Menilik Kesiapan UIN Jakarta dalam Akreditasi Internasional

Menilik Kesiapan UIN Jakarta dalam Akreditasi Internasional

Read Time:6 Minute, 32 Second
Menilik Kesiapan UIN Jakarta dalam Akreditasi Internasional

Beberapa prodi sedang memproses akreditasi internasional sehingga dituntut meningkatkan kualitas SDM, kurikulum, dan infrastruktur. Kesiapan UIN Jakarta menjadi sorotan utama.


Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sedang memproses akreditasi internasional untuk enam puluh Program Studi (Prodi). Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Jakarta menggandeng dua lembaga akreditasi asal Jerman, yakni The Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute (ACQUIN) dan Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN). Perbedaan kedua lembaga ada pada rumpun keilmuannya, ACQUIN mengakreditasi prodi dalam rumpun sosial, humaniora, dan keagamaan, sedangkan ASIIN untuk prodi rumpun sains dan teknologi.

Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie menjelaskan, upaya sertifikasi internasional prodi sudah dimulai sejak Rektor Dede Rosyada menjabat di UIN Jakarta. Kala itu, proses akreditasi beberapa prodi dilakukan melalui ASEAN University Network Quality Assurance (AUN QA). Upaya sertifikasi internasional kembali dicanangkan pada akhir masa jabatan Rektor Amany Lubis melalui lembaga ACQUIN dan ASIIN. “Pendaftaran dilakukan ketika akhir kepemimpinan Rektor Amany, proses selanjutnya dilakukan hingga saat ini,” tutur Tholabi, Jumat (29/9). 

Kepala Pusat Audit dan Mutu Akreditasi LPM UIN Jakarta, Jejen Jaenuddin menerangkan, akreditasi internasional bertujuan untuk mendapatkan rekognisi global dan mendorong kinerja prodi maupun universitas. “Mereka (ACQUIN dan ASIIN) punya alat ukur yang menurut kita bagus untuk mengangkat kualitas substansi akademik UIN Jakarta,” tutur Jejen, Rabu (27/9).

Jika suatu prodi mendapat hasil akreditasi internasional tanpa syarat, ujar Jejen, hal itu dapat dikonversi menjadi akreditasi unggul dalam Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Akreditasi internasional berlaku selama enam tahun jika berstatus tanpa syarat. Jika statusnya lulus bersyarat, prodi harus melengkapi persyaratan selama satu tahun barulah mendapat status akreditasi tanpa syarat.

Jejen menuturkan, pada dasarnya tidak ada matriks penilaian akreditasi yang rinci seperti halnya BAN-PT. Nantinya setiap prodi akan diarahkan dan diberi penilaian oleh pakar dari ACQUIN dan ASIIN. Namun secara garis besar, penilaian dilakukan terhadap dosen, keberagaman mahasiswa—keberadaan mahasiswa asing dan mahasiswa dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), ketersediaan beasiswa, hingga infrastruktur. “Tentu saja ada yang lebih rinci seperti kelengkapan kelas dan lab. Pastinya mereka punya semacam panduan sendiri untuk itu,” ungkap Jejen, Rabu (27/9).

Alasan memilih ACQUIN dan ASIIN

UIN Jakarta memilih ACQUIN dan ASIIN untuk akreditasi internasional berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Kemendikbud. Jejen menyatakan kriterianya, pertama, lembaga akreditasi berkeanggotaan aktif sampai lima tahun ke depan di lembaga induknya. Kedua, lembaga tersebut pernah mengakreditasi prodi dalam lima puluh universitas terbaik di dunia. “Kedua lembaga sudah memenuhi persyaratan. Misalnya ASIIN yang pernah mengakreditasi Melbourne University, universitas itu pernah masuk dalam top 50 universitas terbaik di dunia,” ujar Jejen. 

