Potret Pemuda Kreatif Pasca Reformasi

Read Time:3 Minute, 10 Second

Reformasi sudah berlalu dua dekade. Kala itu –saat rezim Soeharto masih memimpin– Soeharto lebih memprioritaskan pembangunan fisik yang membutuhkan stabilitas sosial, politik, dan keamanan. Menjaga stabilitas negara membutuhkan sistem kontrol yang baik. Imbasnya, kebebasan berekspresi pun dibatasi.
Memasuki masa demokratisasi, kebebasan berekspresi mulai gencar disuarakan oleh pelbagai kalangan. Hal ini mendorong semangat generasi muda untuk menciptakan produk kreatif dan terobosan baru untuk mengatasi rintangan sistem kenegaraan. Generasi muda mengemban amanat yang besar untuk mewujudkan cita-cita negara, sesuai harapan penggerak reformasi masa itu.
Iklim demokrasi membawa nafas baru bagi generasi muda untuk terus melakukan inovasi dan berkontribusi nyata terhadap negara. Salah satunya Pegiat Pendidikan Rosa Dahlia mengatakan, sudah lima tahun lamanya ia mengajar di Papua. Sejak 2013, ia mengabdi di pedalaman Papua. Wanita yang akrab dipanggil Rosa ini terinspirasi untuk mengajar di Papua setelah membaca buku “SokolaRimba” karangan Butet Manurung.
Rosa mengaku pernah mendapat tawaran mengajar di kota, namun perempuan asal Magelang itu menolak. Ia lebih memilih untuk mengajar dan mengabdikan dirinya di pedalaman Papua. Banyak rintangan yang dirasakan Rosa saat mengabdi di Papua, seperti terserang penyakit Malaria dan diberhentikan dari yayasan yang menaunginya. Namun, Rosa tetap tegar dengan komitmennya untuk mengabdi.  
Rosa berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan kebebasan berekspresi yang mulai digalakkan pasca reformasi. Menurutnya, kaum muda harus bisa membuat sesuatu sesuai bakat yang dimiliki. “Tidak harus sesuatu yang besar, yang terpenting punya komitmen,” ujarnya, Selasa (8/5).
Senada dengan Rosa, Alumni Universitas Paramadina Ainur Hidayat, juga berkarya di ranah pendidikan. Sejak 2016 lalu, lelaki yang akrab dipanggil Ai ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Sekolah Multikultural di Pangandaran, Jawa Barat. Sekolah yang dibentuknya pada 2016 lalu memiliki program sekolah gratis yang mempertemukan anak-anak dari pelbagai daerah. Melalui sekolah ini, Ai berharap dapat menumbuhkan rasa toleransi dan perdamaian.
Ai mengatakan, ada satu ide yang harus diperjuangkan dalam jagat pendidikan. Menanamkan benih-benih kritisisme. Menurutnya, sistem pendidikan sekarang terkesan kuno. Hal ini karena program kementerian yang membuat sekat pada pola pikir siswa, sehingga siswa tidak dapat berpikir kritis. “Saya paling tidak suka ada sekolah yang membentengi secara simbolik siswa-siswa di sekolah untuk tidak bebas,” ucap Ai saat ditemui usai Diskusi 20 Tahun Reformasi, Selasa (8/5).
Berbeda dengan Rosa dan Ai, Leonika Sari Njoto Boedioetomo berhasil membuat inovasi di bidang kesehatan. Demi melancarkan program donor darah, perempuan berdarah Surabaya ini membuat aplikasi dan websitebernama Reblood. Leo, begitu panggilannya, telah mendirikan Reblood sejak 2015.
Leo mengatakan, selama ini Indonesia kekurangan stok darah –minimal satu juta kantong darah– dalam setiap tahunnya. Menurutnya, banyak orang ingin mendonorkan darah. Namun, banyak yang tidak tahu di mana dan kapan bisa mendonorkannya. Reblood di sini hadir untuk membantu masyarakat untuk mengakses informasi terkait donor darah dengan lebih mudah melalui aplikasi dan websiteyang ia buat.
Selain itu, Leo juga mengajak anak-anak muda untuk mendonorkan darahnya. Menurutnya, orang bisa hidup sehat dengan donor darah. Namun ia menyayangkan, pendonor darah dari kalangan anak muda masih sedikit. Khususnya wilayah Jakarta. “Di Jakarta, yang mendonorkan darah biasanya berumur 40 tahun ke atas. Sedangkan anak mudanya hanya 30 persen saja,” kata alumni Institut Teknologi Sepuluh November itu saat berdiskusi di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (8/5).
Salah seorang pengunjung Thalitha Avifah Yuristiana menyatakan, anak muda pasca reformasi punya sisi positif dan negatif. Positifnya, banyak generasi muda yang peduli lingkungan. “Di sisi lain, era digital juga menanamkan sikap apatis pada generasi muda,” tutur Thalitha yang juga Mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Selasa (8/5).  
Diskusi ini diselenggarakan oleh Tempo Media Group yang bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Pertingatan 20 Tahun Reformasi mengusung tema “Kembali  ke Rumah Rakyat.” Tak hanya diskusi, rangkaian acara ini juga diisi pameran foto dan pembacaan puisi dari para tokoh ternama yang telah berlangsung dari tanggal 7 sampai 21 Mei 2018 di Gedung Nusantara IV dan V, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.
N

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Reformasi dalam Bingkai Seni
Next post Rokok, Aturan, dan Kampus