Kereta Syurga dan Serangkaian Upaya Memperolok Ekstremis Muslim

Kereta Syurga dan Serangkaian Upaya Memperolok Ekstremis Muslim

Read Time:9 Minute, 31 Second
* oleh Zehan Faturrahman

Kereta Syurga dan Serangkaian Upaya Memperolok Ekstremis Muslim

Hari masih 8 pagi, dan aula Gereja Protestan Zion, Kolombo, tengah hangat-hangatnya. Anak-anak dan remaja membentuk lingkaran. Termasuk Sarah Hepzibah (10) dan Sharon Stephen (12). Mereka bernyanyi dan berdoa. Melakukannya sambil khusyuk menggenggam lilin. Guru-guru tersenyum, berkeliling, memastikan lilin-lilin itu terus menyala. Tidak boleh ada harapan yang padam. Begitu inti sekolah minggu kali ini.

Beberapa puluh menit kemudian di pintu masuk, dua petugas keamanan bersitegang. Ada seorang pengunjung yang kelihatan tersesat. “Saya mau merekam kegiatan di dalam.” Kata Mohammed Azar ketika ia diminta menjelaskan tentang dua ransel besar yang ia bawa. Ramesh Raju dan Rasalingam Sasikumar, yang berjaga ketika itu tentu tidak begitu saja percaya. Apa lagi menimbang pakaian pria itu tidak selayaknya orang hendak beribadah, “Sebaiknya bapak minta izin dulu kepada pastur kami.” Pria itu bergeming.
Di saat yang sama, Rajeevkaran Vimalaretnam melongok percakapan itu. Ia sedang berjalan menuju ruang kebaktian untuk mengoperasikan perangkat pengeras suara. Ada sekitar 500 jemaah yang telah duduk di dalam. Menurutnya, pria yang memaksa masuk itu berpakaian seperti mau menonton pertandingan olahraga; hanya mengenakan kaus oblong dan topi bisbol. Pria itu terus melobi, tetapi Ramesh dan Rasalingam memintanya pergi.
Lalu sekitar jam 9, anak-anak sekolah Minggu beristirahat.  Mereka bergerombol ke luar, menyantap bekal di sekitar pintu masuk. Sementara Kaowsalya Shanthakumar, ibu dari Sarah dan Sharon sebentar lagi tiba untuk menjemput kedua anaknya. Melihat orang-orang berhamburan ke luar, ditambah Ramesh dan Rasalingam terus mencoba mengusirnya, Azar memutuskan untuk saat itu juga menekan tombol di sakunya. Ada dentuman singkat yang membuat tuli. Tempat itu seketika porak poranda. “Asap membumbung tinggi dan orang-orang panik kalang kabut.” Kenang Kaowsalya, ia tinggal seratus meter lagi dari Gereja ketika peristiwa itu terjadi. Ia terlambat menjemput kedua buah hatinya.
Di rumah sakit, ia sempat melihat dokter mencoba memulihkan degup jantung putrinya dengan pompaan dada. Tetapi tidak lama kemudian dokter mengatakan ia telah tiada.
“Putriku mengalami pendarahan hebat di kedua telinganya.” Kata Kaowsalya. Ada getir yang menggantung di matanya. “Meski begitu, ia tetap anak yang cantik dan manis.”
Sehari kemudian, jenazah putranya, Sharon, baru berhasil diidentifikasi. “Putraku benar-benar hancur. Kami bahkan hanya bisa mengenalinya lewat identifikasi gigi.” Peledakan di Gereja Protestan Zion adalah satu dari serangkaian tragedi di Minggu (21/04/2019) itu. Di waktu bersamaan, Gereja Santo Sebastian, Kuil Santo Anthony, Hotel Shangri-La, Hotel Kingsbury, dan Hotel Cinnamon juga luluh lantah oleh peristiwa kelam yang sama. 253 orang meregang nyawa. 
“Bila Ramesh dan Rasalingam tidak menahan pria itu, aku pasti sudah tewas,” kata Vimalaretnam yang ketika peristiwa terjadi tengah berada di dalam bersama 500 jemaah lainnya. “Dan yang menjadi korban di sini pasti lebih banyak lagi, bisa 200 sampai 300 orang.”
