Budaya Lawan Arah di Kawasan Fly Over Ciputat

Read Time:2 Minute, 9 Second

Lawan arah di bawah Fly Over Ciputat menjadi budaya yang dinormalisasikan oleh masyarakat. Terutama pengendara bermotor yang melintasi kawasan tersebut. Tak hanya lebih cepat, melainkan juga rawan kecelakaan.


Pengendara bermotor nekat lawan arah di bawah fly over Ciputat. Jauhnya akses putaran balik di kawasan tersebut membuat masyarakat sering melawan arah. Berbagai upaya dan arahan sudah dilakukan, tetapi masyarakat selalu menganggap sepele soal keselamatan diri demi efisiensi waktu. Hingga kecelakaan pun kerap terjadi.


Dilansir dari laman Tangerangnews.com, kecelakaan maut pernah terjadi di kawasan Fly Over Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (5/10) lalu. Kecelakaan tersebut melibatkan dua kendaraan yang saling menabrak karena salah satunya melawan arah. Diduga korban kecelakaan tersebut (lawan arah) ingin mengantar anaknya ke sekolah pada pukul 07:00 WIB. Adapun anak yang di bonceng sang ibu selamat.


Melawan arah dianggap hal lumrah bagi pengendara kawasan fly over Ciputat. Alasan mereka melakukan hal tersebut disebabkan ingin lebih cepat, terlebih saat kondisi jalanan macet. Salah satu pelanggar lalu lintas, Aldo mengaku bahwa alasan lawan arah karena jauhnya putaran balik. “Biar cepet pulang dan juga putaran baliknya jauh,” tutur Aldo, Minggu (23/10).


Dampak lawan arah ini pun membuat para pedagang resah. Tak hanya itu, sulitnya akses masuk ke dalam pasar, hingga barang dagangan pedagang kerap menjadi korban ditabraknya oleh pengendara yang melawan arah. “Pernah sekali ketabrak dagangannya. Kesal juga. Kadang marahan dia yang lawan arah kalau dibilangin salah. Kadang gak sabaran, ngebut aja,” ucap Ujang, pedagang di kawasan pasar Ciputat, Minggu (23/10).


Menurut masyarakat sekitar, salah satunya Yatno menanggapi bahwa masyarakat melawan arah disebabkan karena tertutupnya jalan terowongan. Selain itu, lanjut Yatno, sejak 2 tahun tempat tersebut dijadikan lahan parkir pasar. “Sudah sejak pasar di renovasi. Harusnya pasar dibuka ya jalan dibuka, jangan pasar dibuka tapi jalan ditutup,” tutur Yatno, Minggu (23/10).


Minimnya kesadaran masyarakat soal lawan arah membuat pihak kepolisian jemu. Anggota Polisi Lalu Lintas (Polantas) Sektor Ciputat Timur, Michael mengatakan bahwa warga menganggap sepele mengenai persoalan lawan arah. Lanjut, kata Michael, pihak kepolisian sudah berupaya dari segi pengawasan. Polantas dan Dinas Perhubungan (Dishub) telah mengimbau untuk tidak melawan arah demi keselamatan.


Michael juga menjelaskan, masyarakat hanya patuh apabila ada polisi yang berjaga. Namun, jika polisi tak ada, masyarakat akan mengulangi kebiasaan lawan arah tersebut. Pengawasan lalu lintas dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai waktu tak tertentu di kawasan Fly Over Ciputat. “Kalau pagi dan sore ada yang jaga, lihat di sebelum fly over ada imbauan tulisan jangan lawan arah, semua sudah kita lakukan. Tetapi tetap saja dari masyarakat gak ada kesadarannya,” ujar Michael kepada Institut, Minggu (23/10).


Reporter: SA

Editor: Nur Hana Putri Nabila

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
100 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Tak Memadainya Fasilitas Parkir Perpustakaan Utama
Next post Eksplorasi Seni Berbasis Interaksi Lewat ICAD