
Di balik aktivitas sehari-hari masyarakat, pekerjaan keperawatan yang menjadi fondasi keberlangsungan hidup kerap tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan—tidak dibayar. Mulai dari merawat anak, menjaga lansia, hingga mendampingi penyandang disabilitas. Semua aktivitas tersebut dikenal dengan istilah care work. Meski terdapat care work yang berbayar (paid), kebanyakannya malah tidak berbayar sama sekali.
Melansir dari magdalene, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, perempuan di Indonesia menghabiskan rata-rata 6,4 jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga tidak berbayar, lebih dari dua kali lipat waktu yang dihabiskan laki-laki. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang juga disampaikan oleh Magdalene mengungkap bahwa pada tahun yang sama, perempuan di seluruh dunia memikul sekitar 75 persen dari keseluruhan pekerjaan perawatan yang tidak berbayar.
Hal serupa juga terdapat dalam unggahan artikel infid.org. Laporan tersebut menyebut, sebagian besar care work di Indonesia dan dunia masih berlangsung tanpa kompensasi, meskipun membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak. Ditambah lagi, setiap hari pekerjaan perawatan yang tidak dibayar menghabiskan sekitar 16,4 miliar jam, setara dengan 2 miliar orang bekerja penuh waktu 8 jam sehari. Angka ini diperoleh dari penelitian di 64 negara yang mewakili sekitar 66,9% populasi dunia. Hal itu menunjukkan besarnya kontribusi pekerjaan perawatan.
Tumpukan tanggung jawab ini bukan hanya memangkas waktu istirahat mereka, tetapi juga membatasi akses perempuan terhadap pendidikan, peluang kerja, hingga berpengaruh pada kesehatan mental. Dampaknya semakin berat ketika beban tersebut berlangsung terus-menerus tanpa dukungan maupun pengakuan yang memadai.
Pada Selasa (25/11), Institut melakukan wawancara dengan Dosen Sosiologi Gender Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ida Rosyidah. Wawancara tersebut membahas tentang keadaan perempuan yang menjalankan care work di Indonesia.
Menurut Anda, bagaimana mendefinisikan care work atau kerja perawatan?
Care work adalah jenis pekerjaan yang berkaitan dengan pengasuhan dan perawatan, seperti merawat lansia, difabel, hingga mendampingi individu yang membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan ini tidak terbatas pada ranah profesional seperti perawat atau pendamping, tetapi juga mencakup aktivitas merawat yang dilakukan anggota keluarga terhadap kerabatnya yang memerlukan perhatian khusus.
Mengapa hingga saat ini kerja perawatan atau care work sering tidak dianggap sebagai kerja produktif, padahal waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak kalah besar?
Hal ini terjadi karena dalam persepsi umum, suatu pekerjaan dianggap bernilai hanya jika menghasilkan uang atau pendapatan (paid). Pekerjaan yang tidak bernilai secara ekonomi atau yang tidak dibayar (unpaid), kemudian tidak diakui sebagai pekerjaan.
Bagaimana bentuk care work yang tidak diakui di sektor informal?
Seperti dalam konteks nelayan, banyak perempuan yang membantu pekerjaan suami seperti menjahit jaring rusak, menemani melaut, atau mengurusi penjualan ikan ketika suaminya kelelahan. Namun, karena mereka tidak menghasilkan pendapatan langsung, mereka tidak dianggap bekerja dan tidak tercatat sebagai nelayan.
Akibatnya, ketika negara memberikan program pemberdayaan atau bantuan, yang dilibatkan hanya nelayan laki-laki. Padahal pekerjaan perempuan meski tidak dibayar, memiliki kontribusi. Jika menjahit jaring dilakukan orang lain, suaminya tentu harus mengeluarkan uang untuk membayar jasa tersebut.
Inilah problem unpaid workers dalam perspektif feminis, dimana negara tidak mampu menjangkau dan mengakui kontribusi perempuan, sehingga berdampak pada kemiskinan perempuan.
Bagaimana dampak dari anggapan umum bahwa care work bukanlah pekerjaan, terutama bagi masyarakat miskin yang harus merawat anggota keluarganya tetapi secara ekonomi tidak kuat?