Hari itu Sri Lanka dihujani air mata, sementara di bawah atap aula Zion, tercecer lilin-lilin yang mati.
Kereta Syurga
 “Ana syahid bom jihad.” Kata seorang lelaki berpeci dengan mantap. “Ya awalnya agak sedikit ragu memang, antara iya tidak, iya atau tidak. Tapi akhirnya bismillah. Ya alhamdulillah, nyampe sini pas waktunya. Keretanya langsung berangkat.” “Subhanaullah. Anta syahid bom jihad?” Kata lelaki bersorban di sebelahnya dengan kagum, “Anta syahid, kafir-kafir mati sangit.”
Begitu sepenggal dialog dari film Kereta Syurga. Kedua karakternya dengan sumringah merayakan horor. Sementara keluarga korban yang ditinggalkan, seperti dalam kasus peledakan bom di Kolombo, Sri Lanka, bakal menanggung hidup penuh nelangsa. Di Indonesia, kengerian macam ini kerap terjadi. “Sepanjang tahun 2018, jumlah aksi (terorisme) meningkat 42 persen dibanding tahun 2017, yakni dari 12 kasus menjadi 17 kasus,” kata Kapolri Tito Karnavian dalam penyampaian Rilis Akhir Tahun Mabes Polri 2018 di Gedung Rupatama, Jakarta Selatan, pada Kamis 27 Desember lalu.
Masih kental di ingatan kita peristiwa bom Surabaya. Satu keluarga menjadi pelaku aksi; Sepasang kakak beradik berusia belasan mengantar maut di Gereja Santa Maria Tak Bercela, seorang ibu meledakan diri di GKI Diponegoro bersama dua anaknya yang masih balita, dan seorang ayah mengangkut bom dengan mobilnya lalu menabrakan diri di GPPS Sawahan. 28 orang meninggal dunia, termasuk keluarga itu. “Stigma mereka saat ini, bapak masuk surga, anak juga harus masuk,” kata Nasir Abbas, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah dalam penjelasannya mengenai gaya aksi baru pada tragedi ini.
Surga. Nampaknya menjadi ganjaran yang mereka inginkan dari merenggut nyawa orang lain. Apakah surga memang tempat yang dijanjikan untuk orang semengerikan ini? Itu yang coba diceritakan oleh Mahesa Desaga dalam film pendeknya Kereta Syurga.
Seorang ekstremis pembakar gereja dan seorang teroris peledak bom gereja bertemu di kehidupan setelah kematian. Mereka hanya berdua saja menaiki kereta sunyi yang berjalan menuju surga. “Ya memang jihad itu memberantas kafir. Kafir-kafir yang menyesatkan. Engga ada itu jihad yang apa..” Si ekstremis bersorban berpikir sejenak. “Jihad kok bekerja? Jihad kok belajar? Bukan jihad namanya. Jihad ya memberantas kafir.” “Mangkanya saya juga heran yang ada di kereta ini cuma kita berdua.” Timpa si teroris berpeci seraya mengamini, “Saudara-saudara kita ini sepertinya sedang kepanasan di neraka karena salah mengartikan jalan jihad.”
Tingkah mereka yang begitu yakin, menciptakan situasi komedi tersendiri. Sepanjang film mereka berbincang dan berseloroh soal surga dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang kaffah. Mereka menunjukan pemikiran-pemikiran ajaib yang menggelitik. “Turun dari kereta ini ada 72 bidadari menanti.” Jelas si ekstremis.
Mendengar itu, si teroris teman seperjalanannya nampak kebingungan, “72 ya?” “Iya.. 72.” Yakin si ekstremis.
