
Di tengah duka pascabencana, Komunitas KawanMu melakukan pendampingan psikososial untuk membantu penyintas bencana Sumatra menghadapi trauma dan memulihkan kondisi mental pascakejadian.
Komunitas KawanMu (Korps Relawan Muhammadiyah) merupakan komunitas yang bergerak dalam layanan dukungan psikososial. Komunitas tersebut memberikan pendampingan kesehatan mental dan rasa aman bagi para penyintas, serta menjangkau lansia yang berada di panti asuhan. Komunitas tersebut didirikan oleh Syamsul Bahri pada 2022 di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta.
Fariz Zakariya Fauzan, Ketua KawanMu Tim Aceh, mengungkapkan bahwa komunitas tersebut memiliki tiga program utama yang menyasar anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. “Untuk anak-anak, fokus kami adalah menumbuhkan kepercayaan diri, memberikan rasa aman, serta meningkatkan motivasi belajar demi masa depan mereka. Hal ini dilakukan melalui dukungan psikososial berupa psikoedukasi yang dikemas dengan fun games, dongeng, serta diskusi ringan,” ujarnya, Senin (16/2).
Ia menjelaskan bahwa untuk penanganan psikososial bagi lansia dan penyandang disabilitas memiliki perbedaan dengan penanganan untuk anak-anak. ”Sementara itu, untuk lansia, tim bergerak secara door-to-door guna memantau kondisi mereka pascabencana sekaligus memberikan motivasi dan dukungan psikososial. Dan untuk disabilitas sama dengan lansia untuk dukungan psikososialnya,” tambahnya.
Fariz juga menyebutkan bahwa relawan komunitas tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Aceh, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Surabaya, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Pembagian tugas dilakukan melalui struktur yang terdiri atas sekretaris, bendahara, penanggung jawab (PJ) lansia, PJ anak, PJ remaja, PJ disabilitas, serta divisi peralatan.
“Mereka saling berkolaborasi dan bersinergi dalam menjalankan tugas masing-masing guna memastikan setiap kelompok rentan mendapatkan pendampingan yang maksimal dan tepat sasaran,” tuturnya.
Di lapangan, Fariz mengakui terdapat sejumlah tantangan, ketika sedang bertugas sering kali masyarakat sekitar bertanya terkait mazhab yang dianutnya. “Masyarakat di sini sangat teguh pada prinsip mereka, bahkan sering bertanya, ‘Kakak mazhabnya apa?’. Ini tantangan tersendiri bagi kami, tapi dengan pendekatan yang baik, semua bisa teratasi,” jelasnya.
Tak hanya itu, Fariz juga mengkhawatirkan kondisi logistik yang mulai menipis. Ia menegaskan bahwa koordinasi antar divisi menjadi kunci agar pasokan logistik tetap aman. “Karena kami fokus di psikososial, kami harus terus bersinergi dengan teman-teman di bagian logistik agar bantuan tetap tersalurkan meski stok mulai terbatas,” pungkas Fariz.
Menurut Fariz, kondisi kesehatan mental penyintas masih menjadi perhatian utama relawan. “Berdasarkan data kami, sekitar tujuh puluh persen warga setempat mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Meski dalam tiga bulan pascabencana kondisi psikis dan kecemasan mereka berangsur membaik, trauma tersebut belum sepenuhnya hilang,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa faktor cuaca menjadi pemicu utama munculnya kembali rasa takut warga. Terutama saat terjadi hujan lebat dengan dengan durasi yang lama. “Suara hujan dan petir sering kali membangkitkan ingatan buruk mereka akan bencana tersebut,” katanya.
Relawan KawanMu, Zelda Bestari Gracia Darryl, menjelaskan bahwa trauma warga dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, cemas berlebihan, serta kehilangan semangat untuk hidup. “Kehilangan rumah dan pekerjaan serta trauma banjir menjadi pemicu utama, diperparah oleh faktor keluarga. Gejalanya nyata, mulai dari kecemasan berlebihan hingga sikap pasrah. Temuan ini berdasarkan interaksi langsung kami dengan warga dan bidan desa,” jelas Zelda, Senin (16/2).
Berdasarkan hasil observasi dan interaksi langsung dengan masyarakat, Ia menyampaikan bahwa terdapat perbedaan tingkat trauma antarkelompok usia. Temuannya menunjukkan bahwa orang tua cenderung mengalami trauma yang lebih mendalam.”Hal ini disebabkan oleh beban ganda. Selain menghadapi guncangan pascabencana, mereka juga harus menanggung kenyataan kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta beban tanggung jawab ekonomi keluarga yang sangat berat,” ungkapnya.
Zelda juga menuturkan, anak-anak penyintas bencana mengalami trauma akibat kehilangan keluarga dan rasa takut pascabencana, yang tampak dari perubahan emosi dan perilaku. Namun, dengan pendampingan melalui permainan dan interaksi positif, mereka cenderung lebih adaptif dan pulih lebih cepat. “Anak-anak memang mengalami trauma, tetapi dengan pendampingan yang tepat, pemulihan mereka relatif lebih cepat,” tuturnya.
Reporter: FR
Editor: Anggita Rahma Dinasih
