Rekontruksi Identitas Gender Sejak Dini

Rekontruksi Identitas Gender Sejak Dini

Read Time:2 Minute, 57 Second
Rekontruksi Identitas Gender Sejak Dini
*Oleh Mucharom Syifa
Berbicara mengenai peristiwa sosial, seperti halnya peristiwa kelahiran seorang bayi, hal pertama yang biasanya ditanyakan oleh orang tua saat kelahiran anaknya adalah apakah anaknya itu “laki-laki” ataukah “perempuan”. Padahal, akibat dari pertanyaan tersebut membawa dampak yang sangat penting, yakni masyarakat membedakan antara laki-laki dan perempuan. Melihat awal pembicaraan tersebut, dari sini kita mengetahui bahwa pembagian peran berdasarkan identitas gender sudah terkontruksi sejak kelahiran seseorang bayi ke dunia.
Adanya fenomena perempuan yang terkungkung dalam masyarakat, adalah hasil kontruksi masyarakat pratiarkat bahwa tugas perempuan hanyalah pada wilayah domestik saja. Sehingga menciptakan hubungan yang terdominasi dan subordinasi. Hal ini menghasilkan hubungan laki-laki dan perempuan memiliki garis strutural hierarkis, yaitu menjadikan laki-laki memiliki kedudukan yang dominan dibandingkan perempuan. 
Fenomena ini sebenarnya menimbulkan permasalahan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan ketidakadilan gender. Hal ini pulalah yang  menciptakan identitas perempuan adalah makhluk nomor dua dimana perempuan sebagai kelompok masyarakat yang rentan dan lemah, menjadikan perempuan pasrah dan dianggap selalu salah. 
Pandangan yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat, diantaranya tampak pada pembagian peran domestik bagi perempuan dan publik bagi laki-laki. Pembagian ini sering dikaitkan dengan kondisi biologis perempuan. Sebagai seorang yang mengandung dan melahirkan, perempuan dipola bertugas di rumah, yang berkaitan dengan pemeliharaan anak dan wilayah kerja seputar sumur,dapur dan kasur. Adapun laki-laki dipola bertugas di sektor publik.
Ditambah lagi, pandangan masyarakat muslim terhadap ideologi keluarga muslim tradisional, yang hanya mewajibkan kaum wanita untuk menjalankan monogami dan mengintrol insting seksual. Sedangkan pria tidak menerima pembatasan seperti itu. mereka dapat mempunyai pasangan sebanyak yang mereka suka. Disamping empat istri yang sah, setiap pria mempunyai hak untuk menyimpan selir sebanyak yang mampu dibelinya. Lagi pula, penolakan memungkinkannya untuk mengganti pasangan seksual sesering yang didinginkannya.
Tafsir agama pulalah yang menerjemahkan perempuan sebagai ladang tempat laki-laki menumpakhkan hasrat seksualnya untuk kemudian beranak-pinak. Bahkan karena begitu kuatnya hak suami pada istri, seorang suami “dibenarkan” melakukan pemukulan kepada istri tatkala istri “dicurigai” hendak melakukan pembangkangan berupa penolakan untuk melakukan hubungan seks.
Ketika mendiskusikan posisi perempuan dalam realitas sosial, ekonomi, politik, dan agama yang kompleks ini, kita harus menekankan bahwa kita sedang berhubungan dengan fenomena masyarakat perkotaan (Urban Phenomenon).
Bagiamanapun juga, gambaran tentang seorang perjaka yang gemeteran akibat kesucian dan ketidaktahuan pada malam perkawinannya, bagi laki-laki merupakan puncak keanehan. Namun inilah yang ingin dipaksakan pada laki-laki. Itulah tragedi terbesar dari pria patriarkat, statusnya berada dalam kontradiksi-kontradiksi skizofrenik yang tidak rasional, dan hidup dengan makhluk yang telah dinyatakan sejak awal sebagai musuhnya-wanita dengan kebisuannya, menghanyutkan ke samudra kebohongan dan rawa-rawa manipulasi yang menjijikikan.
Dalam istilah psikopatologi, ini dikenal dengan skizofrenia, yaitu suatu kontradiksi yang benar-benar menyeluruh, yang mencangkup segalanya sehingga tdak ada individu pria maupun masyarakat yang dapat menerimanya sebagai sesuatu yang sah tanpa menghancurkan diri mereka sendiri.
Melihat adanya sebuah perbedaan peran laki-laki dan perempuan, Lalu apakah yang akan terjadi jika seorang anak yang secara biologis laki-laki dibesarkan sebagai perempuan? Jika gender ditentukan oleh faktor-faktor biologis, logisnya, tidak mungkin menyosialisasikan  seorang anak ke dalam peran yang “salah”. Akan tetapi, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Money dkk. Mengindikasikan bahwa anak dapat dibesarkan sebagai anggota dari jenis kelamin yang berbeda. Padahal anak di bawah usia tiga tahum atau empat tahun sulit disosialisasikan ke dalam gender yang berbeda. Oleh karena itu, Money menyimpulkan bahwa manusia adalah psychosexually neuter at birth dan bahwa gender tidak tergantung pada jenis kelamin secara biologis. Itu berarti steorotip antara laki-laki dan perempuan menghasilkan pembagian ketidakadilan peran yang berasal dari budaya patriarki.
*Mahasiswa IAIN Pekalongan

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Bersama Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax” Previous post Bersama Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”
Kereta Syurga dan Serangkaian Upaya Memperolok Ekstremis Muslim Next post Kereta Syurga dan Serangkaian Upaya Memperolok Ekstremis Muslim