Aksi Damai Pulihkan Lingkungan 

Aksi Damai Pulihkan Lingkungan 

Read Time:1 Minute, 57 Second
Aksi Damai Pulihkan Lingkungan 

Dalam memperingati Hari Bumi Sedunia, sekelompok masyarakat dan mahasiswa pencinta lingkungan menggelar aksi damai. Rangkaian aksi diisi dengan orasi, simbol keresahan, dan tuntutan untuk memperbaiki kebijakan terkait lingkungan.


Aksi damai digelar oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari organisasi pencinta lingkungan dan mahasiswa di depan gerbang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Jumat (24/4). Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada (22/4). 

Selama aksi berlangsung, massa menyampaikan aspirasi melalui orasi, berpuisi serta penggunaan beberapa simbol peraga seperti spanduk, nisan, dan tenda. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menggambarkan ancaman kerusakan lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia. Aksi berlangsung hingga pukul 17.00 WIB dan berjalan dengan tertib walaupun sempat terpotong oleh beberapa massa aksi lain yang ingin menyuarakan keresahan. Saat penutupan aksi, masyarakat menyampaikan harapannya agar pemerintah segera merespons tuntutan yang telah dibacakan.

Staff Penggalangan Dukungan Publik Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sandi Saputra Pulungan, menjelaskan bahwa aksi damai yang dilakukan merupakan bentuk keresahan terhadap kebijakan pemerintah yang telah banyak merusak lingkungan. Ia menilai kondisi lingkungan Indonesia mengkhawatirkan dan berdampak pada kehidupan masyarakat khususnya generasi muda.

“Aksi ini adalah sikap dan keresahan anak muda yang meminta haknya untuk hidup bersih dan berkelanjutan. Kami tidak butuh omongan tapi tindakan nyata kebijakan yang berpihak pada masa depan generasi muda,” ucap Sandi pada Jumat (24/4).

Sandi menambahkan, tajuk #OrangMudaPulihkanIndonesia merupakan bentuk sikap dan tuntutan generasi muda atas pemulihan kondisi lingkungan di Indonesia. Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret melalui kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan dan masa depan.

Dalam aksi tersebut, masyarakat menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyat, bukan pada keuntungan korporasi. Tuntutan tersebut mencakup Pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Keadilan Iklim, Transformasi Kelembagaan yang Kuat, Integrasi Instrumen Gender, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta Akuntabilitas dan Penegakan Hukum. 

Salah satu peserta aksi dari Partai Hijau, Naufal (20), mengaku mengikuti aksi sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan di Indonesia. Ia menuturkan bahwa kekhawatiran tersebut muncul setelah melihat berbagai dampak kerusakan lingkungan, termasuk melalui film Pesta Babi yang menggambarkan kondisi masyarakat di Papua akibat proyek pemerintah seperti Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Awalnya saya mengikuti kelas ekologis, dan mengetahui dampak dari kerusakan lingkungan pada masyarakat salah satunya yang dialami masyarakat adat Papua. Makanya saya ikut aksi ini untuk menyuarakan keresahan itu,” ujar Naufal pada Jumat (24/2).

Reporter: SFA
Editor: Naila Asyifa

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visum Tak Lagi Ditanggung, Hambat Keadilan Korban  Previous post Visum Tak Lagi Ditanggung, Hambat Keadilan Korban