
Terjadi pergeseran budaya dari minum alkohol ke alternatif lain, seperti minum kopi, olahraga, dan “mabar” alias main bareng. Selain itu, kemudahan akses informasi terhadap bahaya minuman beralkohol menjadi sebab penurunan.
Konsumsi alkohol di kalangan generasi muda terus menurun. Lembaga survei Gallup mencatat, selama dua dekade terakhir, konsumsi alkohol di kalangan generasi muda Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan hingga 62 persen. Tren serupa juga terjadi di Indonesia.
Melansir dari CNBC, konsumsi alkohol pada kelompok umur 15–24 tahun pada 2025 turun menjadi 0.13 liter per kapita dibanding 2024 yang sebesar 0.18 liter per kapita. Penurunan tersebut menunjukkan kecenderungan berkurangnya konsumsi alkohol di kalangan Generasi Z (Gen Z)—generasi kelahiran 1997-2012.
Pada Jumat (20/02), Institut mewawancarai Dosen Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Achmad Uzair Fauzan untuk membahas tren penurunan minuman beralkohol di kalangan Gen z. Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan konsumsi alkohol di kalangan Gen Z.
Bagaimana Anda melihat fenomena penurunan konsumsi alkohol di kalangan Gen Z?
Secara statistik, konsumsi alkohol pada Gen Z memang menurun. Namun, penurunan tersebut belum tentu mencerminkan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat secara menyeluruh. Kesadaran hidup sehat di kalangan Gen Z perlu dilihat berdasarkan kelas sosial dan konteks tertentu. Sebagai digital native, Gen Z rentan terhadap risiko kesehatan akibat kebiasaan screen time yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan pola hidup digital. Selain itu, Gen Z memiliki kelas sosial, kondisi ekonomi, pengalaman sosial, dan wilayah tempat tinggal yang beragam.
Penurunan konsumsi alkohol mungkin memang terjadi pada kelompok Gen Z menengah ke atas yang mampu membeli alkohol secara resmi dan tentu mahal. Sedangkan, Gen Z menengah ke bawah mungkin tetap mengonsumsi alkohol alternatif yang lebih murah secara harga, tapi lebih berisiko terhadap kesehatan.
Apa saja faktor sosial yang membuat Gen Z mulai mengurangi atau meninggalkan konsumsi alkohol?
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perubahan tersebut. Pertama, meningkatnya kesadaran kesehatan, terutama di kalangan Gen Z kelas atas. Kedua, paparan media sosial yang memudahkan akses terhadap informasi kesehatan maupun konten keagamaan. Ketiga, perubahan budaya pergaulan. Berkembangnya budaya kopi di kafe menggeser budaya pergaulan yang sebelumnya identik dengan alkohol. Kopi dinilai lebih inklusif dan terjangkau, serta ruang sosialnya lebih terbuka dibanding bar. Keempat, perubahan makna kedewasaan. Jika sebelumnya alkohol dianggap sebagai simbol kedewasaan, kini terdapat berbagai cara lain untuk mengekspresikan identitas tersebut.
Mengapa persepsi gaya hidup sehat meningkat di kalangan Gen Z?
Peningkatan persepsi gaya hidup sehat dipengaruhi oleh kemudahan akses informasi. Sebagai digital native, Gen Z lebih mudah memperoleh informasi mengenai risiko dari konsumsi alkohol. Informasi tersebut juga tersedia dalam jumlah besar dan beragam.
Selain itu, konten edukatif dan keagamaan kini lebih mudah diakses dibanding generasi sebelumnya. Faktor tersebut turut memengaruhi cara pandang Gen Z terhadap alkohol, yang kini tidak lagi dianggap sebagai simbol kedewasaan.
Seberapa besar pengaruh kondisi ekonomi terhadap keputusan Gen Z untuk tidak minum alkohol?
Kondisi ekonomi memiliki peran dalam menentukan keputusan untuk tidak mengonsumsi alkohol. Bagi Gen Z kelas menengah ke atas, kemampuan untuk membeli alkohol tetap ada, tetapi perubahan gaya hidup membuat mereka meninggalkan konsumsi alkohol.
Sedangkan, Gen Z kelas menengah ke bawah menghadapi tekanan ekonomi, seperti tingginya angka pengangguran dan rendahnya upah. Kondisi tersebut membuat mereka mengurangi konsumsi alkohol karena alasan finansial. Sementara itu, sebagian kelompok kelas bawah justru beralih ke alkohol alternatif yang lebih murah, tetapi berisiko lebih besar bagi kesehatan.
Mengapa pilihan untuk tidak minum alkohol kini lebih diterima secara sosial?
Budaya konsumsi alkohol sebenarnya lebih identik dengan budaya barat. Di Indonesia, tidak mengonsumsi alkohol justru merupakan norma sosial yang umum. Sejak dahulu, konsumsi alkohol di Indonesia lebih bersifat subkultur yang terbatas pada kelompok sosial tertentu, bukan budaya dominan masyarakat.
Selain menurun, apakah ada perubahan pola konsumsi dari alkohol ke dalam bentuk lain di kalangan Gen Z?
Ada kemungkinan terjadi pergeseran budaya konsumsi alkohol ke aktivitas lain sebagai bentuk ruang sosial. Misalnya, budaya minum kopi di kafe, walaupun relatif elitis karena biayanya tidak murah. Selain itu, olahraga seperti lari, padel, dan gym juga semakin populer. Alternatif lain adalah gaming yang lebih terjangkau dan menjadi sarana bersosialisasi melalui kegiatan “mabar” atau bermain bersama.
Reporter: MHR
Editor: Naila Asyifa
