Ruang Seni, Tempat Potensi Bersemi

Ruang Seni, Tempat Potensi Bersemi

Read Time:5 Minute, 12 Second
Ruang Seni, Tempat Potensi Bersemi

Ruang publik diubah jadi ruang edukasi kesenian dan permainan tradisional. Anak-anak belajar tanpa tekanan dan menjauh dari ketergantungan gawai.


Sejumlah anak duduk melingkar saat mengikuti kelas ukulele yang diadakan oleh komunitas Taman Sawangan Ukulele (Tamsakul) di Studio Hanafi, Depok. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Jumat atau Sabtu, dipandu oleh Zoe.”

Komunitas Taman Sawangan Ukulele, atau yang dikenal dengan Tamsakul, merupakan komunitas yang bergerak dalam edukasi kesenian, meliputi alat musik tradisional, permainan tradisional, ukulele, serta kegiatan fun learning. Jayadi Eka Sapta—yang akrab disapa Zoe, bersama rekannya Ale, menggagas komunitas ini pada 25 Februari 2020.

Kegiatan ini berawal dari keterlibatan keduanya dalam Komunitas Ukulele Depok Tercinta (KUDETA). Mulanya, Zoe hanya hobi bermain ukulele dan memiliki ketertarikan terhadap musik. Seiring berjalannya waktu, mereka memilih untuk menginisiasi kegiatan belajar musik secara lokal agar lebih mudah diakses dan berfokus pada masyarakat sekitar. Dari situlah ia merasa punya tanggung jawab untuk bermanfaat kepada masyarakat.

Taman Sawangan jadi pilihan sebagai lokasi kegiatan. Hal tersebut bertujuan agar taman itu tak hanya menjadi ruang bermain publik, tapi tempat edukasi yang layak untuk mengembangkan potensi masyarakat di bidang seni. “Awalnya kita punya komunitas namanya Ukulele Depok. Tapi karena setiap latihan tempatnya jauh, jadi akhirnya buat komunitas ukulele di Sawangan. Kemudian, di setiap kelurahan kan ada taman. Nah, kita jadikan untuk main ukulele bareng. Awalnya orang dewasa saja, tapi lama-lama berjalan yang anak-anak kecil juga ikutan main,” ucap Zoe pada Minggu (1/6).

Zoe menilai bahwa seni musik di Depok masih tergolong minim, terutama musik tradisional. Lantaran hal itu, ia bertekad untuk mengembangkan seni musik, terutama angklung dan ukulele dengan memberikan edukasi musik secara gratis. Meski begitu, para orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya ke komunitas ini biasanya turut menjadi donatur. “Biasanya paling sedikit anak-anak yang hadir itu, sepuluh orang. Dan paling banyak tiga puluh orang,” kata Zoe.

Komunitas tersebut memiliki visi untuk menjadi wadah edukasi kesenian dan budaya yang menyenangkan, nyaman, serta bermanfaat. Lewat pendekatan fun learning, mereka berharap dapat membantu anak-anak menggali potensi dan bakatnya sesuai dengan pola tumbuh kembang yang baik. Selain itu, komunitas ini juga membentuk ruang bagi komunitas seni, peduli lingkungan, sosial, serta budaya untuk berkumpul dan bersinergi.

Tamsakul menjalankan misi dengan menyediakan ruang yang nyaman, baik untuk anak-anak atau pun remaja dalam mengembangkan bakat dan menyalurkan hobi di bidang kesenian. Komunitas ini juga menciptakan ruang edukasi nonformal yang melatih konsentrasi serta kepedulian anak terhadap lingkungan dan interaksi sosial. Selain itu, komunitas ini juga berusaha mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai berlebihan, agar mereka lebih fokus bermain dan belajar melalui aktivitas yang melatih kemampuan motorik, sensorik, baik secara verbal maupun visual.

Selain bertujuan mengasah kemampuan dalam bidang seni, Tamsakul muncul untuk mengubah stigma terhadap ukulele yang kerap dipandang sebelah mata sebagai alat hiburan ringan dan kurang bernilai seni tinggi. Lewat kegiatan-kegiatan di Tamsakul, Zoe berupaya membuktikan bahwa ukulele mampu berperan sebagai sarana edukatif dan ekspresif.

Upaya itu membuktikan bahwa ukulele bukan sekadar alat musik yang dimainkan untuk bersenang-senang, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang membentuk karakter, membangun kepedulian terhadap budaya lokal, serta mempererat hubungan sosial melalui kegiatan seni yang inklusif.

