Penjahat Musiman yang Bisu

Penjahat Musiman yang Bisu

Read Time:3 Minute, 40 Second
Penjahat Musiman yang Bisu

Oleh: Nadiyah Ulfa*

Aku selalu melewati jalan yang sama setiap malam. Hampir diwaktu yang sama pula. Jalan yang kulewati biasanya sepi dan gelap. Namun, beberapa hari ini terasa berbeda dengan suasana yang lain. Walaupun sedikit, tetap saja ada yang berubah, agaknya ini banyak ragam. Namun, masih dengan keheningan yang sama.

Semua orang yang kulewati sangat ramah, mereka menebar senyum cerahnnya. Sejak itu, setiap kali aku melewati mereka masih setia dengan raut bahagianya. Aku tidak terlalu mempersalahkan, mungkin malah menjadi lebih baik, karena aku merasa tidak sendirian lagi, kini banyak orang bahagia di sekitarku saat aku jalan melangkah pulang.

Ternyata suasana itu tidak terjadi di tempat saat aku pulang kerja malam sendiri saja. Saat aku pergi ke tempat lain, aku sadar bahwa di sekitarku ramai pula banyak orang. Mereka terlihat bahagia sekali, aku jadi bertanya-tanya, bagaimana mereka selalu bahagia ya? Aku tidak tahu yang sebenarnya, tetapi dari penglihatanku mereka terlihat semringah. Tetapi aku tak bisa menanyakannya secara langsung kepada mereka. Pada siapa ya kira-kira aku harus menanyakannya? Mereka juga orang asing, tiba-tiba bertanya hal personal apa tidak aneh. Aku juga tahu sepertinya mereka juga enggan menjawabnya.

Aku pergi kemana-mana pun suasananya sama, terlihat ramai. Jujur saja aku merasa agak mulai terganggu dengan mereka. Okay, tapi mungkin bisa jadi aku yang sebaiknya menghindari mereka kalau itu yang dimau, toh mereka juga sebenarnya tidak bermaksud mengganggu dan mana peduli mereka dengan diriku. Jadi sebaiknya  berbaur saja.

Tapi ada satu kejadian dimana aku bertemu dengan seorang dari mereka. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia terjatuh di hadapanku, untung saja dia jatuh sebelum aku melangkah jalan setelahnya. Kalau saja waktu saat itu tepat, mungkin aku sudah tertimpa orang itu. Aku tidak tahu sebab dari dia yang jatuh tiba-tiba, aku mengira-ngira mungkin karena angin, karena saat itu angin bertiup kencang tapi tidak kencang sekali sampai membuat orang bisa terjatuh seharusnya. 

Dia terjatuh, tapi tidak mengaduh sama sekali, aku melihat wajahnya justru tersenyum lebar seperti tidak terjadi apa-apa. Oh. Mungkin. Mungkin saja karena malu atau memang sedang bahagia, jadi jatuh pun tidak terasa. Kemungkinan yang lain lagi dia bisu. Tapi herannya walaupun bisa tersenyum saat jatuh, dia tidak bisa bangun. Aku pun membantunya melipir dan menempatkannya di pinggir jalan. Tidak ada kalimat apapun yang terucap dari kami berdua, akhirnya akupun segera meninggalkan dia.

Aku melihat dan membaca berita, di tempat lain juga punya fenomena sama dengan yang pernah aku alami. Kejadian yang hampir mirip denganku kemarin terulang. Namun, beruntungnya aku masih menghirup udara sekarang, lain hal dengan berita yang kubaca menewaskan seorang nyawa manusia karena seseorang tiba-tiba terjatuh dan menimpa orang yang sedang lewat, lagi-lagi sebabnya karena hanya tertiup angin. Ada apa sih dengan mereka? Aku bukan marah, itu mungkin sudah takdir yang telah ditetapkan. Tapi aku mulai agak muak dengan mereka yang memenuhi jalan. Sebenarnya mengganggu pemandangan mata juga.

Tidakkah mereka sadar telah berbuat kejahatan? Dengar-dengar banyak dari mereka juga menjadi tersangka utama kasus penusukan. Tapi anehnya mereka tidak bisa disalahkan, sedangkan korban tidak bisa menuntut mereka. Korban hanya mampu diam saja tanpa bisa apa-apa. Berdiam di pinggir jalan.

Sebenarnya apakah ini wajar? Kata orang-orang lain itu hal yang lumrah. Ini tidak akan terjadi setiap waktu, Namun hanya lima tahun sekali. Makanya, itu jadi kesempatan mereka berbondong menggalang dana untuk menunjukkan diri terbaik mereka demi kebutuhan. Supaya dilirik, supaya banyak diikuti. Tapi bagaimana tahu sisi baik hanya sekadar menampilkan pose yang apik saja? Tapi sekali lagi aku hanya seseorang yang tidak banyak tahu dan tidak antusias tentang orang-orang. Yang pasti aku punya persepsi bahwa mereka penjahat, dan itu meresahkan.

Ini aneh. Aku tidak peduli tapi memikirkannya. Aku sadar apa-apa yang terjadi disekitar akan berdampak kembali terhadap kehidupanku. Aku juga tahu bahwa mereka bertindak jahat karena suruhan. Tapi aku siapa? Aku juga tidak mengerti dengan sistem mereka? Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku malas, lagi dan lagi gerundelan mendidih di otak ini hanya aku telan dalam hati.

Sekarang yang kulakukan mungkin hanya bisa menunggu saat mereka mulai membubarkan diri dan berhenti berbuat kejahatan. Entah itu pulang ke rumah sendiri dengan perasaan menang, ataupun hilang dicuri orang dengan kekecewaan. Mereka akan menghilang tanpa rasa bersalah, berlalu seakan tidak terjadi apa-apa. Ya, semuanya akan berjalan normal kembali seperti sedia kala. Kalian tahukan maksud penjahat di sini siapa? Ya, terus terang saja kukatakan, Si baliho pemilu itu.

*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Hayat Kawasan Pemulung di Tengah Gemerlap Bintaro Previous post Hayat Kawasan Pemulung di Tengah Gemerlap Bintaro