Gerobak Sampah Masyarakat

Gerobak Sampah Masyarakat

Read Time:5 Minute, 53 Second
Gerobak Sampah Masyarakat

Oleh: Nabilah Saffanah*

Panasnya aspal jalan terus memaksa kaki tua melangkah. Di sebelahnya, roda-roda kendaraan terus berputar silih berganti. Meninggalkan kaki tua yang tampak gagah meski renta. Berhenti sekadar melihat telapak kaki yang acap kali menginjak kerikil tajam atau serpihan sampah pinggir jalan. Punggungnya kian membungkuk seiring banyaknya beban gerobak usang di belakangnya.

“Ini untuk Bapak. Titip sekalian buat anak istri,” seorang ibu rumah tangga dengan daster kembang memberikan beberapa lembar uang setelah sampah rumah tangganya diangkut.

“Puji Tuhan. Terima kasih ya, Bu,” menerima dengan senyum merekah.

Dari satu blok ke blok lain. Komplek ini sudah menjadi tempat utama yang sampahnya harus diangkut Kunto setiap akhir pekan. Usai semua sampah di depan rumah pindah ke gerobaknya, Kunto kembali menyusuri jalan ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara.

“Mas Kun! Mas Kun!” panggilan menyapa Kunto saat baru saja masuk ke TPSS. Dilihatnya Sardi, rekan kerja —sesama tukang sampah— berlari menghampirinya. “Kenapa, Di?” tanya Kunto.

Kaki Sardi berhenti dalam jarak cukup dekat dengan Kunto. Wajahnya bingung, tapi penuh harap. “A-anu, Mas. Kira-kira Mas Kun ada uang yang bisa saya pinjam gak? Anak saya udah tiga hari sakit,” ucap Sardi tenang, tapi mengiris hati.

“Harus cepat dibawa ke dokter itu, Di,” ujar Kunto.

“Iya, Mas. Tapi masalahnya uang saya masih kurang untuk berobat ke klinik,” ucap Sardi.

“Loh, emangnya gak punya kartu kesehatan yang dari pemerentah itu?” tanya Kunto.

“Rumah saya kan abis kebakaran, Mas. Semuanya ludes. Mau urus ulang keburu anak saya sekarat, belum lagi biaya tetek bengeknya,” jawab Sardi.

Kunto menghela napas sejenak, merogoh saku celana usangnya. “Aku cuma ada segini, semoga membantu, ya. Semoga anakmu cepat sembuh,” memberikan beberapa lembar uang pada Kunto.

“Alhamdulillah! Terima kasih, Mas Kun, terima kasih! Semoga Allah balas uang Mas Kun berjuta-juta,” Sardi menyalami tangan Kunto bolak-balik seakan Kunto seorang kunci surga.

“Sudah sana, anakmu nungguin!” titah Kunto.

Sepeninggal Sardi, Kunto lanjut menarik gerobaknya ke pinggir. Mengeluarkan sampah, memilah, dan menyerahkannya ke petugas di sana. Peluh membanjiri dahi dan lehernya. Duduk di kursi kayu dengan es teh tawar gratis yang disediakan TPSS. Es teh sudah di tangan kanan, tangan kirinya merogoh saku lebih dalam, berharap ada lembaran uang yang bisa ia belikan gorengan.

“Bang, gorengannya goceng, campur,” menyerahkan tiga lembar uang dalam kepalan.

“Duh, Pak! Duitnya jangan diuntel-untel gini, dong. Bikin robek,” keluh tukang gorengan sambil mengurut lembaran uang Kunto dengan jari jemarinya.

“Hahaha, maap, Bang. Soalnya kagak punya dompet,” balas Kunto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Setelah mendapat sebungkus gorengan yang hanya berisikan kurang dari lima itu, setidaknya cukup mengganjal perut yang belum diberi asupan sejak semalam. Kunto duduk di dekat gerobaknya, memindahkan handuk kecil yang sedari tadi di pundak jadi berada di kepala, menghalau panasnya matahari siang. Tangannya ia lap di celana yang usang, membuka bungkus koran bekas yang berisikan gorengan. Satu pisang goreng yang masih panas menjadi hidangan pembuka.

Mata Kunto membaca tiap baris tulisan yang tintanya sudah bercampur dengan minyak goreng. Sedikit mengangkat cabai hijau karena menghalangi huruf yang sedang menjadi fokusnya.

Korupsi Sampah 75,9 M di Tangerang Selatan

“Ternyata ada yang lebih sampah daripada sampah,” tawa Kuto terdengar getir. Orang gila mana yang mengambil dana dari anggaran pengelolaan barang-barang buangan dan tidak layak pakai? Kemudian menukar dengan barang mewah, layak pakai, limited edition.Bahkan Kunto sendiri tidak pernah terpikir hal tersebut.

“Orang gede kalo ngomong ya gede. Ambil duitnya gede, makanya perutnya pada gede. Ngegedein perut,” Kunto menggerutu sambil menutup kembali bungkus gorengannya. Masih ada sisa, untuk makan nanti sore.