Tamsakul rutin mengadakan kegiatan seminggu sekali di hari Jumat atau Sabtu. Beberapa kegiatan Tamsakul di antaranya, Uke Edukasi, Uke Visit, Uke Action, Uke Camp kelas dasar bermain ukulele, kelas dasar bermain angklung, bermain permainan anak-anak dan tradisional, bernyanyi dan berani tampil, interaksi, berkolaborasi, dan berseni budaya.

Aghist Khaidir, salah satu pengajar di komunitas Tamsakul menjelaskan bahwa para pengajar di sana berasal dari berbagai latar belakang. Mereka berkumpul dan berkontribusi bersama di Tamsakul. “Untuk kesenian teater dan puisi itu berasal dari kolaborasi. Namun, untuk teater dan puisi itu hasil dari kolaborasi personal, seperti Kak Zoe bermain ukulele, saya bernyanyi, Kak Umam Teater,” ungkap Aghist pada Kamis (5/6).

Para pengajar berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak-anak lebih mudah menyerap materi. Namun, mereka juga menghadapi tantangan tersendiri karena anak-anak cenderung mudah mengalami perubahan suasana hati. “Biasanya anak-anak itu gampang moodnya berubah, jadinya ikutin maunya mereka saja. Kalau tidak mau, kita tidak memaksa,” lanjutnya.

Menurut Aghist, komunitas Tamsakul berperan penting dalam melestarikan budaya lokal, khususnya alat musik tradisional. Ia bersama teman-teman komunitas aktif mengangkat isu pelestarian seni budaya dalam berbagai kegiatan. “Alhamdulillah, beberapa kali ikut event, kita pernah diundang sama Walikota Depok untuk main di Balai Kota. Saat itu kita mengangkat isunya alat musik tradisional yang harus dilestarikan, yang tadinya melihat angklung itu buat generasi tua, sekarang kita justru mengedukasi generasi muda agar bisa terus berkelanjutan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa komunitas ini bukan hanya berdampak pada peserta, tetapi juga memberi pengaruh positif terhadap lingkungan sekitar. Para orang tua yang sebelumnya membiarkan anak-anak mereka menggunakan gawai, kini mulai menyadari pentingnya aktif di sebuah komunitas. “Ibu-ibu yang tadinya melihat anaknya bermain gadget, sekarang sudah aware ke komunitas ini. Jadinya disuruh bergabung dan anaknya pun tertarik,” ujarnya.

Aghist juga menaruh harapan besar terhadap perkembangan komunitas Tamsakul. Ia ingin Tamsakul dapat menjangkau wilayah yang lebih luas dan memberikan ruang bagi anak-anak di luar Sawangan untuk ikut serta. “Bisa bertahan lama dan berkelanjutan. Bisa untuk generasi selanjutnya, supaya anak-anak memiliki ruang tersendiri dalam mengekspresikan potensi mereka dan lebih mengeksplorasi,” tambahnya.

Salah satu orang tua peserta, Liza Septi Imaniar, mendaftarkan anaknya ke komunitas Tamsakul agar dapat mengembangkan minat dan bakat dalam bermusik, khususnya dalam bermain ukulele dan bernyanyi. Sekaligus belajar disiplin waktu serta bersosialisasi dengan para pengajar dan teman-teman komunitas. “Membangun kepercayaan diri anak kami, dengan ikut berpartisipasi dalam komunitas musik dapat membantunya menjadi lebih percaya diri ketika diajak untuk ikut beberapa pertunjukan bersama,” ucap Liza pada Jumat (6/6).

Menurutnya, komunitas ini membawa nilai-nilai budaya dan pendidikan yang bermanfaat bagi perkembangan anak-anak. “Dengan belajar ukulele anak kami jadi sedikit lebih paham bermusik dan mengenal budaya negara lain, selain bermain ukulele, anak-anak juga diajarkan nilai nilai kebersamaan, kesabaran, serta kerja keras dan disiplin dalam berlatih,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap agar Tamsakul dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi komunitas musik yang berpengaruh secara luas. “Anggota Tamsakul dapat terus meningkatkan kemampuan musiknya dan menjadi musisi yang berkualitas. Menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan diri melalui musik dan mengembangkan bakatnya,” pungkasnya.

Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXIX dengan judul yang sama.

Reporter: Anggita Rahma Dinasih
Editor: Rizka Id’ha Nuraini

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Seketika Muncul Semester Antara Previous post Seketika Muncul Semester Antara
Penerjemah Isyarat Ciptakan Wisuda Inklusif  Next post Penerjemah Isyarat Ciptakan Wisuda Inklusif