Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana

Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana

Read Time:3 Minute, 27 Second
Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana

Oleh: Yopi Gustian Abdilah

Di banyak sudut kampus, kita melihat tempat sampah warna-warni, spanduk bertuliskan “Go Green”, dan bus listrik yang hilir mudik membawa mahasiswa. Semua tampak begitu meyakinkan, seolah kampus benar-benar sedang memimpin gerakan peduli lingkungan. Namun, jika semakin lama kita perhatikan, maka semakin jelas pada kenyataan bahwa lingkungan sedang dibela, tapi alam tetap merana.

Ada kesenjangan antara apa yang ditampilkan kampus dan apa yang sebenarnya terjadi. Kita seperti sedang hidup dalam poster besar bertema ekologi, tetapi lupa bertanya apakah tindakan kita benar-benar menyelamatkan bumi atau hanya sekadar merias citra. Kampus begitu sibuk membangun tanda “hijau”, tetapi abai membaca realitas yang ditandainya.

Bus listrik (Bilis) adalah simbol paling mencolok dari upaya UIN Jakarta menuju green campus. Setiap kali bus itu lewat, publik langsung berkomentar, wah… modern banget dan ramah lingkungan pasti. Namun, dalam semiotika Umberto Eco, simbol tidak selalu sama dengan kenyataan (Eco, 1976).

Teknologi bersih tidak lahir dari ruang hampa. Baterai bus listrik bergantung pada nikel dan batu bara, dua industri yang punya jejak panjang dalam kerusakan lingkungan. Hutan dibabat, tanah dikeruk, air tercemar. Ironisnya, semua kerusakan itu terjadi jauh dari kampus, sehingga tidak terlihat oleh mahasiswa yang duduk manis di kursi bus listrik.

Maka muncul pertanyaan yang tidak pernah dibicarakan secara resmi:

Jika proses di baliknya merusak alam, masih pantaskah kita menyebut bus listrik sebagai simbol kepedulian ekologis?

Kampus tidak berbohong secara langsung, tetapi ia memotong cerita dan hanya menampilkan bagian yang indah. Kita diminta percaya bahwa sebuah tanda otomatis sama dengan realitas. Inilah kerapuhan besar dalam cara kita memahami lingkungan.

Selain itu, kampus memperbanyak tempat sampah stainless steel dengan pemisahan organik, anorganik, dan B3. Secara visual, kampus tampak semakin serius mengelola sampah. Namun siapa pun yang jujur mengamati tahu bahwa sampah-sampah itu sering bercampur lagi.

Mahasiswa kadang membuang sembarangan karena tidak ada edukasi yang konsisten, sementara petugas kebersihan sering tak punya sistem pemilahan lanjutan. Akhirnya, tempat sampah baru hanya menjadi ornamen. Tanda bekerja sangat baik, kampus tampak teratur, tapi realitasnya tetap sama seperti dulu.

Jika tempat sampah hanya difungsikan sebagai properti citra, maka kita tidak sedang menyelamatkan bumi. Kita sedang membangun dekorasi. Ada satu hal penting yang sering terlupakan, yaitu lingkungan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan proyek cara berpikir. Kampus bisa membeli bus listrik, tempat sampah, atau produk lainnya, tetapi tidak bisa membeli perubahan kesadaran.

Inilah titik di mana kampus sering tersandung. Alih-alih membangun kesadaran ekologis yang mendalam, kampus memilih jalan cepat dengan menampilkan simbol hijau. Simbol itu memang bekerja, mengundang pujian, meningkatkan peringkat, memantapkan citra. Tetapi simbol hanya bekerja pada permukaan.

Tanpa disadari, kita sedang jatuh dalam permainan tanda yang kosong. Kita berdebat tentang “hijau”-nya fasilitas, tetapi lupa bertanya apakah tindakan kita benar-benar mengurangi jejak ekologis. Kita terjebak dalam citra, bukan substansi.

Kampus gagal membaca tanda karena kampus terlalu sibuk memproduksi tanda itu sendiri.

Bahaya terbesar dari green campus semu adalah munculnya kesadaran palsu. Mahasiswa merasa sudah berkontribusi terhadap lingkungan hanya dengan naik bus listrik atau membuang sampah ke kotak dengan label berbeda. Padahal kontribusi ekologis sejati tidak sesederhana itu.

Kepedulian lahir dari pemahaman, bukan dari slogan. Tanpa perubahan paradigma, fasilitas teknologi hijau hanya akan menjadi artifisial yang bekerja untuk memoles wajah kampus, bukan menyelamatkan alam.

Jika kampus ingin benar-benar hijau, ia harus mulai dari akar. Menghadirkan mata kuliah wajib lingkungan, misalnya, bukan sekadar ide idealis. Itu adalah strategi jangka panjang untuk membangun generasi dengan kesadaran ekologis yang tidak dangkal.

Kampus perlu mengajarkan bahwa peduli lingkungan bukan sekadar mengikuti tren global atau menaikkan peringkat, tetapi soal memahami hubungan manusia dengan alam secara lebih jujur dan kritis.

Sebab pada akhirnya, alam tidak peduli berapa banyak poster “Go Green” yang kita pasang. Alam hanya peduli pada tindakan. Kita tidak butuh green campus yang sibuk merias diri seperti etalase. Kita butuh kampus yang berani jujur membaca tanda, mengakui kontradiksi, dan memulai perubahan dari ruang kelas hingga kebijakan.

Jika kampus terus membela lingkungan hanya lewat simbol, maka alam akan terus merana diam-diam. Lalu pada titik itu, kita bukan penyelamat bumi, kita hanya penonton dari kerusakan yang kita tutupi sendiri.

Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXX dengan judul Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana: Saat Kampus Gagal Membaca Tanda

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Merawat Ingatan Perjuangan Reformasi Previous post Merawat Ingatan Perjuangan Reformasi
Rumah, Utang, dan PIlihan Hidup  Next post Rumah, Utang, dan PIlihan Hidup