Memori Hujan Seruni

Read Time:5 Minute, 31 Second
Sumber: http://berita.suaramerdeka.com

Oleh: Putra Gangga*


Seruni, apa arti ikatan kita?
Kau hanya diam. Kau bicara tentang pagi yang tiba-tiba mendung. Lalu dalam sebentar, gerimis menetes. Percakapan kita terpotong. Kita terpaksa mencari tempat berteduh. Dalam sebentar, kau khusyuk dalam diammu. Aku pun tak mau mengganggumu. Aku memilih diam, menatap lurus ke depan, memandangi titik-titik gerimis yang berkelebatan.
Kenapa kau berkelebat pula dalam bayangan?
Aku menoleh sebentar mencuri pandang pada sisi wajahmu yang segar. Seruni, kau tak sadar. Hujan telah merebut jiwamu. Tiba-tiba aku cemburu. Hujan begitu pandai menarik perhatianmu. Kau begitu bahagia memandang titik demi titik lincah gerimis itu.
“hujan, pagi ini begitu indah”, bisikmu lirih. Kupandangi dirimu lagi. Kau masih asik dengan imajinasimu.
“mengingatkanku pada masa-masa kecil”.
Hujan, rupanya kau merampas Seruniku sejak dari kecil. Pantas Seruniku tak lepas dari kenangan tentangmu.
Kau tiba-tiba menengadah, tanganmu terentang sembari menghela nafas panjang. Matamu terpejam, kau sambut hujan. Kian deras. Kian deras. Kau kian jauh dan dalam.Bibirmu bergetar. Pelan. Suaramu lirih, hampir tak terdengar dilumat siraman hujan dan desauan angin. Kau menggumam nyanyian. Aku mendengar. Iramanya merdu. Sendu. Apa makna nyanyian itu? Kau semakin dalam.
Kau semakin aneh, Seruni. Apa artinya hujan buatmu?
Tiba-tiba kau pucat, Seruni. Kau mengerjap. Matamu basah. Irama suaramu kian sendu. Semakin bergetar. Sedang hujan kian lebat.
Kenapa Seruni?
Kini kau benar-benar bergetar. Matamu kian basah. Kau menangis. Tanpa aku mengerti, aku tertikam sendu iramamu. Aku merasa kau sudah di puncak bayangan tentang hujan ini. Akhirnya, kau roboh ke dalam pelukanku yang sudah siaga sejak tadi.
***
Sejak itu, kita tak lagi bersua. Kini aku menjadi penyendiri, Seruni. Kau sulit aku temui. Dimana kini, bahkan, aku tidak tau. Aku tak dapat menemukan ragamu. Hanya selembar surat yang pernah kau titipkan untukku. Tentang apa aku tak tau. Aku tak pernah membukanya. Katamu itu surat rahasia untukku. Tapi kau melarang aku membacanya. Kau aneh, Seruni. Tapi seberapa pun anehmu, aku tak dapat melanggar perjanjian ini.
Aku sudah menghitung, terakhir kali kita bersua hari rabu pagi saat hujan deras dan kau kehilangan dirimu. Kini sudah memasuki rabu kesembilan. Besok, kita akan memasuki rabu yang kesepuluh. Dan kita tak pernah-pernah bisa berjumpa. Kau tak ada kabar sedikitpun. Setiap kali aku ke rumahmu, keluargamu bilang kau tak ada. Aku curiga kau mengatur segalanya. Kau memang hendak mengambil jarak dariku, Seruni. Kau sadis. Kenapa kita pernah benar-benar bersama, meniti ruang, melewati waktu dan berbagi cerita yang indah dan sendu? Kenapa kita pernah sungguh dekat hingga kita benar-benar lupa ada jarak yang menyekat? Dan segalanya berakhir begini.
Aku benci. Dirimu aku caci. Diriku aku maki. Kita dua mahluk bodoh, mudah terpedaya rayuan keindahan. Kita mudah lupa tentang ajaran bahwa segala yang terikat oleh ruang dan waktu, juga terikat pada ketidakabadian. Kita mudah terlena oleh imaji-imaji jumawa keindahan. Ahh, mampus. Bila begini rasanya, kita baru sadar kebodohan kita. Kita baru sadar betapa segalanya permainan.
Mampus, kesedihan atau tangis pun tak kan mampu menolong lepas dari keadaan ini. Kesedihan atau tangis hanyalah ekspresi kelemahanmu, kelemahan kita.
“brakkk…”
Meja di beranda rumahku ambruk seketika. Kacanya pecah menjadi kepingan-kepingan. Kaki-kakinya patah. Baru setelah beberapa saat, aku sadar. Sorot beberapa mata di sekeliling tertuju padaku: ayah, ibu dan adikku. Mereka kaget menatapku. Tak ada reaksi. Diam saja hingga aku pergi menghindar dari mereka.
“kau mau kemana?”, serentak bertiga memanggilku. Aku hanya menggeleng pergi.
