Keripik Renyah untuk Debat Kandidat

Keripik Renyah untuk Debat Kandidat

Read Time:4 Minute, 58 Second

Oleh: Saba Revolusi*

Keripik Renyah untuk Debat Kandidat


Perguliran tumpu kepemimpinan adalah salah satu indikator penting akan sehatnya demokrasi bangsa. Demokrasi yang sehat selalu memberikan ruang dan kesempatan yang luas kepada putra-putri tanah air untuk berkontestasi mengabdi dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam memimpin dan membangun bangsa. Seperti itulah pemahaman sederhana saya akan pesan dan tujuan dari dilaksanakannya Pesta Demokrasi yang telah menjadi ritus politik di negara kita ini.

Dalam rangka merawat demokrasi bangsa, tahun 2019 ini adalah momentum politik yang cukup hangat bagi seluruh elemen masyarakat untuk melibatkan diri pada Pesta Demokrasi. Disamping Pilpres dan Pileg, khususnya bagi saya dan seluruh mahasiswa UIN Jakarta, tahun inipun adalah momentum politik yang sangat menarik dalam menghadapi Hajat Besar Pemilihan Umum Mahasiswa Raya (Pemira) UIN Jakarta 19 Maret mendatang.

Serangkaian persiapan terus digencarkan oleh Komisi Pemilihan Umum UIN Jakarta dalam menyambut hajat besar tersebut. Dari sejak tahap pemberkasan dan verifikasi perangkat administrasi pencalonan, sampai kepada ritual kampanye dan debat para calon kandidat. Kendatipun dalam perjalanannya mengalami kericuhan dan gesekan-gesekan panas, namun pada akhirnya semua pihak menemukan titik legowo.

Selaku mahasiswa UIN Jakarta, saya ingin mencoba ikut berpartisipasi menyambut Pesta Demokrasi ini. Saya cukup tertarik dengan digelarnya Debat Kandidat Calon Ketua dan Wakil Ketua DEMA UIN Jakarta tertanggal 15 Maret di Hall Student Center kemarin. Saya coba ikuti dan pelajari dari awal sampai acara tersebut berakhir, meskipun memang tidak semua hal dapat saya tangkap dengan baik akibat keriuhan yang terjadi. Sebagai mahasiswa yang selalu belajar menjadi demokratis, ada beberapa catatan kecil yang ingin saya sampaikan sebagai bentuk suara aspirasi.

Dalam sesi pemaparan Visi-Misi pada acara debat kemarin, pasangan Hudori-Hamdi (Kubu 01) menawarkan visi “Menjadikan Dema Universitas Media Aspirasi, Inspirasi, dan Berkarya Mahasiswa UIN Jakarta.”

Hal ini sangat menarik perhatian saya, pasalnya Kubu 01 menyampaikan Visinya berangkat dari permasalahan yang analitis. Namun bagi saya, titik permasalahan yang dijadikan landasan pembangunan Visi mereka adalah titik permasalahan yang terbilang klasik. Seperti tersendatnya birokrasi dan ekslusifitas peran DEMA-U yang melatarbelakangi mereka menyelipkan terma Aspirasi dalam Visinya, sepanjang keikutsertaan saya dalam debat kandidat di kampus ini,  masalah tersebut terus saja hadir dalam gagasan para paslon kandidat.

Adapula dengan terma Inspirasi dan berkarya yang tercantum, terma ini adalah diksi yang menurut saya bernilai pasif, sebab Visi tersebut dibangun dengan kalimat Menjadikan Dema-U (sebagai) Media, bukan sebagai Pelopor.

Kendatipun saya juga cukup tertarik ketika mendengar kalimat Digitalisasi Kampus dan kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 muncul, namun setelah saya pelajari penjelasan Kubu 01 lebih jauh, saya berasumsi bahwa Kubu 01 tidak menganggap Revolusi Industri 4.0 ini sebagai permasalahan kompleks yang perlu dikaji secara masif dan lalu diejawantahkan ke dalam setiap perangkat pembangunan SDM mahasiswa dan kampus. Tetapi dari penjelasannya, Kubu 01 lebih hanya menangkap semangat digitalnya saja, yang kemudian coba digunakan sebagai sarana implementasi program. Hal ini saya asumsikan sebab Kubu 01 tidak mencantumkan wacana besar tersebut dalam Visinya.