Si teroris tiba-tiba kusut, “Kuat engga saya ini?” Terorisme adalah hal yang mengerikan dan menabur pilu. Tetapi Kereta Syurga berhasil membuat pelakunya terlihat konyol. Melalui dialognya yang cair dan jenaka, kita seperti diberi vaksin anti takut. Tertawakan saja mereka, begitu kurang lebih semangat yang bisa dirasakan. Kedua karakter di film ini diberi watak agamis tetapi penuh birahi. Mahesa bercerita, ia terinspirasi dari wawancara teroris Amrozi, yang sebelum dieksekusi mati mengatakan ia telah dinantikan 72 bidadari di surga. Ia menambahkan tingkah seperti ini juga terjadi di televisi nasional, “Ada seorang ustaz dalam sesi ceramahnya menceritakan soal pesta seks di surga.” Karakterisasi  yang kontras itu efektif memancing tawa.  “Dengan semangat perang badar. Allahuakbar!” Kata si ekstremis ketika ditanya kesanggupannya memuaskan bidadari-bidadari itu. Menonton film ini mengingatkan saya pada mantra Riddikulus, salah satu sihir di dunia Harry Potter untuk mengubah hal menyeramkan menjadi jenaka. Nampaknya Mahesa ingin memulihkan kita dari trauma. Film ini secara menyenangkan mengajak penontonnya untuk tidak lagi takut kepada teror. Boleh diakui, penulisan film ini cukup kuat. Bukan hanya matang meracik dialognya, tetapi juga penggunaan referensi dibaliknya. Misalnya ketika si teroris ragu membagi bidadarinya kepada si ekstremis. Ia diyakinkan, “Jangan khawatir, kan berbagi itu tidak akan mengurangi, justru nanti akan ditambah oleh Allah.” Ganjaran seperti itu memang disebutkan dalam Alquran, misalnya pada surat Saba’ ayat 39, “..Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Janji ketercukupan itu juga disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW seperti yang tercatat dalam hadis riwayat Muslim, “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” Tetapi konteksnya, kedua dalil itu ditujukan untuk menolong fakir miskin. Bukan untuk berbagi dalam memuaskan hawa nafsu.
Penyelewengan dalil seperti ini agaknya akrab kita temui belakangan. Orang-orang berperangai persis si ekstremis bermunculan di sekitar kita. “Ingat, 1 dan 3 nomor ganjil. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.” Kata Ustaz Alhabsyi pada masa pilkada DKI 2017 silam melalui akun Twitter miliknya. Padahal merujuk situs NU Online mengenai hadis itu, “Pertama, hal yang dimaksud tentang Allah menyukai bilangan yang ganjil adalah sehubungan dengan ibadah yang disyariatkan. Kedua, hadis tersebut diriwayatkan sebagai bagian dari anjuran untuk melakukan salat witir.” Witir sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya ganjil. Itu menjelaskan bahwa dalil tersebut tidak ada hubungannya dengan nomor kandidat politik. Tetapi tetap saja narasi model ini lumrah kita temukan bermunculan di tahun-tahun pemilu.
Tidak jarang politisasi agama itu menuai korban. Nenek Hindun misalnya, jenazahnya dipersulit untuk dimakamkan sebab ia memilih kandidat politik yang masyarakat lingkungannya anggap sebagai musuh agama. “Kami ini semua janda, empat bersaudara perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang kaya gitu, kami benar-benar dizalimi, apalagi ngurus pemakaman orangtua kami saja susah.” Ujar Neneng, putri bungsi nenek Hindun. Ia juga mengaku, anaknya yang masih bersekolah di tingkat playgroup kerap diolok-olok sebagai anak keluarga kafir, “Sampai dikirim chat dan foto yang ngolok-ngolok di grup WhatsApp.” Maka melalui dialog itu, Kereta Syurga seperti hendak menyentil kelakuan para penunggang agama. Sekaligus menjadi refleksi bahwa penyelewengan dalil agama itu memang terjadi dan begitu memuakan. Selain itu, penyampaian menarik lainnya dari film ini terletak dari segi teknis. Mahesa menggunakan dua jenis kelancipan (aspect ratio) untuk membingkai filmnya, yaitu kelancipan 4:3 yang sempit dan 16:9 yang luas. Sepanjang