Meniti Eksistensi Tokoh Perempuan di UIN Jakarta

Read Time:4 Minute, 30 Second

Suara perempuan tak pernah meredup. Perempuan tak hidup di zaman yang berbeda dengan kaum adam. Jika para adam bisa menjejaki bumi dengan gagah, maka perempuan akan berteriak lantang.


Melihat kembali ke awal abad 20, ketika perempuan mulai mendapatkan pekerjaan. Profesi yang diemban memang beragam, tapi ruang aman untuk mereka sangat kurang. Tak sedikit yang menjadi korban penindasan dan diperbandingkan dengan kaum adam. Karenanya, segelintir perempuan yang berangkat dari kaum pekerja mulai melantangkan perlawanan dan seruan perubahan. Penetapan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional tak ayal sebagai upaya penegasan eksistensi. Tak ingin suaranya terbengkalai, tak terima adanya penindasan, perempuan bergerak bergandengan tangan.

Melalui Catatan Tahunan (Catahu), Komnas Perempuan membeberkan lebih dari 450 ribu aduan kasus kekerasan yang diterima perempuan Indonesia. Perlu diketahui, itu hanya kasus sepanjang 2023, bukan rangkuman dari beberapa tahun lalu. Miris melihat tiga digit angka yang termaktub dalam laporan jumlah kasus kekerasan, bukti bahwa perempuan Indonesia belum memiliki cukup ruang aman.

Kendati demikian, di balik banyaknya kasus kekerasan yang diterima para kaum hawa, tak boleh terlupa jika sejak lama lantang suara mereka terdengar. Seruan perubahan hingga pembuktian bahwa perempuan dapat berdiri dan berjuang dengan kakinya sendiri. Eksistensi perempuan jenius mulai mewarnai layar kaca dan harumkan nama negara. Menggenggam dunia dan membawa ke dalam dekapannya.

Sebut saja Raden Ajeng Kartini, mustahil jika tak kenal. Tokoh pejuang emansipasi wanita, seorang anak bangsawan yang bergerak untuk pembenahan, bukan hanya menangis dalam kamar dan meratapi nasib sebagai perempuan. Tahun bergulir, sosok Kartini lainnya mulai banyak ditemui. Tak perlu jauh ke ujung negeri, mari lihat dari kampus sendiri.

Kampus yang terkenal dengan para tokoh alim yang terlahir. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak dahulu masyhur tersebut nama para cendekiawan Islam. Tak kalah dengan para adam, kaum hawa juga ingin terdengar.

  1. Zakiah Daradjat (1929–2013)

Seorang Pakar Psikologi Islam ternama Indonesia. Keahlian dalam bidang ilmu jiwa agama berhasil mengantarkannya mendapat gelar Guru Besar UIN Jakarta. Beberapa karya yang ia tulis, yaitu Pengajaran Agama Islam (1995), Perawatan Jiwa untuk Anak-Anak (1976), dan Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1978). 

Sempat berkarir di Kementerian Agama, pemikiran perempuan tersebut banyak memengaruhi kebijakan dan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Salah satunya, pembukaan Program Studi Tadris di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) demi mengatasi kekurangan guru bidang studi umum di banyak madrasah. Pencapaian Zakiah lainnya adalah perempuan pertama yang menduduki salah satu posisi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Urusan Keluarga dan Anak. 

  1. Huzaemah Tahido Yanggo (1946–2021)

Tokoh perempuan selanjutnya adalah Huzaemah Tahido Yanggo, seorang pakar fikih perbandingan mazhab Indonesia. Ia melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Al-Azhar Kairo Mesir serta menjadi perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar doktor di sana. Beberapa karyanya antara lain Pengantar Perbandingan Mazhab (2003), Membendung Liberalisme (2006), dan Fiqih Perempuan Kontemporer (2010).

Sama seperti Zakiah, Huzaemah juga merupakan Guru Besar UIN Jakarta dan aktif dalam MUI. Perempuan itu juga sempat menjadi Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) periode 2014-2018 dan 2018-2022. Karirnya di MUI berawal dari anggota Komisi Fatwa hingga menjadi Ketua MUI Pusat Bidang Pengajian dan Pengembangan Sosial pada tahun 2000. Salah satu pemikirannya yaitu peran perempuan sebagai pemegang peran domestik namun tetap memegang teguh prinsip agama.

  1. Siti Musdah Mulia (1958–sekarang)

Dalam menyuarakan hak-hak perempuan, UIN Jakarta memiliki Siti Musdah Mulia, aktivis sekaligus dosen pemikiran politik Islam di Program Pascasarjana UIN Jakarta. Ia terkenal kritis dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan, demokrasi, pluralisme, gender dan Hak Asasi Manusia (HAM). Beberapa pandangan agamanya yang dianggap moderat yaitu haramnya poligami, tidak adanya kewajiban memakai hijab, hingga pernikahan LGBT.

Musdah aktif dalam beberapa organisasi yaitu Women Shura Council—majelis perempuan ulama yang berpusat di Amerika, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), serta Conference on Religions for Peace (ICRP). Karya-karyanya antara lain Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan (2005), Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender (2007), dan Islam dan Hak Asasi Manusia (2010).

  1. Amany Burhanuddin Umar Lubis (1963–sekarang)

Masih jelas dalam ingatan, Amany Lubis merupakan Rektor UIN Jakarta periode 2019–2023 sekaligus rektor perempuan pertama dalam sejarah kampus tersebut. Amany menyandang gelar doktor bidang Sejarah Kebudayaan Islam dari Pascasarjana UIN Jakarta pada 2002. Tak hanya itu, Amany juga tercatat menjadi pengajar di Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia serta Program Pascasarjana Universitas Pertahanan.

Perempuan berdarah Mesir itu juga mengikuti bahkan mengampu jabatan dalam beberapa organisasi bertaraf nasional maupun internasional. Dua di antaranya yaitu Ketua Umum Majelis Ilmuwan Muslimah Indonesia (2014-2018) dan Ketua MUI pusat Bidang Perempuan (2015-2020). Organisasi internasional yang pernah ia ikuti adalah Board of Trustees Forum for Promoting Peace in Muslim Societies (2016–2020). Amany juga sempat menjadi 1 dari 15 wanita di Indonesia yang mendapat penghargaan dari Sindo Media dalam acara “Apresiasi Perempuan Hebat Indonesia 2019”.

  1. Dedeh Rosidah (1951–sekarang)

Mamah Dedeh, begitulah masyarakat mengenal pendakwah perempuan ternama di Indonesia itu. Pada 1968, ia menempuh studi S1 Pendidikan Guru Agama (PGA) di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta—saat ini adalah UIN. Kegiatan dakwahnya bermula sejak menjadi mahasiswa, dirinya kerap mengisi ceramah di daerah Ciputat, Cirendeu, dan Pondok Cabe ketika akhir pekan. Tak disangka, bakat itulah yang membawanya tampil di berbagai acara televisi seperti program Mamah dan Aa serta Ceria Bersama Mamah (Ceramah).

Mamah Dedeh terkenal dengan pembawaan dakwahnya yang sederhana dan lucu. Audiens acara-acaranya didominasi oleh ibu-ibu majelis taklim dari berbagai penjuru Indonesia. Dalam ceramahnya, ia kerap membahas problematika sosial dan keluarga, seperti kemuliaan perempuan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga perselingkuhan.

Reporter: Shaumi Diah Chairani

Editor: Nabilah Saffanah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Satu Pintu untuk Pencatatan Nikah
Next post Desak Perlindungan Hak Perempuan dan Hak Demokrasi