KPPS Jadi Opsi Isi Liburan

Read Time:2 Minute, 25 Second

Petugas KPPS menjadi wadah mahasiswa untuk mengisi waktu libur semester dan menambah relasi di masyarakat. Namun, beberapa dari mereka mengakui minimnya penyebaran informasi terkait pendaftaran.


Pemilihan Umum (Pemilu) akan diselenggarakan pada Rabu (14/2) mendatang. Dilansir dari Indonesia.go.id terdapat 820.161 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sebanyak tujuh orang tiap TPS.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Politik, Afreza Choirul Anam menuturkan alasannya mendaftar sebagai Petugas KPPS untuk mengisi liburan semester. Selain itu, ia ingin menambah relasi di lingkungan masyarakat. “Bulan Januari ini saya baru mengikuti sosialisasi mengenai penjelasan teknis penghitungan suara,” ungkapnya, Minggu (14/1).

Afreza kembali menjelaskan, beberapa syarat pendaftaran KPPS, yaitu tidak tergabung dengan partai politik dalam empat tahun terakhir dan melakukan tes kesehatan. Ia menjelaskan, penanggung jawab TPS 67 Pisangan, Ciputat Timur tempatnya bertugas sudah menghimbau untuk menjaga kondisi fisik. “Sejak rapat pertama, Bulan Desember sudah ada arahan untuk menjaga kondisi kesehatan dan memastikan kesehatan petugas satu hari sebelum pelaksanaan Pemilu,” tuturnya.

Berbeda dengan Afreza, Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Muhammad Raihan Ramadhan mengaku belum ada sosialisasi dengan KPPS lingkungannya. Ia juga menyebutkan, tidak mendapat persyaratan terbebas dari partai politik dalam empat tahun terakhir. “Karena saya baru pertama kali ikut serta dalam Pemilu, jadi tidak ada salahnya ikut menjadi Petugas KPPS,” katanya, Minggu (14/1).

Raihan kembali menjelaskan, jumlah KPPS pada TPS 45 Rawa Sari, Cempaka Putih, tempatnya bertugas ada sembilan orang. Ia menyatakan di lingkungannya tidak ada korban meninggal dunia akibat kelelahan bekerja saat Pemilu 2019 silam. “Mungkin kebanyakan petugas yang meninggal tersebut karena penyakit bawaan atau kelelahan bekerja,” pungkasnya.

Berbeda dengan Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum, Faisa Amelia Ramadhani yang mengaku tidak mendapatkan sosialisasi terkait pendaftaran Petugas KPPS. Menurutnya, jam kerja KPPS cukup panjang dan akan berdampak pada kesehatan. “Selain itu beban kerja yang berisiko untuk kesehatan. Saya juga sedikit tertutup sehingga kurang mendapatkan informasi seperti ini,” jelasnya, Minggu (14/1).

Faisa menjelaskan Petugas KPPS lingkungannya di rentang usia 50 tahun. Menurutnya ada atau tidak teman untuk bergabung menjadi Petugas KPPS dirinya tetap menolak. “Saya memang tidak tertarik. Saya hanya mengetahui secara mendalam terkait pembukaan pendaftaran karang taruna dan pergantian Pengurus RT dan RW,” jelasnya.

Selain itu, mahasiswa Prodi Matematika, Fanny Wahyu Aprilia mengatakan semula ingin menjadi Petugas KPPS, tetapi memilih Praktik Kerja Lapangan (PKL). Ia mengungkapkan pada Pemilu sebelumnya petugas bekerja tanpa henti dengan rentang usia 40 tahun. “Mangkanya untuk Pemilu tahun ini panitianya dianjurkan dari anak muda yang memiliki stamina lebih banyak dan dapat menjaga kondisi fisik yang lebih baik,” jelasnya, Senin (15/1). 

Fanny mengungkapkan memilih PKL dibanding menjadi Petugas KPPS karena waktu, dirinya khawatir waktu antara PKL dengan Petugas KPPS berbenturan. Ia menyayangkan informasi pendaftaran Petugas KPPS bukan dari RT dan RW melainkan perlu usaha dari tiap individu untuk mencari informasi pendaftaran. “Seharusnya dari pemerintah memberikan arahan kepada Ketua RT dan RW untuk mencari calon-calon Petugas KPPS,” pungkasnya.

Reporter: HUC

Editor: Nabilah Saffanah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Merawat Nada Lama di Pasar Musik
Next post Tetap Hidup, Agar Tak Redup