Sementara itu, syarat bagi prodi yang hendak melakukan akreditasi internasional, kata Jejen, minimal terakreditasi unggul (A) ataupun sangat baik (B) dari BAN-PT. Menurutnya, prodi-prodi yang mendaftar akreditasi internasional telah memenuhi syarat akreditasi unggul maupun sangat baik. “Bahkan jika mereka hanya mendapat predikat ‘baik’, itu tetap strategis karena akan memiliki reputasi internasional,” ujar Jejen.

Pembiayaan Akreditasi Internasional

Jejen menjelaskan, biaya yang dikeluarkan untuk akreditasi terbagi menjadi dua jenis, yakni biaya pendaftaran dan biaya proses. Biaya pendaftaran diberikan pada lembaga akreditasi sejak awal, sementara biaya proses mencangkup perbaikan infrastruktur, pelatihan-pelatihan, dan persiapan dokumen. “Kalau biaya pendaftaran mungkin timbal baliknya pada kita dalam bentuk bimbingan, arahan oleh ASIIN dan AQUIN. Seperti bagaimana menyusun kurikulum, kemudian modul-modul,” tutur Jejen.

Tholabi menjelaskan, UIN Jakarta memang menyiapkan sejumlah anggaran untuk akreditasi internasional sejak kepemimpinan Rektor Amany. Ia kembali mengonfirmasi bahwa total biaya pendaftaran untuk akreditasi enam puluh prodi sebesar 296.860 euro—sekitar Rp 4.8 miliar. Hal itu diungkapkannya pada Institut melalui Whatsapp, Senin (2/10).

Manfaat Akreditasi Internasional

Jejen menjelaskan beberapa benefit akreditasi internasional bagi lulusan UIN Jakarta, yaitu memudahkan pencarian kerja dan membuka peluang melanjutkan studi di luar negeri. Selain itu, adapula kemudahan dalam program pertukaran mahasiswa atau dosen di universitas terakreditasi dua lembaga tersebut. “Kalau mahasiswa kita mau melanjutkan studi ke universitas di luar negeri yang terakreditasi ASIIN maupun ACQUIN, maka proses konversi nilai atau mata kuliahnya jauh lebih gampang,” ucap Jejen, Rabu (27/9).

Di sisi lain, Tholabi juga memaparkan manfaat akreditasi internasional bagi prodi-prodi di UIN Jakarta. Menurutnya, ketika prodi mengikuti akreditasi internasional, terdapat tuntutan untuk memperbaiki kualitas dosen, alumni, pembelajaran, kurikulum, layanan, hingga infrastruktur. “Bisa menemukan kelemahan, kemudian memperbaikinya, dan memenuhi standar-standar yang ideal menurut taraf internasional,” ujar Tholabi, Jumat (29/9).

Tahapan Seleksi

Jejen mengungkap tahapan yang harus dilalui dalam proses akreditasi internasional. Setelah pendaftaran dilakukan, prodi harus mengisi formulir kelengkapan berkas yang bernama Self-Evaluation Report (SER)—diperuntukkan untuk ACQUIN, dan Self-Assesment Report (SAR)—untuk ASIIN. Lalu, ada tahap evaluasi pakar dilanjutkan dengan visitasi melalui daring maupun luring. Akreditasi diakhiri dengan tahap penilaian yang menghasilkan pernyataan lulus akreditasi tanpa syarat atau bersyarat.

Lanjut, Jejen juga mengatakan, proses ini sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor Amany. Pendaftaran dilakukan pada bulan Januari 2023, proses komunikasi dengan lembaga akreditasi telah terjalin sejak November 2022. “Kira-kira prosesnya setahun dari registrasi sampai hasil akreditasinya keluar. Namun waktunya bisa lebih maupun kurang sesuai kondisi prodi dan universitas. Waktu itu kami meminta perpanjangan waktu ketika pergantian rektor,” terang Jejen. 