adegan berbincang di kereta, tokoh ekstremis dan teroris membicarakan keyakinannya di dalam bingkai kelancipan sempit. Lalu ketika duet ini tiba di surga, mereka ditampilkan dalam kelancipan luas. Menurut sutradara muda ini, kelancipan sempit dipakai untuk melambangkan dangkalnya pemikiran. Sementara kelancipan luas digunakan untuk menampung betapa lapangnya penafsiran akan surga. Lebih jauh lagi tentang megahnya kasih sayang Allah. Tiga perempat film Kereta Syurga berisi dialog panjang di atas kereta. Dialog itu dituturkan tanpa henti (one-shot), tetapi Bahauddin dan Wahyu Arianto mampu memerankannya dengan baik dan mengalir. “Mereka memang lulusan pesantren, sudah biasa dengan istilah-istilah ke-Islaman seperti itu,” jelas Mahesa. Tidak luput, penokohan karakternya yang agamis tetapi berbirahi tinggi memberikan sebuah efek samping, film ini jadi sarat dialog maskulin dan objektifikasi perempuan. Misalnya ketika si ekstremis membayangkan akan seperti apa bidadari yang ia dapat, “Kaya penyanyi dangdut, ini melonnya kan..” Kata si ekstremis sembari blingsatan memeragakan dua buah melon berukuran jumbo tengah bergoyang-goyang di depan dadanya. “Itu nikmat, minta tuh yang kaya gitu.” “Saya yang ramping-ramping aja lah..” Sanggah si teroris. “Loh, kok yang ramping-ramping, itu kufur nikmat namanya.” Si ekstremis kelihatan kesal. “Ukuran adalah nikmat dari Allah, yang diberikan kepada perempuan, untuk kita nikmati sebagai kaum lelaki.”
Dialog itu sekilas terdengar menjijikan. Tetapi realitas sosial menunjukan pemikiran macam itu memang ada. “Ndak bisa, kalau hasrat sudah mau ya mesti.” Ujar Tengku Zulkarnain, seorang Wasekjen MUI, ketika mengomentari RUU Penghapusan Kekerasan Seksual pada program iNews Sore di iNews TV. “Si istrinya diam saja, tidur saja, engga sakit kok.” “Itu namanya memaksakan kehendak.” Sanggah Jumisih, aktivis KPIB (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) sekaligus anggota komite International Women’s Day Indonesia. Ia mendukung penuh RUU P-KS. RUU itu salah satunya memastikan hubungan suami istri tidak boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa. Tetapi Wasekjen MUI itu berkilah, “Kalau cuma memaksakan hasratnya malam itu, kekerasannya di mana?” Karakter si ekstremis yang berlibido tinggi di film ini mungkin bisa memancing komedi menggelikan, tetapi di dunia nyata pemikiran macam ini tak ubahnya horor. Meski demikian, memilih dialog seperti itu adalah upaya mengolok-olok yang jitu. Film ini secara keseluruhan mampu menjadi komedi satire yang baik. Ia membuat tertawa dan setelahnya membuat berpikir. Akhir dari film ini juga poin penting yang patut diapresiasi. Dengan memilih epilog terbuka (open ending), penonton jadi diberi ruang untuk menafsirkan ganjaran apa yang sedang diterima oleh kedua pelaku teror. Yang pasti kita sama-sama puas dan tertawa melihat reaksi terkejut sekaligus terpukul di wajah mereka.
Dalam 12 menit 59 detik durasinya, Kereta Syurga sukses menunjukan betapa jahili-nya orang-orang macam ini. Orang-orang yang lebih patut ditertawakan ketimbang ditakuti.
Menertawakan teror memang tidak dapat mengurangi jumlah aksinya. Tetapi mungkin bisa sedikit memulihkan nelangsa di hati. Mengutip Charlie Chaplin, “Hidup adalah tragedi bila melihatnya dengan sempit, tetapi dalam kelapangan, ia adalah komedi. Pada akhirnya, segalanya menjadi lelucon.” Maka setidaknya dengan tertawa, kita bisa melanjutkan hidup. Sedikitnya dengan mencoba hidup, kita jadi mau berharap. Sebab lilin-lilin itu tidak boleh mati.
*Mahasiswa Jurusan KPI, FIDKOM

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Rekontruksi Identitas Gender Sejak Dini Previous post Rekontruksi Identitas Gender Sejak Dini
Wisuda, Momen Haru Mencapai Prestasi Next post Wisuda, Momen Haru Mencapai Prestasi