Matinya Agenda Reformasi

Read Time:2 Minute, 27 Second

Dalam rangka dua puluh satu tahun setelah Reformasi 1998, Komite 1 Mei untuk Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Kesejahteraan (Komitmen) mengadakan aksi peringatan 21 tahun Reformasi di Taman Aspirasi Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Minggu (19/5). Aksi diadakan sebab Komitmen menganggap bahwa agenda-agenda reformasi tidak hanya mengalami kemunduran, tetapi sudah sepenuhnya mati.
Dengan mengusung slogan “Reformasi Mati, Rebut Demokrasi”, Komitmen meyakini bahwa
reformasi yang seharusnya identik dengan nilai-nilai demokrasi, tetapi nyatanya sarat akan represi. Untuk itu, slogan ini diusung guna mengembalikan semangat reformasi. Aksi peringatan kali ini juga ditujukan bagi seluruh masyarakat untuk dapat kembali merebut nilai-nilai demokrasi yang kian terkikis.
Untuk mengisi aksi, beragam pentas seni dibawakan oleh berbagai elemen masyarakat. Salah satunya ialah monolog yang dibawakan oleh Mohamad Chandra Irfan. Dengan tema “Senjakala Orde Preman”, dengan lantangnya Chandra atau yang akrab dengan panggilan Buli Ju menggambarkan kekerasan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru terhadap aksi protes sipil pada saat itu.
Tak hanya monolog, terdapat pula suguhan musik dari Serikat Kebudayaan Masyarakat
Indonesia (SeBUMI). Dalam alunan musiknya, SeBUMI turut mengkritisi hal-hal yang terkait
dengan demokrasi. Tidak hanya itu, bentuk kritik juga dilontarkannya terhadap sistem
kapitalisme yang sangat merugikan rakyat dan hanya menguntungkan para pemilik modal.
Seluruh pementasan yang disajikan pada aksi peringatan Reformasi kali ini berisikan kritik
terhadap segala situasi yang terjadi di Indonesia, khususnya mengenai kebebasan maupun demokrasi. Salah seorang massa aksi, Jalu Prakoso menganggap bahwa aksi peringatan semacam ini menjadi salah satu alternatif dalam menyampaikan tuntutan yakni melalui pementasan seni. “Seni sebagai alat perlawanan,” ucapnya, Minggu (19/5).
Dalam aksi peringatan juga terpampang spanduk yang berisikan foto korban dari kekerasan era Orde Baru. Koordinator Lapangan (Koorlap) Christian mengungkapkan bahwa demokrasi tidak hanya mengalami kemunduran, namun demokrasi sudah mati. “Kemunduran demokrasi jelas terlihat dan harus direbut kembali,” tegasnya, Minggu (19/5) di Taman Aspirasi, Monas.
Aksi peringatan banyak dihadiri oleh kalangan pemuda, salah satunya datang dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Salah seorang anggota AMP, Erepul mengungkapkan bahwa agenda reformasi sudah mati dan pencederaan demokrasi terus terjadi, salah satunya di Papua. “Tidak ada demokrasi lagi, khususnya di Papua,” ungkapnya, Minggu (19/5).
Senada dengan Erepul, salah satu anggota Komite Aksi Nasional Pemuda Mahasiswa Indonesia(KANPMI), Kemal turut hadir dalam aksi peringatan Reformasi kali ini. Ia menganggap bahwa sering terjadi tindakan represi oleh aparat negara dan juga perampasan ruang hidup. “Demokrasi itu ketika hak berpendapat dapat dijamin,” tuturnya, Minggu (19/5).
Aksi yang berlangsung dari sore hingga malam hari ini ditutup dengan pernyataan sikap yang
disampaikan oleh anggota Komitmen, Gus Roy Murtadho. Isi dalam pernyataan sikap kali ini sedikitnya mencakup tentang kegagalan reformasi, pencegahan korupsi, sistem politik korup, terorisme, hak masyarakat adat, represi aparat negara, nasib rakyat Papua, reformasi militer, dan hak serta kebebasan sipil.
Banyak pesan yang ingin disampaikan dari berlangsungnya aksi peringatan ini. Koorlap aksi Christian mengharapkan agar semangat reformasi dapat kembali digelorakan, dan seluruh isi dari pernyataan sikap yang disampaikan dapat memantik seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai demokrasi. “Semangat reformasi harus dipupuk kembali,” tutupnya, Minggu
(19/5).

MIA

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Dema-U Menyoal Pemilu 2019
Next post Nuansa Harmonisasi di Menara Kudus