Menanti Jawaban di Depan Rektorat

Aliansi Mahasiswa UIN Jakarta menggelar aksi #BersihinUIN guna mendesak perbaikan fasilitas, transparansi anggaran, serta pengusutan tuntas atas dugaan korupsi mantan rektor kampus.


Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang terdiri dari sejumlah elemen mahasiswa seperti Koneksi UIN Jakarta, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta, Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Jakarta, serta DEMA dan SEMA Fakultas UIN Jakarta melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat UIN Jakarta pada Kamis (10/9). Aksi yang bertajuk #BersihinUIN tersebut dipicu oleh keresahan mahasiswa atas berbagai persoalan di kampus. 

Terdapat lima tuntutan yang dibawa mahasiswa, yaitu mendesak pihak Rektorat melakukan perbaikan fasilitas dan tata kelola kampus, mendesak Rektorat untuk mengusut tuntas dugaan tindak korupsi yang menyeret mantan Rektor UIN Jakarta, mendesak Rektorat melakukan klarifikasi atas tindakan premanisme dalam polemik pengamanan aset, usut tuntas dugaan pungutan uang parkir saat jam malam, serta menuntut transparansi Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk anggaran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Ketua DEMA UIN Jakarta, Ahmad Hafidz, menjelaskan, aksi yang dilakukan merupakan bentuk peringatan dan desakan pada Rektorat UIN Jakarta. “Sebetulnya kita banyak membawa hal-hal yang sudah menjadi tuntutan kita sejak lama, yaitu soal fasilitas dan tata kelola yang nggak pernah usai masalahnya. Bahkan sejak audiensi sebelumnya, sampai saat ini pun masih belum ada evaluasi konkret,” ucap Hafidz, Kamis (10/9).

Selain itu, Hafidz juga menyayangkan perihal ketidakhadiran Asep Saepudin Jahar selaku Rektor UIN Jakarta saat aksi dan meminta agar Rektorat melakukan klarifikasi atas polemik yang terjadi. “Per hari ini kabarnya Rektorat belum bisa hadir, kita agak menyesali saja kenapa sampai tidak hadir. Kenapa yang hadir cuma Wakil Rektor (Warek) 2 dan lain sebagainya. Kami minta Rektor untuk hadir. Jangan cuma diam saja, kita perlu ada penyampaian statement dan klarifikasi dari dia langsung, bukan cuma jajarannya saja,” tambahnya.

Kemudian, aksi berlanjut pada pertemuan mahasiswa dengan Warek 2 beserta jajarannya dengan tajuk Audiensi Transparansi Anggaran di aula diorama yang berada di bawah gedung auditorium Harun Nasution. Pertemuan tersebut membahas terkait persoalan internal dan eksternal UIN Jakarta. 

Ketua SEMA UIN Jakarta, Muhammad Ezra Suhaeri mengungkapkan terdapat benang merah antara kondisi fasilitas dan tata kelola keuangan UIN Jakarta dengan dugaan kasus korupsi mantan Rektor UIN Jakarta periode 2015-2019, Dede Rosyada. “Banyaknya fasilitas yang rusak karena mandeknya pihak Rektorat, juga KTM yang katanya bisa dengan mudah jika diatasi dengan 100 juta anggaran. Menurut saya ketika melihat semua persoalan tersebut, pada akhirnya semua tertuju pada dugaan kasus korupsi mantan Rektor UIN Jakarta yang belum ada tindak lanjut dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten,” ucap Ezra pada Kamis (10/9).

Ezra menambahkan, ia berharap agar Rektor UIN Jakarta mendengarkan suara mahasiswa dan mengusut tuntas kasus dugaan korupsi di lingkungan kampus. “Menurut saya pribadi, teruntuk Rektor tolonglah untuk turun dan dengarkan suara mahasiswa. Tolong usut tuntas kasus korupsi ini, jangan ragu untuk mengambil langkah, dan saya berharap semuanya clear sesuai tajuk aksi kita #BersihinUIN,” tambahnya.

Menanggapi tuntutan mahasiswa untuk mengusut tuntas terkait dugaan korupsi mantan rektor UIN Jakarta, pihak kuasa hukum UIN Jakarta, Alwanih menjelaskan bahwa UIN Jakarta masih dalam tahap pemeriksaan bukti di Kejati Banten.

“Kita dorong terus pihak Kejati Banten untuk terus bekerja secara profesional dan kami tidak dalam maksud mengintervensi pihak Kejaksaan karena kami yakin Kejaksaan Tinggi Banten sudah profesional dan punya kemandirian dalam mendalami terkait bukti-bukti. Jadi ada bukti-bukti yang mereka cari dari pihak penyelidik bahwa ada dugaan buat terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pejabat pada masa lalu,” jelas Alwanih  pada Kamis (10/9).

Reporter: Erlangga Pratama
Editor: Naufal Fauzan

Previous post Babak Baru Ribut-Ribut Aset