Perjuangan Kemanusiaan Untuk Sumatra

Di tengah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatra, solidaritas datang dari relawan yang terdiri dari organisasi kemahasiswaan di UIN Jakarta guna membantu pemulihan wilayah terdampak melalui penyaluran bantuan kepada para korban di sejumlah titik wilayah bencana.


Musibah besar terjadi dua bulan menjelang pergantian tahun, tepatnya pada 24 November 2025. Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda  Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peristiwa tersebut menewaskan 967 jiwa, sementara 262 orang lainnya dinyatakan hilang. Selain itu, ribuan warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan tempat tinggal dan ancaman bencana susulan. 

Dampak bencana yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dari sosial, ekonomi, hingga infrastruktur. Melansir dari BMKG, kerugian ekonomi akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun. Sebanyak  3,5 ribu bangunan rusak berat, 271 akses jembatan hancur, dan 282 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi logistik, serta akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.

Di tengah situasi tersebut, muncul solidaritas dari sejumlah organisasi kemahasiswaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Organisasi kemahasiswaan itu bersolidaritas dengan turun langsung menjadi relawan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Inisiatif anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) itu bermula dari dorongan rasa empati terhadap kondisi Sumatra. Proses keberangkatan melalui koordinasi dengan pihak rektorat guna mendapatkan izin resmi, tim relawan diberangkatkan ke lokasi terdampak. 

Sebanyak sepuluh relawan yang disetujui pihak kampus diberangkatkan guna membantu pemulihan wilayah terdampak bencana, khususnya di daerah Malalo dan Agam, Sumatera Barat. Tim relawan tersebut terdiri atas perwakilan UKM Korps Sukarela-Palang Merah Indonesia (KSR PMI), Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan-Kembara lnsani lbnu Battuttah (KMPLHK Ranita), dan Kelompok Pecinta Alam-Arti Keagungan dan Keindahan Alam (KPA Arkadia) masing-masing dua orang, serta satu orang dari UKM Praja Muda Karana (Pramuka). 

Selain itu, terdapat perwakilan dari Lembaga Semi Otonom (LSO) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKom), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), masing-masing satu orang.

Tim relawan UIN Jakarta menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui dua kloter. Pada kloter pertama, bantuan yang diberikan secara langsung kepada masyarakat terdampak, khususnya anak-anak. Bantuan yang disalurkan meliputi paket kebersihan (hygiene kit), bahan pangan, serta memberikan makanan bergizi. Selain itu, para relawan juga memberikan layanan  Psychological First Aid (PFA) sebagai upaya penanganan awal terhadap kondisi psikologis korban.

Pada kloter kedua, bantuan disalurkan melalui pihak Pengelola Kas Desa (PKD) setempat. Bantuan yang diberikan pada kloter ini berupa pakaian layak pakai dan makanan kaleng untuk memenuhi kebutuhan warga. 

Farhan Maulana Achyar, relawan asal UKM KMPLHK Ranita membagikan kisahnya saat melakukan aksi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana. Farhan mengatakan bahwa tim relawan sempat merasa kesulitan saat proses adaptasi terhadap kondisi lingkungan berupa cuaca yang tidak menentu. Hal tersebut turut memengaruhi kondisi kesehatan relawan, diantaranya menyebabkan kondisi tubuhnya menjadi kurang fit seperti radang tenggorokan. 

“Mungkin tantangan yang saya alami, lebih ke ketika mengalami cuaca pancaroba. Karena benar-benar cuaca tuh berganti-ganti, sering kali kita dapati cuaca panas, tiba-tiba dingin, tiba-tiba panas lagi. Jadi cuaca di sana sangat tidak menentu,” tutur Farhan pada Senin (18/5).

Selain faktor cuaca, tim relawan juga menghadapi kendala dalam distribusi bantuan, yang memengaruhi efektivitas penyaluran. Menurut Farhan, kerusakan infrastruktur dan terbatasnya akses transportasi menyebabkan sejumlah bantuan menumpuk di titik tertentu dan tidak terdistribusi secara merata kepada masyarakat yang membutuhkan. “Sebenarnya sumbangan sudah banyak yang masuk, tapi karena kendala akses yang minim, sehingga penyebarannya hanya di satu titik saja,” tegasnya. 

Farhan juga menjelaskan terdapat banyak ketidaksesuaian antara kebutuhan warga dengan bantuan yang diterima. Seperti, saat warga butuh pangan, tetapi persediaan sandang lebih banyak. “Bantuan sering tidak tepat sasaran; misalnya sebuah desa membutuhkan bantuan pangan, tetapi yang dikirimkan justru lebih banyak bantuan sandang,” tambahnya

Oleh karena itu, Farhan berharap kampus dapat terus memberikan dukungan terhadap kegiatan kerelawanan dan kemanusiaan agar respons terhadap bencana di masa mendatang dapat berjalan lebih efektif dan terkoordinasi. 

Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXXI dengan judul yang sama. 

Reporter: OS (Kontributor)
Editor: Anggita Rahma Dinasih

Previous post Di Balik Layar Program Green Campus