Dalam perspektif feminis, masalah muncul karena banyak pekerjaan perawatan yang dilakukan perempuan, tetapi tidak diakui sebagai kerja ekonomi. Perempuan yang merawat orang tua, anak, atau anggota keluarga lain tanpa bayaran, kerap dipandang rendah sebagai sekadar ibu rumah tangga.
Kemudian banyak orang dari kelas ekonomi bawah harus merawat orang tua atau anak yang sakit, sementara mereka sendiri tidak memiliki kondisi ekonomi memadai. Dalam situasi ini, care work memunculkan dilema, seseorang harus berhenti bekerja untuk merawat anggota keluarga, tetapi dengan berhenti bekerja, ia kehilangan pendapatan yang justru dibutuhkan untuk biaya perawatan.
Jika seperti itu, persoalannya bukan hanya sekadar kewajiban moral merawat orang tua. Masalah besarnya adalah siapa yang bertanggung jawab terhadap keluarga miskin yang terpaksa melakukan care work tanpa dibayar, sekaligus kehilangan sumber penghasilan. Ini menjadi isu besar di masyarakat miskin, di mana jumlah kemiskinan masih tinggi.
Dalam konteks ekonomi kelas bawah, menurut Anda bagaimana seharusnya tanggung jawab negara dan masyarakat terhadap care work?
Untuk kelompok ekonomi bawah, pertanyaannya adalah bagaimana tanggung jawab negara dan masyarakat. Salah satu contoh adalah apakah zakat bisa diberikan secara kontinu kepada keluarga miskin yang harus merawat orang tuanya dan tidak mampu secara ekonomi. Ini membuka peluang tafsir baru tentang zakat tidak hanya untuk sembako, tetapi dikelola lembaga independen untuk mendukung kebutuhan para care workers.
Jadi zakat tidak hanya berhenti pada bantuan makanan, tetapi bisa diarahkan pada kebutuhan kesehatan atau dukungan lain bagi keluarga yang melakukan care work namun tidak punya sumber daya.
Menurut Anda, apakah kebijakan negara saat ini sudah cukup melindungi dan mendukung para care workers?
Kebijakan negara sekarang belum sepenuhnya cukup. Memang sudah ada rumah lansia yang diinisiasi masyarakat atau individu, terutama untuk lansia yang kesepian dan ditinggal anggota keluarga bekerja. Namun, di Indonesia masih kuat pandangan bahwa lansia harus dirawat anak atau keluarga. Anak yang menitipkan orang tuanya ke panti jompo sering dianggap tidak bermoral dan tidak berbakti, sehingga perilaku ini dipandang buruk. Pemahaman semacam ini membuat kebijakan care work sulit berkembang.
Bagaimana care workers dapat berkontribusi pada perekonomian negara?
Care workers sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika care work menjadi sektor jasa formal, misalnya perawatan lansia atau difabel. Saat mereka yang menggunakan layanan tersebut membayar, sektor ini bisa menjadi sumber pendapatan negara. Ini hanya mungkin jika profesi care workers dikelola secara profesional.
Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan negara untuk mendukung care workers, baik yang berbayar (paid) maupun tidak berbayar (unpaid)?
Untuk care workers yang unpaid, negara harus punya kebijakan yang jelas, terutama bagi mereka yang tidak mampu. Negara perlu bertanggung jawab atas kehidupan mereka, baik secara ekonomi, psikologis, maupun mental. Untuk care workers yang paid, pemerintah bisa memperkuat kapasitas mereka melalui fasilitas yang memadai dan pengembangan kompetensi.
Sementara itu, ketidakpastian pendapatan masih menjadi masalah bagi care workers. Seperti halnya Pekerja Rumah Tangga (PRT), masih berlangsung tanpa standar upah serta regulasi jelas. Karena itu, harus ada penghargaan yang layak bagi semua care workers, seperti gaji yang sesuai, perlindungan kerja, perlindungan kesehatan, dan pengakuan sosial. Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah edukasi terhadap masyarakat bahwa care worker adalah kerja penting yang harus diapresiasi.
Reporter : Anggita Rahma Dinasih
Editor : Mutya Sunduz Arizki