***
Di hutan itu, di hutan dimana aku dan Seruni terakhir kali berjumpa, aku kini duduk menatap kosong. Di sampingku, bila aku menoleh ke samping, aku melihatnya menyambut hujan, riang, bergetar dan akhirnya menggigil hingga tak sadarkan diri. Kali ini aku tidak cemburu. Tak ada hujan tak ada Seruni. Hanya ada kehilangan.
“kau yang bernama Nusa?” suara diantara angin. Seruni? Aku menegakkan keyakinanku yang timbul tenggelam. Aku cari-cari darimana gerangan suara itu.
“aku Asih”. Aku menggangguk lemas. Keyakinanku kian tenggelam, “adiknya Seruni”, katanya lagi. Seruni? Kembali aku kuat.
“kakakku pernah menitipkan surat untukmu, dia memintaku hari ini datang kepadamu”, sejenak dia mengambil jeda, “awalnya aku ragu kau di sini. Tapi kakakku yakin sekali, kau di sini dan belum membaca surat itu hingga tiba saatnya. Sekarang kau boleh membacanya. Inilah saatnya…”.
“apa maksudmu?”, potongku. Dia diam, “Apa untungnya aku membacanya saat ini? Katakan saja dimana Seruni?”.
“kau akan tau dari surat itu”, singkat, cepat dan lalu ia pergi menambahkan misteri. Terpaksa untuk menemukan satu persatu dari segala misteri yang telah aku gudangi, aku harus membaca surat itu. Aku pulang.
***
Kak, terima kasih mau menyimpan surat ini dan mau membacanya. Setelah ini, aku tak kan membebani kakak. Itu janjiku.
Demikian dia memulai surat itu.
Maaf atas pertanyaan yang tak sanggup aku beri jawaban: Apa arti ikatan kita? Sedang kau begitu setia menyimpannya. Maaf. Setiap kali pertanyaan itu hadir, aku pura-pura tak mendengar, kadang aku alihkan pada pembicaraan lain. Maaf, bukan egois, hanya aku tak dapat menjawabnya. Karena hujan! Setiap hujan mengingatkanku pada seseorang, pada waktu yang aku tunggu kapan datang.
Seseorang itu adalah ibumu. Waktu yang kau maksud adalah suatu peristiwa tertentu yang membawamu pada ingatan panjang tentang kesalahan dan kerinduan, tentang dosa dan cinta. Dan kau dibuat gila.
Waktu itu, hujan begitu lebat. Di rumah, dimana kau dan ibumu tinggal, tak ada orang lain. Ibumu berteriak-teriak memohon pertolongan. Saat itu, ibumu hendak melahirkan Asih. Sebab tak ada orang lain, kau beranikan diri mengambil tindakan sendiri: memapah ibunya hendak membawanya ke rumah sakit.
Di depan rumahnya, di tengah derasnya guyuran hujan, dalam keadaan memapah ibunya menuju jalan, kau tergelincir. Tubuhmu limbung kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Ibumu ikut terjatuh pula. Kepala ibumu terbentur batu di sisi jalan. Pelipis ibumu berdarah. Pertolongan orang-orang tak lebih cepat dari maut. Sang ibu tak tertolong. Beruntung sang bayi terhindar dari rencana kematian.
Saat itu, sikapmu pada hujan menjadi ganda. Kau mengutuk sekaligus merindukan hujan. Mengutuk hujan yang membikin petaka kematian. Merindukan dan berharap hujan agar membawanya kepada sang ibu dimana kau tak mampu menikam rindu dan perasaan bersalah. Kepadanya kau akan melabuhkan perih dosa dan kesalahan. Kepadanya kau akan melabuhkan derita.
Tak perlu kau khawatir .. apa arti ikatan kita? Ikatan kita terjaga dalam masing-masing kita. Ikatan kita melampaui ruang-waktu. Bukankah kita sama teruji, dalam diam kita saling menanti, dalam rindu saling menunggu, dalam jarak yang memisahkan kita saling setia memendam sayang? Kita serahkan ikatan kita pada keabadian kematian.
Akhirnya, aku ditikam sepi dan gebu kerinduan yang bercampur duri kehampaan. Dalam diriku, setiap malam aku bernyanyi…
Dimana kamu, O Malam?
Beri aku kantuk dan ketenangan
Aku bosan dihantui siang, kenangan
Dihantui dunia dan kegaduhannya
Dimana kamu, O Angin?
Tega kau simpan desirmu
Kau biarkan aku diliput gerah,
resah dan segala gundah

Ciputat, 30 Nopember 2014

*Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan penyuka Wayang

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Infografik dan Nilai Foto dalam Berita
Next post Embun