Buku Antik Jadi Daya Tarik

Read Time:2 Minute, 6 Second

Eksistensi Pasar Buku Kwitang mulai tergusur oleh perkembangan teknologi. Meskipun demikian, pasar buku ini menjadi alternatif pembeli untuk mencari buku-buku orisinal bekas yang dijual dengan harga murah.


Pecinta buku sudah tak asing lagi dengan Pasar Buku Kwitang. Pasar Buku ini terletak di Jalan Kwitang Raya, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Di sini kita bisa mencari berbagai macam buku, mulai dari buku pelajaran, novel, ensiklopedia, hingga buku-buku terbaru dan buku yang sudah tidak diedarkan kembali. Tempatnya pun bersih dan tercium aroma buku dari pintu masuk yang memancing pembeli untuk mencari satu persatu buku yang diincar.

Pasar Buku Kwitang dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika berangkat dari Ciputat bisa naik Transjakarta rute S21 menuju Halte Pondok Pinang. Kemudian dari Halte Pondok Pinang silakan naik Transjakarta rute 6H menuju halte transit Budi Utomo. Setelah sampai di sana, kita melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir Halte Senen dengan memilih rute 3ST. Dari Halte Senen, hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit menuju Pasar Buku Kwitang dengan jalan kaki.

Salah satu pedagang buku, Ajiz Muslim (50) mengaku telah berjualan di Pasar Buku Kwitang sejak 2001. Ajiz mengatakan Pasar Buku Kwitang dahulu berada di sepanjang Jalan Kramat Kwitang, namun pada 2008 terjadi penggusuran yang memaksa pedagang pindah dari jalanan. Sejak penggusuran tersebut para pedagang buku mulai tersebar ke berbagai tempat.

Dalam tempo kurang lebih 21 tahun, Ajiz merasakan dampak dari perkembangan teknologi. Kata Ajiz, dulu para pelajar dan mahasiswa diwajibkan mempunyai buku sebelum mengikuti pembelajaran. Sekarang, ungkap Ajiz, minat membeli buku semakin tergerus dengan kemudahan akses terhadap buku digital dan internet. “Sejak pandemi makin sepi, saya beranjak jualan online,” ucapnya, Minggu (21/5).

Walau demikian, Pasar Buku Kwitang masih menjadi tempat para pecinta buku untuk mencari buku-buku bekas dengan harga yang relatif murah. Teguh Nurohman (28), pengunjung Pasar Buku Kwitang mengaku senang karena mendapatkan buku-buku orisinal yang diinginkan dengan harga yang terjangkau. Teguh juga selalu menyisihkan uang sekitar Rp100.000-Rp150.000 untuk membeli buku setiap bulannya. “Kita cari buku dengan harga murah, alternatifnya, ya, Kwitang,” ujat Teguh, Minggu (21/5).

Pengalaman Teguh, sejalan dengan pandangan Adji Dwi Putra Eriyan (20). Adji sebagai pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pasar Buku Kwitang mengaku tertarik dengan buku-buku novel yang dijual dengan harga yang ramah di kantong. Ketika membeli buku novel, lanjut Adji, ia lebih memilih buku bekas tetapi orisinal ketimbang buku baru yang bajakan. “Tetapi untuk buku kuliah, beberapa ada yang bajakan karena harganya nggak kejangkau di kantong,” pungkasnya, Minggu (21/5).

Reporter: WMA

Editor: Nurul Sayyidah Hapidoh

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Rumah Batin Senapelan, Saksi Sejarah Pekanbaru
Next post Dua Mata Pisau Larangan Thrifting di Indonesia