
Berawal dari ketertarikan mempelajari wayang akulturasi Cina-Jawa muncul inisiatif pendirian rumah Cinwa sebagai upaya pelestarian kesenian tradisional wayang.
Rumah Cinta Wayang (Cinwa) merupakan sebuah sanggar pelestarian seni dan budaya tradisional yang didirikan pada 2014. Sanggar yang terletak di pinggir Situ Jatijajar, Depok. tersebut berfokus pada pelestarian wayang, terutama Wayang Potehi dan Wayang Kulit Cina Jawa. Pendirinya, Dwi Woro Retno Mastuti merupakan akademisi Universitas Indonesia (UI) sekaligus filolog—orang yang meneliti budaya atau sejarah lewat tulisan seperti naskah kuno.
Ketertarikan tersebut berawal dari naskah Cina-Jawa sejumlah sembilan belas buku yang ia temukan di Perpustakaan UI. Ketertarikan tersebut bertambah ketika ia melakukan riset naskah Cina-Jawa di Berlin, Jerman. Di sana, ia bertemu kurator Cina yang mengoleksi Wayang Cina dan menyadari bahwa koleksi wayang tersebut pernah ia jumpai juga di Indonesia.
Setelah riset di Jerman selesai, ia mulai melakukan penelusuran mengenai Wayang Potehi dan Wayang Kulit Cina Jawa. Di Jatinegara, ia berkunjung ke salah satu kelenteng dan bertemu dalang maestro Wayang Potehi, Thio Tiong Gie. Ia berguru selama sepuluh tahun dan mengikuti berbagai pementasan wayang untuk mendalami Wayang Potehi. Hasilnya kemudian dibukukan dalam buku berjudul Wayang Potehi Gudo (2014). “Sepuluh tahun tersebut saya gunakan untuk mempelajari ceritanya, cara memainkannya, musiknya, dan referensinya,” ujar Woro pada Sabtu (14/02).
Pada tahun 2014, Woro memutuskan untuk mendirikan Rumah Cinwa sebagai bentuk pelestarian kesenian tradisional. Awalnya, Cinwa merupakan akronim dari Cina-Jawa yang merujuk pada paduan dari budaya Tiongkok dan Jawa dalam corak wayang. Namun, akronim tersebut diubah menjadi Cinta Wayang dikarenakan menurutnya konotasi tersebut kurang baik.
Rumah Cinwa menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya anak muda untuk turut melestarikan kesenian wayang, terutama Wayang Potehi dan Wayang Kulit Cina Jawa. Awalnya, anak muda yang datang untuk belajar berasal dari mahasiswa UI, tetapi seiring berjalannya waktu, mahasiswa dari berbagai kampus turut belajar di sanggar tersebut.
Di sana, mereka mempelajari cara memainkan wayang, memainkan musik pengiringnya, yaitu gamelan, diskusi kebudayaan, dan membuat film dokumenter yang bertujuan memperkenalkan kesenian wayang kepada berbagai kalangan. Kegiatan tersebut dilakukan setiap akhir pekan, antara hari Sabtu dan Minggu.
Dalam seni pewayangan, upaya pelestarian kesenian tradisional memerlukan tekad yang kuat karena jumlah peminatnya menyusut setiap tahun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2021, penonton pertunjukan seni wayang hanya sebesar 2,23 persen, sedangkan seni perfilman sebesar 69,01 persen.
Woro menjelaskan kesulitan Rumah Cinwa dalam melakukan regenerasi, karena rendahnya minat anak muda untuk mempelajari seni pewayangan. Menurut Woro, rendahnya minat tersebut disebabkan oleh pandangan bahwa wayang sudah tidak lagi tren, ceritanya sulit dipahami anak muda, serta mempelajarinya tidak menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih baik. “Saya sedih karena ternyata mengurus sanggar budaya itu tak gampang. Secara idealisme mungkin gampang, tapi di prakteknya, aduh, tidak semudah itu,” ungkapnya.
Selain itu, Woro mengeluhkan kendala pendanaan operasional sanggar. Ia mengatakan tidak ada bantuan finansial secara langsung dari pemerintah dalam mendukung upaya pelestarian pertunjukan wayang. Rumah Cinwa memenuhi biaya operasional melalui sumbangan kolektif para relawan dan Dana Indonesiana—dana abadi kebudayaan yang berfungsi untuk mendukung keberlangsungan sanggar. “Dana Indonesiana membantu, tapi tidak menutup seluruh kebutuhan,” tambahnya.
Dalam upaya pelestarian wayang, Rumah Cinwa melakukan inovasi dengan membuat wayang Potehi Urban, yaitu Potehi yang karakter dan busananya menyerupai manusia saat ini. Hal tersebut bertujuan agar wayang tetap relevan dan diminati oleh masyarakat, terutama kalangan muda.
Salah satu anak muda yang tertarik adalah Shafwan Djaelani, selaku dalang. Ia mulai tertarik dengan seni pewayangan kala menonton acara televisi Opera Van Java. ketertarikan tersebut berlanjut ketika ia mencari tahu jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia dan turut mendalami seni pewayangan di Rumah Cinwa pada akhir 2025.
Rumah Cinwa tak hanya memberinya ruang untuk mempelajari wayang saja. Di sana, ia merasa menemukan teman dan suasana baru. Lebih dari itu, ia juga menceritakan keseruan dan rasa gugup saat dipercaya untuk menunjukkan hasil belajarnya sejak akhir 2025 dalam pentas perayaan Imlek. Baginya, anak muda seharusnya tidak sekadar melihat seni budaya yang ada di Indonesia. “Tidak sekadar kita cuma lihat saja kan. Kita juga harus mengetahui itu,” pungkas Shafwan pada Selasa (17/02).
Reporter: MHR
Editor: Anggita Rahma Dinasih