Persiapan Prodi 

Kepala Prodi (Kaprodi) Manajemen Dakwah, Amirudin menyatakan, partisipasi dalam akreditasi internasional bertujuan mendukung misi rektor serta memperkenalkan diri ke kancah internasional. Saat ini prodi yang diampunya sedang melakukan tahap pengisian SER dengan bantuan LPM, staf, dosen, mahasiswa, hingga alumni. “Sebagian dokumen yang terkumpul sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan diinput dalam aplikasi,” tutur Amir, Rabu (27/9).

Gelar Dwirahayu, Kaprodi Pendidikan Matematika menyatakan, saat ini prodinya tengah menyandang akreditasi B oleh BAN-PT yang berlaku hingga 2024. Di sisi lain, prodi yang diampunya turut serta mengikuti akreditasi internasional demi mendukung misi UIN Jakarta menjadi World Class University.  “Saat ini kami sedang persiapan re-akreditasi. Jadi ke BAN-PT sedang disiapkan, akreditasi internasional juga kita persiapkan,” ujar Gelar, Jumat (29/9). 

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Iding Rosyidin mengatakan, tiga prodi yang diampunya tengah mengumpulkan kelengkapan dokumen akreditasi. Ia membenarkan adanya sejumlah biaya yang dikeluarkan prodi untuk akreditasi internasional, misalnya ketika mengundang narasumber untuk pelatihan internal. “Selain itu, semua biaya dikeluarkan universitas, kalo kita (prodi) nggak,” ungkap Iding, Jumat (29/9).

Kaprodi Psikologi, Mohamad Avicenna mengungkapkan, ada beberapa penyesuaian yang dilakukan prodinya untuk memenuhi persyaratan akreditasi, misalnya dalam hal fasilitas dan kurikulum. “Akhir-akhir ini kami mengikuti banyak pelatihan. Terkadang pelatihan langsung dari ACQUIN melalui Zoom, ada juga pelatihan luring yang pelaksanaannya di luar kampus,” tutur Avicenna, Senin (2/10).

Kesiapan UIN Jakarta

Amirudin menilai UIN Jakarta siap untuk diakreditasi secara internasional. Menurutnya, banyak prodi yang saat ini sudah yang terakreditasi unggul secara nasional. Tak hanya itu, jejaring serta kegiatan-kegiatan civitas academica juga sudah berstandar internasional. “Untuk meluaskan itu semua, maka akreditasi internasional,” kata Amir, Senin (2/10).

Pernyataan tersebut didukung oleh data yang diberikan LPM UIN Jakarta pada Rabu (4/10). Prodi-prodi mendapat akreditasi dari beberapa lembaga, yaitu BAN-PT, Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi Manajemen Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA), dan Lembaga Akreditasi Mandiri Informatika dan Komputer (LAM INFOKOM). Selanjutnya, adapula Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Ilmu Formal (LAM SAMA), Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes), serta Lembaga Akreditasi Program Studi Keteknikan (LAM TEKNIK). Data tersebut menunjukkan 49 prodi telah terakreditasi A atau unggul, 27 prodi B atau baik sekali, dan 5 lainnya C atau baik. 

Akan tetapi, Avicenna mengkritisi kesiapan UIN Jakarta untuk mendapatkan akreditasi internasional prodi. Menurutnya, banyak aspek yang belum optimal, yakni hak pejalan kaki, infrastruktur digital, akses buku dan jurnal internasional, serta kemampuan Bahasa Inggris. Aspek-aspek tersebut, lanjutnya, harus terlebih dahulu dievaluasi dan diselesaikan oleh prodi-prodi sebelum ada kunjungan langsung dari lembaga akreditasi terkait. 

“Harapannya, berbagai upaya yang dilakukan bukan semata mencari pengakuan atau gelar, namun benar-benar mendorong well-being—kesejahteraan civitas academica,” pungkas Avicenna, Senin (2/10).

Reporter: Shaumi Diah Chairani

Editor: Muhammad Naufal Waliyyuddin

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kemeriahan Ampyang Maulid Desa Loram Kulon  Previous post Kemeriahan Ampyang Maulid Desa Loram Kulon 
Pro Kontra TikTok Shop Dihapus Next post Pro Kontra TikTok Shop Dihapus