Bunga untuk Perdamaian

Bunga untuk Perdamaian

Read Time:2 Minute, 46 Second
Bunga untuk Perdamaian

Aksi beri bunga kepada lawan politik dilakukan oleh salah satu Paslon Himapol saat debat kandidat berlangsung. Aksi itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa pertarungan Pemilwa bisa dilakukan dengan cara yang sehat. 


Debat kandidat Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dihiasi kejadian menarik. Pasangan calon (Paslon) nomor urut 02 beserta tim pemenangannya memberikan bunga pada paslon nomor urut 01. Sontak, kejadian tersebut dibalas pelukan hangat oleh Paslon nomor urut 01. Debat kandidat tersebut bertempat di Auditorium Prof. Bachtiar Efendi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) pada Jumat (15/12).

Calon Ketua Himapol nomor urut 02, Muhammad Farras Shaka mengatakan, dinamika politik UIN Jakarta adalah miniatur politik nasional. Ajang Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) tidak terlepas dari konflik. Menurutnya, konflik pasti terjadi dalam politik praktis. “Namun, harus dimengerti, bahwa fenomena konflik itu tidak bisa menjadi budaya yang lazim,” ujar Farras, Minggu (17/12).

Farras mengungkapkan, tidak ada contoh yang menggambarkan adanya kasih sayang dan persahabatan di tengah dinamika politik UIN Jakarta. Lanjut, aksi pemberian bunga hadir untuk mematahkan budaya yang tidak sehat itu. “Pemberian bunga menyimbolkan perdamaian, yang dimaksudkan agar pesan dalam momen itu selalu dikenang,” tuturnya.

Farras menuturkan, pemberian bunga tersebut menciptakan sejarah bahwa kasih sayang dan solidaritas di tengah kemelut Pemilwa masih ada. Lanjut, Farras mengharapkan, siapapun yang menang telah menempuh proses politik sehat yang jujur dan berkeadilan. “Saya harap fakta bagi bunga tersebut dapat menggambarkan bahwa pada akhirnya kasih sayang selalu menang,” tuturnya.

Calon ketua Himapol nomor urut 01, Mulla Shadra mengungkapkan, pemberian bunga adalah gebrakan baru di Pemilwa Himapol UIN Jakarta. Pemberian bunga memberikan nuansa bahwa Pemilwa bisa menjadi kontestasi sehat yang penuh cinta kasih. “Bagi saya itu merupakan hal baik dan bisa dicontoh oleh seluruh jurusan dan fakultas di UIN Jakarta,” ujar Mulla, Minggu (17/12).

Mulla menyayangkan keadaan politik di UIN Jakarta saat ini. Beberapa pihak merasa dirugikan oleh semua yang terlibat dalam Pemilwa, baik jajaran rektorat, panitia penyelenggara maupun Senat Mahasiswa (Sema). Menurutnya, tidak adanya penyelesaian dari pihak terkait menyebabkan adanya dampak yang kurang baik. “Akhirnya terjadi  kericuhan, ribut dan lain sebagainya,” tuturnya.

Mulla berharap, semua orang di UIN Jakarta dapat memahami bahwa Pemilwa bisa berjalan dengan menyenangkan tanpa harus mengurangi esensi kompetensi. “Semoga hal baik seperti yang dilakukan pada sesi debat Himapol UIN Jakarta bisa jadi contoh dan dilanjutkan seluruh mahasiswa UIN Jakarta,” ucapnya.

Peserta Debat Kandidat Himapol UIN Jakarta, Tri Febi Maharani mengatakan, selama mengikuti kontestasi Pemilwa, ia  belum pernah melihat momen pemberian bunga. Pemilwa  yang ditemukan biasanya menampilkan budaya kerusuhan dan serangan buzzer—orang sewaan di  media sosial. “Kata Paslon nomor urut 02, itu simbol cinta dan kasih yang ingin disebarkan pada kontestasi Pemilwa,” tutur Febi, Minggu (17/12).

Febi mengaku sudah bosan melihat Pemilwa yang selalu dihiasi dengan hal-hal yang negatif. Febi tidak mempermasalahkan politik kampus selama mahasiswa menjadikannya proses pengembangan diri. Masalahnya, hal bermanfaat yang didapatkan tidak sepadan dengan hal negatif yang diterima. “Aku suka miris lihat teman-teman yang seharusnya punya kebebasan tapi terhalang oleh politik kampus,” ujarnya.

Febi mengungkapkan, dirinya berharap budaya baik dalam Pemliwa  terus dilestarikan. Lanjut, harapan Febi, kontestasi Pemilwa berikutnya dilakukan secara sehat dengan adu gagasan, sehingga pilihan terhadap kontestan berdasarkan kompetensi, bukan tuntutan organisasi. “Semoga hal-hal buruk itu bisa diminimalisir. Harapannya kita bisa menjalankan Pemilwa yang lebih bernilai,” pungkasnya. 

Reporter: MAI dan FH

Editor: Shaumi Diah Chairani

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Ungkapkan Gagasan, FEB Gelar Mimbar Bebas Previous post Ungkapkan Gagasan, FEB Gelar Mimbar Bebas
Akses Khusus Dukung Green Campus Next post Akses Khusus Dukung Green Campus