Galang Donasi Lewat Profesi

Galang Donasi Lewat Profesi

Read Time:2 Minute, 22 Second

Galang Donasi Lewat Profesi
Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) sedang melakukan pertunjukan dengan piringan bersama seorang pengunjung di Car Free Day Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (3/2). Pertunjukan ini guna untuk menggalang donasi di hari kanker sedunia bersama YKAKI Berani Gundul 2019.
Badut menghibur untuk sebuah profesi. Namun berbeda halnya dengan ABI, yang menjadikan badut sebagai bentuk aksi sosial.
Badut sangat identik dengan kebahagiaan, perilaku konyol, dan berbagai pernak-pernik perlengkapan sukses membuat siapa pun tertawa saat melihatnya. Polesan cat warna merah di hidungnya serta sepatu besar, tak pelak menambah kesan menghibur dari mimik wajahnya.

Banyaknya perlengkapan pementasan yang dikenakan badut, kerap kali menimbulkan stereotip akan profesi yang remeh. Karena selain terkesan enteng, profesi ini dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa keahlian khusus.

Akan tetapi, ditangan Dedy Delon dan kawan-kawan stereotip itu diubah. Badut tidak lagi sebatas profesi yang identik semata-mata untuk hiburan saja, justru dijadikan profesi yang kaya akan nilai sosial. Dengan membentuk Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI), Dedy bersama teman seprofesinya mulai melakukan penggalangan dana dengan melakukan pertunjukan badut dengan tarif sukarela.

Hasil dari pertunjukan didonasikan untuk membantu anak-anak penderita kanker, yatim piatu dan bencana alam. Donasi tersebut kemudian disalurkan kepada beberapa yayasan yang dirasa tapat, seperti Yayasan Amarilis, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia hingga Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia.

Upaya penggalangan dana tidak berhenti sampai di situ, ABI juga menjual merchandise berupa pin dan kalender di Car Free Daykawasan Bundaran Hotel Indonesia. Kalender dan pin hasil produksi sendiri ini dijual seharga 10 ribu, dengan modal yang berasal dari para donatur untuk selanjutnya dijual kembali.

Selain itu, ABI juga menjual dan memproduksi atribut badut, seperti sepatu dan wig badut. Hasil keuntungan nantinya disatukan dengan agenda penggalangan dana lain. “Bisa dibilang kita shodaqoh profesi,” ucap Dedy,Minggu (3/3).

Komunitas yang terbentuk sejak 28 Januari 2018 kini telah beranggotakan 12 badut tetap. Salah satunya Irwan Riswara atau yang akrab dipanggil Asep. Berawal dari partisipasi dalam pertunjukkan galang dana, kini ia bergabung dengan ABI. “Berawal dari ajakan, akhirnya masuk komunitas,” terang Asep, Kamis (7/3).

Perjalanan awal menjadi seorang badut adalah hal yang tidak mudah bagi Asep. Karakter Asep yang tidak acuh mulai berubah seiring dengan keikutsertaan bersama ABI. Tetapi, seiring dengan pelatihan profesi badut yang diajarkan ABI alhasil sedikit demi sedikit jiwa sosialnya mulai tumbuh. Asep akhirnya bergabung dengan ABI Januari 2019, “banyak belajar nilai-nilai sosial dari komunitas ini,” jelasnya, Kamis (7/3).

Perjalanan ABI hingga satu tahun ini tak semua berjalan mulus. Keterbatasan dana transportasi untuk ke daerah-daerah merupakan suatu kendala terbesar yang harus dihadapi. “Setidaknya ada media yang memberikan sponsor,” ungkap Dedi Delon, Minggu (3/3).

Kedepannya, ABI berkeinginan untuk melatih anak-anak gelandangan dan kolong jembatan agar memiliki keahlian sulap maupun pantomim. Tidak tertinggal pertunjukan akrobatik yang diberikan secara cuma-cuma di 2019 ini. “Tetapi belum mendapat sokongan dan berharap dilirik pemerintah,” ucap Asep, Minggu (3/3).

Nurul Dwiana

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Tabloid Edisi 52
Wadah Kreasi Pemuda Katulampa Next post Wadah Kreasi Pemuda Katulampa