
Teater Syahid menggelar pertunjukan teater dengan tajuk Bangkitnya Don Quixote. Melalui pementasan tersebut, Teater Syahid mengajak penonton kembali merefleksikan makna kebenaran dan kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi di era pascakebenaran.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar pementasan teater berjudul Bangkitnya Don Quixote karya Ranang Aji Surya Putra pada 20–22 Agustus 2026 sebagai bentuk keikutsertaan dalam Festival Teater Kampus Jakarta (FTKJ) yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), serta Tim Pelaksana Kegiatan Yayasan Seni Kolektif Matahari. Pertunjukan teater dengan durasi satu jam tiga puluh menit tersebut bertempat di Aula Student Center, UIN Jakarta.
Ananda Dwi Pangestu, selaku sutradara pementasan mengatakan, alasan Bangkitnya Don Quixote dipentaskan berkaitan dengan relevansi kondisi di dunia saat ini, khususnya fenomena era pasca kebenaran yang ditandai dengan maraknya misinformasi dan disinformasi. Melalui pementasan ini, Teater Syahid berupaya mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali kondisi manusia di tengah arus informasi yang semakin kompleks.
“Jadi apa yang terjadi itu, kayak misinformasi dan disinformasi, pokoknya era pasca kebenaran itu terjadi karena siapa sih? Apakah itu terjadi karena cara kita menggunakan media sosial? Kami ingin membuat penonton mempertanyakan tentang itu hal itu kembali,” ucap Nanda, Jumat (21/8).
Nanda mengatakan, tokoh Don Quixote dalam pementasan tersebut digunakan untuk menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan seperti simpati dan keberanian. Menurutnya, karakter tersebut kemudian dihadapkan dengan kondisi manusia masa kini, sehingga menciptakan pertanyaan mengenai keberadaan makna dari kemanusiaan di tengah situasi sosial yang digambarkan dalam pertunjukan tersebut.
Lebih lanjut, Nanda menerangkan, keikutsertaan Teater Syahid dalam FTKJ juga direncanakan sejak FTKJ kembali diselenggarakan setelah sebelumnya tidak diadakan pada 2024 dan 2025. Bertautan dengan itu, Nanda menjelaskan, pengurus Teater Syahid memutuskan untuk mengikuti festival tersebut dan merancang pementasan khusus untuk kompetisi itu.
Di sisi lain, berkaitan dengan hal-hal teknis, Syaifullah Almahdi, selaku manajer panggung mengatakan, tim Teater Syahid perlu menjalani latihan selama kurang lebih enam bulan untuk pementasan itu. Proses tersebut mencakup analisis naskah, hingga menentukan bagaimana rancangan konsep untuk nantinya dipentaskan di atas panggung.
Meski begitu, Syaifullah menuturkan, pementasan tersebut telah dipersiapkan sejak jauh hari. Kendati demikian, ia juga mengungkap, perubahan teknis kerap terjadi, bahkan sampai pada hari pementasan, sehingga tim dituntut untuk mampu beradaptasi.
Lebih jauh, Syaifullah menerangkan, bahwa pementasan tersebut tidak hanya menggunakan properti tradisional, namun juga memanfaatkan teknologi multimedia, termasuk layar dan bentuk visual berbasis kecerdasan buatan untuk memperkuat cerita. Penggunaan lampu, musik, serta berbagai properti pendukung lainnya turut menjadi bagian dari konsep artistik yang ditampilkan.
Sebagai penonton, Kamil mengaku terkesan dengan penampilan dari Teater Syahid itu. Lantaran ia menilai, bahwa teater kampus telah mampu menggabungkan seni pertunjukan dengan perkembangan teknologi. Selain itu, pemanfaatan multimedia yang dipadukan dengan layar dan beragam visual menjadi salah satu kekuatan dalam pementasan tersebut. Kemudian, ia juga tidak luput mengapresiasi unsur artistiknya, seperti tata lampu dan musik.
“Mereka juga sangat kreatif, dengan memunculkan mainan-mainan anak di Taman Kanak-Kanak (TK) ke atas panggung,” ungkap Kamil, Jumat (21/8).
Baginya, penggunaan properti tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik dalam kreativitas tim mengolah elemen panggung. Menurutnya, dengan durasi pertunjukan yang cukup panjang itu tetap terbayarkan oleh kualitas pertunjukan yang disajikan.
Terakhir, ia merekomendasikan agar siapapun menonton pertunjukan tersebut , terutama bagi mereka yang menyukai pertunjukan teater. Selain permainan aktor dan unsur artistik, Kamil menilai transisi antarbabak juga digarap dengan halus, sehingga membuat keseluruhan pertunjukan terasa menarik.
Reporter: Cindy Seviona Azahra, Siti Julfa Fitriyah
Editor: Adam Alfarraby
