Memaknai Moderasi Melalui PBAK

Memaknai Moderasi Melalui PBAK

Read Time:2 Minute, 23 Second

Memaknai Moderasi Melalui PBAK

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Kegiatan berlangsung selama empat hari mulai tanggal 26-29 Agustus 2019. Dengan mengusung tema “Moderasi dalam Beragama”, PBAK diikuti oleh sebanyak 6437 mahasiswa baru yang berasal dari 12 fakultas dan 56 program studi.

Tema moderasi beragama yang diusung dalam PBAK tahun 2019 ini dipilih dengan tujuan untuk memperkenalan nilai-nilai moderasi kepada mahasiswa baru. Menurut Rektor UIN Jakarta Amany Burhanuddin Umar Lubis, mahasiswa sebagai intelektual harus bersifat terbuka dan modern, contohnya  di bidang pengajaran.

Amany pun mengatakan pandangan-pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan perlu diajarkan guna memberikan paradigma baru bagi mahasiswa. Hal tersebutlah yang dapat mengarahkan mahasiswa untuk mengembangkan ilmu yang didapatkan dan dapat menjadi pembaharu di bidang pendidikan islam.

Baginya moderasi beragama berarti antar umat agama dapat saling mengerti ajaran agamanya masing-masing dan dapat bertoleransi apabila terdapat perbedaan. Jikalau kesemuanya itu sudah terwujud maka kehidupan umat islam akan mengarah pada kedamaian. “Gesekan dalam bidang agama dapat terhindari,” ujar Amany pada Senin (26/08).

Dikutip dari tirto.idberdasarkan riset dari Setara Institut, UIN Jakarta masuk ke dalam salah satu kampus yang terpapar radikalisme dan menempati peringkat kedua. Direktur Riset Setara Institute Halili mengatakan bahwa arus radikalisme yang berada di dalam kampus berasal dari kelompok keagamaan ekslusif.

Sementara itu, berdasarkan penelitian dari Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) mengatakan bahwa pandangan fundamentalis di Institut Agama Islam Negeri tumbuh subur sejak berganti nama menjadi UIN. Direktur CSRC UIN Jakarta Idris Hemay mengatakan bahwa sebagian mahasiswa UIN Jakarta rentan terhadap fundamentalisme dan radikalisme.

Oleh sebab itu, PBAK tahun ini juga bertujuan untuk menciptakan mahasiswa yang akademis, kritis, dan inovatif dalam mengamalkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Di sisi lain, dengan adanya PBAK diharapkan mahasiswa baru dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air serta memiliki kepribadian yang kuat. Sehingga mahasiswa dapat menjadi sosok yang rasional dan agamis.

Amany juga berharap agar mahasiswa baru bisa mempelajari semua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan implementasi ajaran islam yang modern. Namun, tidak bertolak belakang terhadap tradisi dan budaya Indonesia. Selain itu, mahasiswa baru juga diharapkan dapat saling menghormati satu sama lain. “Kita harus memperkokoh toleransi dan rasa hormat dengan orang yang berbeda dengan kita,”  tegasnya pada Senin (26/08).

Lebih lanjut, ia mengatakan jika ajaran mengenai moderasi beragama harus diterapkan di UIN Jakarta. Sebab moderasi beragama sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 oleh Kementrian Agama. “Moderasi beragama menjadi asas program pembangunan,” ujarnya saat ditemui di Ruang Rektorat, Senin (26/08).

Pada PBAK kali ini hadir pula Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil. Dalam kesempatan tersebut Said Aqil memaparkan materi tentang moderasi dalam beragama yang diselenggarakan di Auditorium Harun Nasution. Dirinya berpesan bahwa idealnya Quran harus dipahami dengan akal. “Gabungan dari Quran, hadis, manusia dan akal lahir lah prinsip-prinsip moderasi dalam bersyariat,” katanya pada Kamis, (28/08).

FFM

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Melawan Sensualitas dalam Kampus Previous post Melawan Sensualitas dalam Kampus
Nazihah: Semangat Gigih Raih Prestasi Next post Nazihah: Semangat Gigih Raih Prestasi