Janji Untuk Mahasiswa Usai Aksi

Read Time:1 Minute, 49 Second

Mahasiswa UIN Jakarta menuntut hak yang diabaikan oleh rektorat. Arief Subhan menegaskan akan menjawab tuntutan dalam kurun waktu satu kali tujuh hari.

Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiswa (Sema), Organisasi Mahasiswa (Ormawa), serta mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berlangsung di depan Gedung Rektorat. Aksi ini merupakan hasil konsolidasi yang dilakukan mahasiswa pada Rabu (15/2) lalu.

Ketua Dema-U, Muhammad Abid Al Akbar memulai aksi dengan orasi dan dilanjutkan oleh peserta aksi lain. Aksi diwarnai oleh penaburan bunga dan pembakaran lilin sebagai simbol hilangnya hati nurani rektor UIN Jakarta. Peserta aksi mengaku rindu masa kepemimpinan almarhum Azyumardi Azra yang mana mahasiswa bisa berdiskusi dan berdialog bersama tanpa batas.

Dermawan, Koordinator Aksi menyatakan tujuan Aksi Gugat Rektorat adalah untuk meminta hak mahasiswa yang diabaikan oleh pihak rektorat. Ia menyorot fasilitas yang belum memadai dan pengalokasian dana Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tidak transparan. Target aksinya adalah mahasiswa dan rektorat bisa berdiskusi bersama. “Audiensi sudah dilakukan sebanyak lima kali, tetapi belum membuahkan hasil,” ujarnya, Jum’at (17/2). 

Pada pertengahan aksi, terjadi konfrontasi antara satpam rektorat dengan mahasiswa—peserta aksi. Abid sangat menyayangkan tindakan represif antara satpam rektorat dengan mahasiswa. Abid mengatakan mahasiswa hanya mengharapkan Rektor dan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum mendengarkan dan memvalidasi tuntutan mahasiswa. 

Arief Subhan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan akhirnya membersamai dan mendengar semua tuntutan mahasiswa. Setelah berdiskusi dengan mahasiswa, Arief menyatakan akan menjawab semua tuntutan dalam jangka waktu tujuh hari. “Pihak rektorat akan mengundang Dema-U untuk turut menyelesaikan persoalan ini,” kata Arief, Jumat (17/2).

Ormawa Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan-Kembara lnsani lbnu Battuttah (KMPLHK-RANITA), Jabber menyambut aksi ini dengan baik karena para mahasiswa mempunyai keresahan yang sama. Ia juga menyayangkan absennya Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dalam aksi tersebut. “Karena Warek Dua lah yang berhubungan langsung dengan keuangan,” ucap Jabber, Jumat (17/2).

Mutiara Eva Annisa, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) juga turut menyampaikan aspirasinya sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia mewakili keresahan teman-temannya terkait persoalan UKT yang kian mahal. “Saya berharap aspirasi ini didengar oleh Rektor Amany Lubis,” pungkasnya, Jumat (17/2).

Reporter: PA

Editor: Ken Devina 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Keresahan Memuncak, Mahasiswa Siap Aksi Depan Rektorat
Next post <strong>Menanti Harapan Baru di Awal Tahun</strong>