Nyalakan Api Literasi!

Nyalakan Api Literasi!

Read Time:3 Minute, 56 Second
Nyalakan Api Literasi!
Oleh : Ajen Jaenudin 
      Selamat datang mahasiswa baru, di kampus biru pembaharu, perubahan warna biru pada almetmu; dari gelap menuju terang, petanda sinyal-sinyal perubahan UIN Jakarta harus disegerakan. Segenep ide/gagasan, narasi dan karya mari kita dimunculkan. Nyalakan api perubahan; yang biru menyala dan merah membara, di kampus tercinta UIN Jakarta. Api perubahan itu penulis namai ‘Api Literasi’. Api adalah simbol semangat sedangkan literasi adalah kemampuan menulis, Api Literasi maksudnya adalah semangat yang menggebu-gebu untuk melakukan perubahan yang signifikan lewat tulisan.
            Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreatifitas ditimbang-timbang, hal ini diungkapkan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Menulis memicu lahirnya pergerakan dan pencerahan yang menyebarkan inspirasi ke seluruh dunia, inilah alasannya mengapa kita perlu menghidupkan Api Literasi guna untuk membawa perubahan, memicu pergerakan dan menginspirasi banyak orang.
            Dalam kesempatan acara Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan salah satu tv suwasta, Anies Baswedan mengungkapkan perubahan yang signifikan akan terjadi bila ide/gagasan, narasi dan karya tersusun dengan rapi, hal yang paling mendasar untuk mendapatkan itu semua adalah mengamati, berpikir dan mulai menulis narasi. Perubahan terjadi dari suatu hal yang kecil dan mendasar kepada yang lebih besar dan mengakar. Pada kesempatan kali ini penulis mengajak kepada mahasiswa baru untuk menghidupkan api literasi dalam bidang kebersihan, kerapihan, dan keamanan. Menggubah UIN Jakarta lewat karya (berupa tulisan: baik essay, opini, surat menyurat atau yang lainnya).
            Mengapa UIN Jakarta mesti digubah? UIN Jakarta seperti bunga yang indah di mata dunia dan di mata masyarakat Indonesia. Predikat terbaik pun acapkali diraih olehnya, bahkan UIN Jakarta dinobatkan sebagai kampus terbaik nomor satu di Indonesia. Namun dibalik keindahannya, Bunga tersebut tidak dirawat dengan baik, sehingga kami (mewakili mahasiswa lama) merasa malu menjadi mahasiswa UIN Jakarta. Bagaimana tidak? Di kampus nomor satu tersebut, kamar mandi di Mesjid Student Centernya masih semrawut, pintu-pintu kamar mandi terbuka lebar namun tidak bisa ditutup, belum lagi tempat pipis yang selalu tiris. 
Cobalah sesekali bersafari pula ke jamban-jamban fakultas, di sana ada noda yang membakas tanpa pernah tau kapan masalah kebersihan ini akan tuntas. Belum lagi masalah kerapihan, tata kelola taman yang semrawut, dengan bangku-bangku dibawahnya yang retak tak beratap, bila hujan kehujanan bila panas kepanasan. Dan masalah keamananan yang kerapkali menyita perhatian. Berita kehilangan laptop di musholla-musholla fakultas belum juga bisa diretas, berita kehilangan sepeda motor masih menjadi teror dan penanganan kasusnya bisa dibilang molor sehingga kisah ini menjadi horor bagi mahasiswa yang membawa motor, sistem keamanan sangat rentan; karcis parkir UIN Jakarta hanya sekedar pencet tombol untuk masuk sedangkan untuk keluar bisa bebas leluasa, tanpa diperiksa dulu stnk dan kelengkapannya.
            Masalah keamanan ini utamanya memang harus segera diperbaiki sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, termasuk masalah keamanan adalah lintasan penyebrangan antara UIN Jakarta kampus satu dengan UIN Jakarta kampus dua, antara pintu keluar dengan masjid Fathullah, setiap kali melintasi jalur tersebut hati kami dag-dig-dug memberhentikan kendaraan yang ada. Kadang beberapa kendaraan terus melaju tanpa mengiraukan lambain tangan kami. Mengapa tidak jua dibuatkan jembatan penyebrangan? Agar kami merasa tenang ketika menyebrang dan tidak menyebabkan kemacetan, ini bukan sekedar efisiensi penyebrangan, lebih dari itu adalah soal keselamatan jutaan manusia saat menyebrang, haruskah nyawa yang jadi taruhan?
            Aku mendengar keluh kesah supir bus antar jemput mahasiswa, yang mengantarkanku ketika menjemput peserta lomba Olimpiade Al-Quran Se-Indonesia. Dia hanya ingin busnya diganti dengan yang baru supaya nama baik UIN Jakarta tetap terjaga. Dia berkata ‘Bus tua ini tak jua diganti, kadang saya malu membawa mahasiswa dengan bus tua yang hanya menyala kipas angin separuhnya saja, sedangkan separuhnya lagi tak berfungsi seperti semestinya. Ini kipas angin bukan Ac. Saya merasa bus ini sudah tidak layak untuk mengangkut mahasiswa UIN Jakarta, sudah seharusnya bus ini dimusiumkan dan diganti dengan yang layak sebagaimana semestinya. Saya berharap setelah adik turun dari bus ini, adik segera menulis dan mengajukan bus baru kepada para petinggi. Tulisan mahasiwa sangat berarti bagi kami agar bus baru bisa terealisasi.” Ini juga soal keamanan. Keprihatinan dari curahan hati seorang bapak supir bus, yang menggerakkan saya menulis opini ‘Api Literasi’. Mari kita hidupkan. Mari kita nyalakan. Sebagai mahasiswa agent of change. Mari menulis untuk perubahan. Lewat tulisan kita goreskan peradaban.
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir 2016

Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Bejibun Keabsurdan Ucapan Selamat Datang di UIN Jakarta Previous post Bejibun Keabsurdan Ucapan Selamat Datang di UIN Jakarta
INSTITUT NEWSLETTER PBAK 2019 Next post INSTITUT NEWSLETTER PBAK 2019