
Penggunaan media sosial telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Melansir dari databoks, menurut laporan We Are Social, pada Januari 2025, ada sekitar 143 juta pengguna media sosial di Indonesia. Angka ini bertambah setidaknya 4 juta pengguna atau 2,9% dari Januari 2024.
Meskipun memberikan manfaat dalam komunikasi dan akses informasi, media sosial juga kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental. Menurut laporan State of Mobile dari Data.AI, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 5,7 jam per hari menggunakan gadget. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna perangkat digital terlama di dunia pada tahun 2024.
Sayangnya, penggunaan gadget dengan intensitas tinggi yang dihabiskan masyarakat tidak selalu diiringi dengan kualitas konten yang dikonsumsi. Konten yang singkat, dangkal, dan sensasional semakin hari semakin mendominasi. Hal itu terbukti dengan ramainya akun yang memposting video meme dan konten buatan Artificial Intelligence (AI) di platform TikTok. Salah satunya konten yang memuat gambar buatan AI yang disebut-sebut sebagai anomali Tung Tung Tung Sahur.
Berdasarkan jurnal Sosial dan Teknologi yang ditulis oleh Pandith Aribowo dan Mahendra Ihsan Bagaskara dengan judul Dampak Penggunaan Media Sosial “Brain Rot” terhadap Kesehatan Remaja, penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak negatif terhadap harga diri, mengganggu kualitas tidur, dan meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi. Melansir dari situs web Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Psikolog, Nur Aslamiyah turut mengatakan, penurunan motivasi belajar siswa disebabkan perubahan pola belajar akibat paparan konten digital yang serba instan.
Hal itu sejalan dengan hasil studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan bahwa konsentrasi dan keterampilan membaca siswa kelas IV sekolah dasar di Indonesia berada pada tingkat terendah. Penelitian yang dilakukan American Psychiatric Association (APA) menyebutkan, adanya angka kejadian gangguan konsentrasi belajar sebesar 1-20% pada anak usia sekolah, sebanyak 5,2% di antaranya mengalami degradasi terhadap fokus serta minat terhadap belajar.
Akibat ketiadaan regulasi yang mengatur batasan usia penggunaan gadget atau media sosial bagi anak-anak dan remaja, maka berbagai macam konten bisa diakses secara bebas oleh mereka. Beberapa negara telah berupaya membatasi penggunaan media sosial oleh anak di bawah umur, salah satunya adalah Australia yang menetapkan undang-undang untuk melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial seperti TikTok, Instagram, X, hingga Reddit. Regulasi ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari risiko kecanduan, paparan konten berbahaya, dan dampak buruk terhadap kesehatan mental mereka.
Mengenai fenomena tersebut, muncul istilah “brain rot” yang ramai digunakan oleh masyarakat. Istilah itu sempat dinobatkan sebagai kata terpopuler pada tahun 2024 oleh Oxford University Press, dengan melibatkan lebih dari 37.000 orang dalam penelitiannya. Berdasarkan penelitian tersebut, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan yang diduga terjadi pada mental atau intelektual seseorang akibat konsumsi berlebihan terhadap konten remeh.
Pada Kamis (10/4), Institut melakukan wawancara secara khusus dengan Dosen Psikologi Sosial Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ikhwan Lutfi. Wawancara tersebut membahas tentang fenomena brain rot dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Pada wawancara tersebut, Ikhwan memaparkan bagaimana brain rot dapat memengaruhi kesehatan mental, perkembangan kognitif, hingga interaksi sosial.
Bagaimana pandangan psikologi mengenai fenomena brain rot?
Fenomena brain rot berpusat pada perasaan, di mana seseorang merasa bodoh, dan tidak mampu berpikir. Fenomena ini lumrah karena adanya kemajuan teknologi dan pergeseran budaya. Sebagaimana perubahan peradaban lainnya, selain memiliki sisi positif, juga terdapat sisi negatifnya. Dalam era digital saat ini, masyarakat akan menerima informasi yang berlebihan dan cepat berganti. Hal itu menjadi salah satu faktor terjadinya fenomena brain rot. Orang yang tidak bisa menguasai dirinya dari arus teknologi dan informasi cenderung akan mengalami brain rot.
