
Berawal dari sulitnya mencari wadah kesenian, Sammy menggalakkan Kolase Art sebagai wadah bagi masyarakat Tangsel untuk menyalurkan kreatifitas dalam berbagai bidang kesenian.
Berangkat dari keresahan sulitnya mencari tempat kesenian di kawasan Tangerang Selatan, tercetus ide Sammy Rian Afanto, pendiri Kolase Art untuk membuat ruang aktivasi seni berbasis komunitas. Ide itu membuat Sammy mengumpulkan sejumlah mahasiswa dan pelajar yang gemar kesenian untuk membentuk Kolase Art, tepatnya pada Desember 2025.
Kini Kolase Art berkembang menjadi wadah masyarakat Tangerang Selatan khususnya pelajar dan mahasiswa untuk menyalurkan dan mengembangkan kreasinya dalam cabang kesenian berupa seni rupa, tari, dan teater. Lebih dari itu, Kolase Art juga aktif sebagai sarana edukasi dalam menumbuhkan kesadaran berkesenian yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan,.
Sammy menceritakan Kolase Art rutin mengadakan pameran maupun latihan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan anggotanya dalam beberapa kesenian. Kolase Art berfokus pada kesenian teater, rupa, dan tari.
“Kita bergiliran dalam acara seni, sehingga semua sub disiplin ilmu seni akan dikembangkan. Semua saling membantu dan berkolaborasi, sehingga tidak ada eksklusif sendiri,” ucap Sammy, Senin (9/2).
Dalam kegiatannya, Kolase Art bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) untuk menggunakan City Gallery sebagai pusat aktivitas komunitas. City Gallery adalah tempat pameran karya dan budaya milik Pemkot Tangsel. Namun, Sammy menceritakan pada awal menggunakan City Gallery, ia bersama Anggota komunitas secara sukarela dan mandiri membenahi City Gallery yang lama terbengkalai.
“Sulit. Hampir dua tahun tidak ditempati, sehingga berdebu, berantakan, serta lampu, air conditioner (AC), televisi yang mati. Kita membuktikan dengan membetulkan serta merapikan tempat ini,” ucap Sammy.
Sammy melanjutkan, Kolase Art sebagai komunitas baru memiliki sejumlah tantangan . Ia menjelaskan dana dan sumber daya yang terbatas menjadi hambatan aktivitas komunitasnya. “Berdirinya Kolase yang baru sebentar masih tidak langsung memiliki pemodal, sehingga kita melakukannya dengan mandiri dan sukarela,” ujarnya.
Ananda Dwi Saskia, anggota Komunitas asal Universitas Pamulang menjelaskan, perbedaan Komunitas Kolase Art dari komunitas seni lainnya di Tangsel. Menurutnya tidak seperti kebanyakan komunitas lain, Komunitas Kolase Art mencakup banyak bidang seni, seperti teater, seni rupa, seni tari.
“Biasanya, komunitas hanya fokus di satu bidang. Meskipun aku masuk di bidang teater, tetapi aku bisa mencoba seni rupa,” ungkap Cia, Selasa (10/2).
Walaupun sempat ragu, takut dalam berkreasi dan memamerkan hasil kreasinya, ia mengaku senang karena berbagai sketsanya dapat dipajang dan ikut berkontribusi pada bidang seni rupa.
“Walaupun Kolase baru hadir, tetapi terasa perkembangan yang pesat, dan bisa membawa banyak perubahan pada berbagai bidang kesenian, terlebih untuk gedung City Gallery. Kegiatan Kolase juga konsisten, sehingga berpotensi menjadi komunitas yang besar,” Pungkasnya.
Reporter: RAA
Editor: Naufal Fauzan
