Peran Mahasiswa dalam Pergerakan Era 4.0

Peran Mahasiswa dalam Pergerakan Era 4.0

Read Time:2 Minute, 48 Second
Peran Mahasiswa dalam Pergerakan Era 4.0

Peralihan zaman yang diiringi dengan pesatnya kemajuan teknologi di era 4.0 tidak memupuskan semangat pergerakan mahasiswa. Hal tersebut terbukti dengan adanya aksi mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswa memiliki beberapa peran sebagai kontrol sosial. Salah satunya adalah pro terhadap kepentingan rakyat. Aksi mahasiswa yang turun ke jalan pada 23-24 September di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bukti mahasiswa memiliki nilai idealisme yang tinggi. 
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa mengajukan tujuh tuntutan Aksi Reformasi Dikorupsi. Salah satu tuntutan mahasiswa yang sampai sekarang masih disuarakan yaitu pembatalan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).  Gerakan mahasiswa tersebut tentunya bertujuan untuk terciptanya berbagai kondisi yang ideal di masyarakat. 
Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarif Hidayatullah, Riski Ari Wibowo turut memberi tanggapan mengenai relevansi aksi mahasiswa di depan Gedung DPR di tengah era revolusi industri 4.0. Menurut pandangannya, aksi tersebut selaras dengan zaman di era 4.0. Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh mahasiswa di antaranya selektif dalam memilih berita yang beredar. “Dalam era teknologi seperti sekarang ini kita juga harus pintar untuk memilah-milah berita-berita yang beredar di sosial media,” Ucap Ari Pada Jumat (18/10)
Mahasiswa juga berperan sebagai kekuatan moral yang memiliki sikap kritis dalam menilai kebijakan di jajaran pemerintah. Kekuatan moral dalam hal ini menjadi poin penting yang harus diperhatikan oleh mahasiswa. Selain itu, penuangan ide dan gagasan mahasiswa adalah pokok utama dalam peranannya di era revolusi industri 4.0 (four point zero). Hal tersebut diungkapkan Ketua Jurusan Program Studi Ilmu Politik, Iding Rosyidin “ Ide dan gagasan bisa dituangkan baik melalui tulisan atau forum-forum yang lebih luas” Ujar Iding, Pada Senin (21/10) 
Dengan peralihan zaman menuju ke era revolusi industri 4.0, memberikan perubahan sangat cepat terkait dengan segala dimensi kehidupan dengan wujud adanya sebuah digitalisasi sektor kehidupan. Revolusi ini tentunya juga menjadi tantangan mahasiswa dalam menentukan arah baru pergerakan. Terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa salah satunya adalah menjaga idealisme dan daya nalar kritis.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo Semarang, M. Eka Gusti Agung Pratamamengatakan dalam era ini mahasiswa dihadapkan oleh berbagai persaingan global. Di sisi lain, mahasiswa juga turut berperan dalam mengawasi dan mengkritisi pemerintah sebagai representasi dari masyarakat. “Pembangunan daya nalar kritis itu penting,”  ungkapnya saat diwawancarai via WhatsApp pada Jumat (11/10)
Sementara itu, Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM), Nizar Surya Isadono, menambahkan bahwa mahasiswa pada era ini masih identik dengan aksi turun ke jalan, gerakan yang masih terebak romantisme 1998. Banyak orang mengatakan bahwa gerakan yang demikian itu sudah tidak pada zamannya atau sudah tidak efektif dilakukan di zaman yang serba  canggih dan serba digital ini. Baginya gerakan mahasiswa yang berkiblat pada 1998 sampai saat ini tetap relevan dan dibutuhkan oleh negara ini, ungkap Nizar saat diwawancarai via WhatsApp pada Jumat (18/10)
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Masri Mansoer pun turut memberikan tanggapan mengenai pergerakan mahasiswa di era revolusi industri 4.0. Masri mengungkapkan salah satu yang dibutuhkan oleh mahasiswa era 4.0 adalah mahasiswa yang kritis terhadap kondisi di sekitar, terutama di sektor pemerintahan. Selain daya kritis, mahasiswa juga harus selektif dalam memandang sebuah berita yang beredar. “ Ciri mahasiswa era ini harus bisa memilah-memilah, bisa menganalisis, dan bisa mengkritisi berita-berita yang tersebar,” jelasnya Pada Kamis, (10/10).
Ika Titi Hidayati

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Hijrah Milenial: Dorongan atau Tren Belaka Previous post Hijrah Milenial: Dorongan atau Tren Belaka
Secercah Sisi Dualisme Pemikiran Manusia Next post Secercah Sisi Dualisme Pemikiran Manusia