Petaka Manipulasi Terselubung Child Grooming

Petaka Manipulasi Terselubung Child Grooming

Read Time:2 Minute, 50 Second
Petaka Manipulasi Terselubung Child Grooming

Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Melansir dari laman Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas), sepanjang 1–15 Januari 2026 kepolisian menerima 247 laporan kekerasan terhadap anak yang mencakup kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Sebagian laporan tersebut mengindikasikan pola manipulatif yang terjadi secara tersembunyi sebelum eksploitasi, yang dalam banyak kasus berkaitan dengan praktik child grooming.

Sementara itu, sepanjang 2025, Komisi Nasional Perlindungan Anak menerima 5.266 pengaduan pelanggaran hak anak. Grooming digital disebut sebagai salah satu pemicu kekerasan terhadap anak melalui interaksi daring yang sulit terdeteksi sejak awal. Merujuk penelitian bertajuk Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Child Grooming Akibat Keingintahuan yang Salah dalam Penggunaan Media Sosia (2025) oleh Salsabila Amilda, Yasmin Luthfiah Sutari, M. Arief Aqil Audi, Annisa Hafizhah dan Rosmalinda., menjelaskan bahwa pelaku membangun hubungan emosional dan kepercayaan korban secara bertahap sebelum melakukan eksploitasi. 

Ancaman eksploitasi seksual terhadap anak juga tercermin dari data Lembaga Perlindungan Saksi dan Koran yang mencatat 1.776 pemohon perlindungan terkait Tindak Pidana Kekerasan Seksual sepanjang 2025, dengan 1.464 di antaranya merupakan korban anak. Angka tersebut menegaskan bahwa eksploitasi seksual terhadap anak masih menjadi persoalan serius, serta menunjukkan  adanya pola pendekatan awal yang sering tidak disadari korban.

Pada Senin (16/2), Institut mewawancarai dosen Psikologi Anak, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zahrotun Nihayah untuk membahas pengertian, faktor risiko, serta dampak child grooming.

Apa yang dimaksud dengan child grooming?

Child grooming merupakan proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk memperoleh kepercayaan anak, bahkan kepercayaan orang tua, dengan tujuan eksploitasi, terutama eksploitasi seksual. Pendekatan tersebut dilakukan secara bertahap melalui pemberian hadiah berlebihan, janji palsu, serta hubungan emosional yang dibangun perlahan.

Apa saja faktor anak rentan menjadi target child grooming?

Terdapat beberapa faktor yang membuat anak rentan menjadi target child grooming. Faktor yang paling sering ditemukan adalah kurangnya perhatian orang tua, kebiasaan menghabiskan waktu sendirian di dunia digital, pengalaman menjadi korban perundungan, serta kondisi keluarga yang tidak harmonis.

Child grooming merupakan proses sistematis dan terencana, di mana pelaku secara perlahan membangun ketergantungan emosional korban.

Bagaimana dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai?

Dampak child grooming dapat dikenali melalui perubahan perilaku anak. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain anak menjadi tertutup, menyembunyikan hadiah dari seseorang, merahasiakan pertemuan, atau menunjukkan kedekatan tidak wajar dengan orang dewasa. Korban cenderung menarik diri dari orang tua dan guru, mengalami perubahan sikap drastis seperti murung, mudah marah, serta menunjukkan bahasa dan perilaku yang tidak sesuai usia.

Dari sisi emosional, korban dapat merasa bersalah berlebihan, takut mengecewakan pelaku, bingung membedakan kasih sayang dan manipulasi, serta cemas ketika ditanya mengenai aktivitas tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menurunkan rasa percaya diri, memunculkan perasaan tidak layak dilindungi, dan merenggangkan hubungan dengan keluarga.

Bagaimana cara membangun relasi sehat sebagai upaya pencegahan?

Penting untuk memahami batasan relasi yang sehat untuk mencegah child grooming. Di lingkungan keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi, mengajarkan batas tubuh dan emosi sejak dini, menormalisasi anak untuk bercerita, serta memantau aktivitas digital tanpa intimidasi.

Sementara itu, dalam ranah pendidikan, sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak dengan tidak menoleransi relasi personal berlebihan, melarang komunikasi privat tanpa izin, menerapkan kode etik perlindungan anak, serta meningkatkan kepekaan guru terhadap perubahan perilaku siswa.

Dengan meningkatnya kesadaran keluarga, sekolah, dan masyarakat, child grooming diharapkan dapat dikenali sejak dini. Hal itu merupakan langkah penting untuk melindungi anak dari manipulasi dan eksploitasi yang mengancam keselamatan serta kesehatan mental mereka.

Reporter: PF
Editor: Naila Asyifa

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Jadwal Ruwet Buat Mahasiswa FDIkom Risau Previous post Jadwal Ruwet Buat Mahasiswa FDIkom Risau
Menjahit Luka di Pondok Ranggon Next post Menjahit Luka di Pondok Ranggon