Beralih ke pasangan Sultan-Ari (Kubu 02) yang menawarkan Visi “Terwujudnya DEMA UIN sebagai Organisasi yang Berdemokrasi, Intelek, dan Berkarakter Islami”. Visi dari Kubu 02 inipun cukup menarik untuk di kupas. Pertama dari segi bahasa, Visi tersebut menempatkan DEMA-U sebagai objek sasaran pembangunan, bukan sebagai subjek. Memang di dalam terma Berdemokrasiseluruh mahasiswa dapat terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung, namun tidak sama halnya dalam diksi Intelek dan Berkarakter Islami. Mengapa demikian, sebab kalimat yang digunakan dalam Visi tersebut ialah “Terwujudnya DEMA UIN” bukan ”Terwujudnya Mahasiswa UIN”. Terlepas dari siapa atau apa yang keliru, saya yakin objek sasaran yang dimaksud dari Visi tersebut adalah Mahasiswa UIN Jakarta secara umum.

Kemudian yang kedua dari segi substansi, terma Berdemokrasi memang secara baik dijelaskan dengan pemaparan masalah yang cukup kongkrit, tetapi pada terma Intelek dan Berkarakter, saya tidak mendapat penjelasan yang mendalam. Padahal justru, saya sangat- menunggu-nunggu penjelasan tentang latar belakang masalah dari munculnya dua terma tersebut. Bahkan saya selaku mahasiswa akan sangat tercengang manakala dihadirkan juga data yang kongkrit perihal permasalahan  intelektual Mahasiswa UIN Jakarta, sampai-sampai perlu di jadikan Visi. Sebab hal ini akan membukakan mata kita semua selaku mahasiswa yang semestinya jauh dari degradasi Intelektual.

Terlepas dari catatan kecil saya ini, banyak sekali hal yang harus saya apresiasi dan saya harapkan dapat terimplementasi dari Visi-Misi kedua kandidat pasangan calon. Baik Kubu 01 maupun Kubu 02, secara mesra membawa gagasan yang cukup senada, seperti advokasi dan pengentasan masalah-masalah sosial-ekonomi mahasiswa yang mengalami ketersendatan dalam proses kuliahnya, mendobrak wajah dan wijhah DEMA-U yang eksklusif dan menjadikannya wadah yang inklusif, pengintegrasian forum-forum kajian kecil di setiap lokal Fakultas maupun Jurusan menjadi forum besar sekup Universitas, dan lain sebagainya. Tetapi dari itu semua, secara umum saya melihat bahwa Visi-Misi yang ditawarkan oleh kedua paslon kandidat, mayor ke arah pembenahan dan minor ke arah pembangunan.

Ada juga yang masih janggal dalam benak saya, yang memang mesti diberikan penjelasan lebih lanjut, yakni pencantuman terma Islami. Pada Kubu 01 terdapat terma Islami dalam salah satu Misinya yaitu UIN Islami, begitupun pada Kubu 02 diksi tersebut bahkan terdapat dalam Visinya yaitu Berkarakter Islami. Hal ini membuat saya heran, sebagai mahasiswa muslim dan kuliah di kampus Islam, mengapa masih saja ada label Islami yang mesti dibangun dalam Visi-Misi masing-masing paslon kandidat. Seberapun saya sadari, pengamalan nilai-nilai ke-Islaman masih cukup bias di kalangan mahasiswa UIN Jakarta, tapi alangkah hebatnya manakalah kedua paslon kandidat mampu menawarkan dan memaparkan gagasan Islami-nya dengan hasil kajian, analisa masalah, dan data yang kongkrit, sehingga menjadi apriori untuk dicantumkan dalam Visi-Misi dan mampu menumbuhkan kesadaran keberislaman seluruh elemen yang bernaung  di UIN Jakarta.

Tidak hanya kepada paslon kandidat, saya pun punya catatan kecil untuk KPU UIN Jakarta, khususnya dalam penyelenggaraan debat kandidat kemarin. Pertama terkait dengan waktu, kita memang sama-sama telah menyadari bahwa bangsa kita memiliki permasalahan dalam manajerial waktu. Beberapa hari sebelum dan sampai pada hari pelaksanaan debat kandidat berlangsung, akun resmi Instagram KPU UIN Jakarta telah memposting pengumuman debat kandidat sebanyak empat postingan. Disana tertulis dan diingatkan bahwa acara akan berlangsung pukul 14.00 WIB.

*Mahasiswa Perbandingan Madzhab UIN Jakarta

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Hati Dan Pembangunan Sosial Previous post Hati Dan Pembangunan Sosial
Upaya Rebut Eksistensi Next post Upaya Rebut Eksistensi