Bagaimana cara mencegah fenomena tersebut?
Salah satu penyebab brain rot adalah banyak mengonsumsi informasi berupa konten-konten singkat saat terlalu lama menggulir media sosial. Maka, cara mencegahnya adalah dengan mengurangi konsumsi konten yang singkat. Selain itu, bisa dengan beralih kepada sesuatu yang lebih serius, seperti membaca novel, menonton film, atau bermain game. Dengan begitu, otak bisa fokus dan tidak menerima informasi terlalu cepat. Hal itu dapat memberikan stimulus pada otak dengan cara yang tetap menyenangkan.
Bagaimana pengaruh brain rot dalam kehidupan masyarakat kedepannya?
Dalam kondisi ekstrem, orang yang mengalami brain rot akan merasa hidup dalam dunia virtual. Ia tidak bisa membedakan dunia asli dengan virtualnya dan menyebabkan hubungan antar pribadi tidak harmonis. Selain itu, jika telah menjadi budaya, maka seseorang akan cenderung tidak peduli dan kemampuan sosialnya akan menjadi negatif. Dalam asmara, hubungan romantisnya akan menurun dan tidak bervariatif. Hal itu menyebabkan ia akan cenderung memutuskan hubungan tersebut jika terdapat masalah, dibandingkan menyelesaikan masalahnya.
Bagi anak-anak, brain rot akan berdampak pada perasaan yang pudar sehingga empati menjadi sesuatu yang mahal baginya. Selanjutnya, anak-anak akan sukar berpikir logis, mengontrol diri, dan menyusun skala prioritas.
Mengapa konsumsi konten pendek dan cepat memengaruhi kesehatan mental?
Sebagaimana anggota tubuh yang lain, otak juga perlu dilatih. Seperti kaki yang mesti dibawa berjalan, maka otak harus digunakan untuk berpikir. Secara teori, terdapat beberapa cara untuk melatih otak, yang paling mudah adalah dengan mengingat. Lebih serius, bisa dengan melakukan analisa dan sintesa. Jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi sesuatu yang pendek dan cepat, maka otak tidak akan bekerja dan kemampuannya menjadi rendah yang menyebabkan ia sulit berpikir logis, dan menganalisis.
Seberapa serius dampaknya terhadap perkembangan kognitif dan kebiasaan berpikir kritis?
Dampaknya sangat serius, seseorang akan cenderung melakukan hal yang mudah saja karena otak tidak digunakan secara maksimal untuk berpikir. Salah satu contohnya adalah ketersediaan AI saat ini yang memudahkan seseorang dalam mencari informasi. Namun, dampak jangka panjangnya akan membuat seseorang ketergantungan dan menjadi budak AI.
Bagaimana brain rot memengaruhi interaksi sosial dan empati dalam kehidupan nyata?
Brain rot muncul karena manusia terus berhadapan dengan mesin. Ketika seseorang hanya fokus pada gadget dan tidak berinteraksi dengan orang lain, kecuali secara virtual, maka akan sulit menumbuhkan rasa empati untuk memahami keadaan orang lain. Meskipun terdapat konten yang menunjukkan aksi kebaikan, namun hal itu tidaklah cukup. Rasa empati harus dilakukan dengan pertemuan secara langsung karena dapat melihat secara jelas kondisi psikologis orang lain.
Bagaimana cara untuk menanggulangi dampaknya?
Jika brain rot terjadi pada anak-anak, maka orang di sekitarnya yang lebih tua harus lebih peduli dan menyediakan dunia tandingan. Hal itu dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan mengakses gadget atau menyediakan konten yang lebih bermutu. Bagi remaja atau orang dewasa yang mengalami brain rot, ia harus mengontrol diri dan membangun awareness atau kesadaran. Misalnya, dengan terus membangun kesadaran akan manfaat kegiatan yang ia lakukan. Jika kesadaran itu sudah terbangun, maka akan lebih mudah untuk membawa hal yang positif pada diri sendiri.
Reporter: NA
Editor: Rizka Id’ha Nuraini