Kaki Kunto kembali menjajaki aspal, menarik gerobak yang terasa ringan karena belum terisi apapun. Ia baru berhenti saat melihat spanduk di pinggir jalan. Spanduknya cukup lebar, ada orang berpeci tercetak besar di atasnya. Kunto melebarkan spanduk itu, lalu melipatnya dengan rapi. “Lumayan, buat di rumah, biar gak bocor mulu,” ucapnya sambil tersenyum. Seakan menemukan jalan keluar dari segelintir permasalahan hidup.

Begitu malam turun, Kunto pulang ke rumahnya. Ada si bungsu yang masih belajar membaca di bawah cahaya bohlam kuning. “Bapak udah pulang?” sapanya dengan mata lebar.

Kunto mengangguk. “Baca apa, Nang?” tanyanya.

“Cerita gambar. Tadi Abang bawa banyak koran, terus ada cerita-ceritanya,” jawab si bungsu.

“Bantuin Bapak yuk, Nang,” pinta Kunto. “Kamu ambil senter sana.”

Kunto mengambil spanduk yang ia ambil tadi, melebarkannya lagi. Meraba dinding kayu rapuh beratap rendah dari seng yang sudah berkarat. Mengikat ulang tali-tali penghubung antar kayu agar rumahnya tidak terbang terbawa angin malam. Langkah kaki anak bungsunya terdengar nyaring, menginjak botol-botol bekas yang luber dari karungnya. Hasil kerja anak sulung Kunto seharian ini, besok baru akan dibawa ke pengepul.

“Pegangin yang bener ya senternya,” ujar Kunto. Mulai mengangkat spanduk hingga menutupi atap rumahnya. Perlu sedikit lompat agar spanduknya tidak tergulung atau terlipat. Si bungsu terus memegang senter dengan serius, terlalu serius. Agaknya ia coba mengeja tulisan di spanduknya.

“Me-nye-jah … te-ra-kan … rak-yat,” akhirnya kalimat itu rampung terbaca. Kepalanya mengangguk pelan, meski tidak paham apa maksudnya.

“Nang! Yang bener senterinnya! Liat tangan Bapak, nih! Kamu mah ke mana-mana nyenternya,” omel Kunto karena tali yang tengah diikatnya jadi hilang dari pandangan.

Tanpa menjawab, si bungsu langsung mengarahkan cahaya kuning senter ke tangan bapaknya. Selesai semuanya terikat, mereka buru-buru masuk ke dalam rumah karena gemuruh di langit sudah menyapa. Di dalam rumah, Kunto merapikan kain yang menjadi alas tidur keluarganya. Mengibas dengan tangan supaya tidak ada serangga yang ikut tidur bersama mereka.

Dalam hitungan detik, hujan langsung turun deras. Kunto refleks mengambil baskom di pojokan. Meletakkan baskom di satu titik yang ia sudah hapal betul lokasinya. “Gak bocor, Pak!” kata si bungsu dengan kepala mendongak ke atas, menunggu tetesan air yang biasanya jatuh memenuhi baskom. Kunto tersenyum lega. Kalau ia telat sedikit memasang spanduknya, rumahnya pasti bocor lagi.

“Pak. Me-nye-jah-te-ra-kan rakyat itu apa, Pak?” tanya si bungsu yang kini menatap lurus ke bapaknya, seakan kunci jawaban.

“Menyejahterakan rakyat berarti bikin orang senang,” jawab Kunto seadanya.

“Kayak gimana? Dikasih permen?” tanya bungsu.

“Kayak atap rumah kita yang gak bocor lagi,” Kunto menunjuk atap sengnya.

“Ohh karena ditiban spanduk ya, Pak? Berarti bener dong yang di spanduk tadi, me-nye-jah-te-ra-kan rakyat,” pungkas si bungsu.

Kunto hanya mengangguk. Dia mengeluarkan buntelan koran dari plastik kresek yang dibawanya pulang. “Nih, Bapak ada gorengan. Makan dulu,” ujar Kunto.

Bungsu langsung mengambil risol yang sudah peyot dan dingin. Memakannya dengan lahap hingga menjilati minyak yang menempel di jari-jari kecilnya. Matanya kembali fokus ke tulisan di alas gorengan. “Ko-rup-si. Itu apa, Pak?” dia kembali mengeja.

“Makan duit rakyat,” jawab Kunto.

“Rakyat itu siapa?”

“Kayak kita.”

“Ohh..” kepala bungsu kembali mengangguk. “Kok mereka makan duit? Mereka gak makan gorengan kayak kita?” polosnya si bungsu.

“Udah, cuci tangan sana di luar. Abis itu tidur,” Kunto mengakhiri sesi tanya jawab malam itu.

Bungsu membuka pintu, tangannya menjulur keluar, melewati atap. Membiarkan tetesan air hujan membasahi jari-jarinya. Hari itu ia tidur dengan membawa ilmu baru. Menyejahterakan rakyat dan korupsi. Dua kata yang terlalu ironi untuk berdampingan. Tapi dia tidak peduli, yang penting satu risol membuat tidurnya dalam kondisi kenyang.

*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Masih Setengah Hati Terapkan Mitigasi Bencana Previous post Masih Setengah Hati Terapkan Mitigasi Bencana
Profesi Mulia Tanpa Apresiasi Next post Profesi Mulia Tanpa Apresiasi