Tak Optimal OPAC Pusat Perpustakaan UIN Jakarta 

Read Time:3 Minute, 43 Second

Mahasiswa menilai OPAC Pusat Perpustakaan UIN Jakarta tidak optimal. Hal tersebut disebabkan oleh informasi buku di OPAC bertolak belakang dengan kenyataan. Pihak perpustakaan akan menindaklanjuti masalah tersebut.


Online Public Access Catalog (OPAC) Pusat Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan katalog daring Perpustakaan Utama (PU)—Pusat Perpustakaan UIN Jakarta. Dilansir dari situs web perpus.uinjkt.ac.id, OPAC membantu dalam penelusuran bahan pustaka di PU. Namun, mahasiswa menilai, OPAC belum optimal sebagai katalog bahan pustaka.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Yopi Gustian Abdillah merasa kesulitan saat mencari buku di PU. Yopi seringkali menemukan informasi buku pada OPAC tanpa detail lokasi. “Sebagian buku tidak ditulis lokasinya, jadi saya bingung harus mengambil ke lantai berapa,” ucapnya, Kamis (24/11).

Tak hanya itu, Yopi mengeluhkan buku tidak tertata sesuai urutan nomor panggil—kode buku. Yopi kadang mendapati buku pada troli di samping rak buku. Yopi mengatakan, tak jarang buku yang dicari tidak ditemukan, bahkan setelah beberapa hari. Padahal, lanjut Yopi, data pada OPAC mencantumkan status buku yang dicari sedang tersedia.“Saya pernah mencari buku sekitar dua puluh menit karena letaknya acak-acakan,” ujarnya.

Selain Yopi, Mahasiswi Prodi Matematika, Nur Aisyah mengaku kesulitan saat menggunakan OPAC. Aisyah pernah menerima sosialisasi OPAC saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Namun, ia belum terlalu paham informasi yang ada pada OPAC. “Saya cuma tahu letak bukunya ada di salah satu perpustakaan UIN, tidak tahu di lantai berapa dan rak yang mana,” ujarnya, Rabu (23/11).

Data OPAC Tak Lengkap

Kepala Pusat Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai mengatakan, ruas lokasi pada OPAC berguna untuk menunjukkan letak buku—ada di PU atau perpustakaan fakultas. Di PU, ujar Agus, tingkatan lantai tempat buku berada ditandai dengan kode khusus sesuai jenis buku. “Seperti kodenya 2X, tandanya koleksi buku keislaman. Buku itu adanya di lantai lima,” ucapnya, Selasa  (22/11).

Lanjut, Agus menyampaikan, sistem OPAC belum terintegrasi dengan seluruh perpustakaan fakultas sehingga ruas lokasi pada OPAC dikosongkan. Ia mengatakan, penulisan tingkat lantai pada ruas koleksi merupakan inisiatif pustakawan. “Dari pada kosong karena belum terintegrasi, akhirnya pustakawan berinisiatif mengisi ruas lokasi dengan urutan lantai,” ujarnya.

Senada dengan Agus, Koordinator Layanan Pemustaka Pusat Perpustakaan UIN Jakarta, Lilik Istiqoriyah menyatakan, penggunaan OPAC lebih mengefisienkan waktu dan tenaga. “Dengan OPAC, mahasiswa yang tidak bisa ke perpustakaan akan terbantu mencari referensi tugas, karena OPAC  bisa diakses kapan saja dan di mana saja,” ucapnya, Jumat (24/11).

Susunan Buku Tak Teratur

Menanggapi keluhan buku tidak teratur, Agus menjelaskan, ada beberapa penyebab susunan buku tidak teratur atau tidak berada di rak. Salah satunya, kata Agus, buku yang dicari sedang dipinjam. Lanjut, Agus mengatakan, penyebab lainnya karena buku hilang atau sedang diperbaiki. Agus juga menyayangkan sikap mahasiswa yang kadang mencoret dan melipat buku.

Agus menegaskan, petugas perpustakaan sudah merapikan buku setiap hari. Agus mengungkapkan, mahasiswa tidak mematuhi aturan yang ditetapkan perpustakaan, yaitu meninggalkan buku di meja setelah selesai dibaca. Akibatnya, lanjut Agus, banyak buku yang tersusun tidak sesuai dengan urutan nomor panggil buku. “Kadang mahasiswa mengembalikan sendiri buku pada rak, padahal tidak tahu urutannya ” ucapnya.  

Lilik juga menegaskan, penyusunan buku dilakukan setiap pagi dan sore. Ia mengatakan, banyaknya buku yang digunakan membuat penyusunan buku harus melibatkan seluruh petugas perpustakaan. Tak jarang, kata Lilik, keterbatasan petugas membuat penyusunan buku kurang maksimal, sehingga ada buku yang berada tidak sesuai urutannya. “Kadang pustakawan  juga sering  menyusun buku di rak kalau lagi tidak ada pekerjaan,” tuturnya.

Tindak Lanjut Perpustakaan Terhadap OPAC

Agus memaparkan, setiap perpustakaan fakultas di UIN Jakarta memiliki sistemnya masing-masing. Ia berencana mengintegrasikan OPAC dengan seluruh perpustakaan yang ada di UIN Jakarta. Sehingga, sambung Agus, semua sistem Perpustakaan UIN Jakarta di bawah tanggung jawab Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustipanda). “Karena ini berkaitan dengan sistem, maka setiap unit harus digabungkan,” tuturnya.

Mengenai sosialisasi OPAC, Agus mengaku, sosialisasi belum dilakukan pihak perpustakaan secara efektif. Menurutnya, sosialisasi literasi dasar perpustakaan membutuhkan waktu yang panjang lantaran materinya cukup banyak. 

Agus mengatakan, pihak perpustakaan menyangka mahasiswa sekarang tidak terlalu membutuhkan sosialisasi OPAC. Ia mengira kebutuhan informasi mahasiswa sekarang itu sudah beralih ke digital. Saya cukup terkejut masih banyak mahasiswa yang menggunakan OPAC, kalau masih membutuhkan tentunya akan kami sosialisasikan lagi,” ucapnya 

Kemudian, Agus mengatakan, karena kebutuhan mahasiswa sudah digital maka fokus sosialisasi lebih pada penggunaan e-resources—perpustakaan digital yang menyediakan buku dan jurnal elektronik. “Mahasiswa sekarang itu kan Generasi Zoomer (Gen Z), kebutuhan digitalnya itu sudah tinggi. Jadi kami harus memikirkan kebutuhan itu,” pungkasnya.

Reporter: MAI

Editor: Wan Muhammad Arraffi 

Happy
Happy
75 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
25 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Dari Skripsi, Jadi Peneliti 
Next post Kenyataan Kelam di Balik Layar Lautan