seperti ini dan tahun depan bisa mengikuti lagi di SMA,” tutup Azka (1/11) .

Reporter: Ananda Adriansyah
Editor: Anggita Rahma Dinasih

Previous post Menilik Tren Realfood Ala Gen Z