Quarter Life Crisis Hantui Mahasiswa Akhir

Quarter Life Crisis Hantui Mahasiswa Akhir

Read Time:2 Minute, 46 Second
Quarter Life Crisis Hantui Mahasiswa Akhir

Bagi sebagian mahasiswa, kelulusan tidak selalu disertai rasa lega. Kebingungan dalam menentukan arah masa depan justru memicu fenomena quarter life crisis yang memengaruhi kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.

Menjelang kelulusan, tidak sedikit mahasiswa justru dihadapkan pada kebingungan dalam menentukan arah karier. Alih-alih merasa siap memasuki dunia kerja, sebagian mahasiswa  diliputi kecemasan dan keraguan terhadap masa depan. Melansir rri.co.id, fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis, yaitu kondisi emosional ketika seseorang merasa ragu, cemas, dan mempertanyakan arah hidupnya.

Sementara itu, melansir Alodokter, quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah periode ketika seseorang berusia 18-30 tahun merasa tidak memiliki arah hidup, diliputi kekhawatiran, kebingungan, serta kegelisahan terhadap ketidakpastian di masa depan. Kekhawatiran tersebut umumnya berkaitan dengan masalah relasi, percintaan, karier, maupun kehidupan sosial.

Diana Maulidah, mahasiswa semester delapan Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengaku merasa kebingungan terkait masa depan dan arah karier setelah lulus kuliah. Ia mengatakan perasaan tersebut sebenarnya sudah muncul sejak masih menjalani perkuliahan. “Yang paling bikin cemas itu profesi kerja yang nanti akan saya jalani, sama masih bingung apakah setelah lulus lebih baik lanjut S2 dulu atau kerja dulu,” ujar Diana melalui WhatsApp, Rabu (4/3).

Meski demikian, ia mengaku tidak merasakan tekanan dari keluarga maupun lingkungan sekitar terkait pilihan kariernya. Kondisi tersebut membuatnya tetap dapat menjalani aktivitas perkuliahan dan kegiatan sehari-hari tanpa merasa terbebani secara berlebihan. “Sejauh ini tidak ada tekanan dari keluarga atau lingkungan, jadi saya fokus saja pada hal-hal yang bisa saya lakukan sekarang,” katanya.

Menurutnya, dukungan lingkungan yang positif menjadi faktor penting bagi mahasiswa yang sedang menghadapi masa transisi menuju dunia kerja. Ia menilai setiap orang memiliki proses dan waktu yang berbeda dalam menentukan jalan hidupnya.

“Lingkungan positif memang penting, tapi dari dalam diri juga harus yakin bahwa setiap orang punya tempat dan waktunya masing-masing, jadi tidak perlu merasa tertinggal,” pungkasnya.

Dosen Psikologi Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ikhwan Luthfi, menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan fase yang wajar dialami individu ketika memasuki masa transisi menuju dewasa awal. Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan munculnya rasa takut, kecemasan, serta menurunnya kepercayaan diri. 

“Yang paling utama dari quarter life crisis itu adalah kebingungan. Mahasiswa bingung harus ngapain, terutama setelah lulus kuliah mau kemana dan mau jadi apa,” ujar Ikhwan, Rabu (25/2).

Ia menambahkan, tekanan dari lingkungan sosial sering kali memperbesar krisis yang sebenarnya wajar terjadi. Tuntutan dari sekitar dapat membuat mahasiswa semakin ragu dalam mengambil keputusan. “Lingkungan seakan-akan menuntut banyak hal, sementara kesiapan mental mahasiswa belum tentu terbentuk dengan baik. Akhirnya, masalah kecil bisa terasa sangat besar,” ujarnya.

Menurut Ikhwan, untuk menghadapi quarter life crisis, mahasiswa perlu keberanian untuk melakukan eksplorasi dan mencoba berbagai pengalaman selama berada di bangku kuliah. Mahasiswa juga disarankan menjaga relasi sosial dengan teman, keluarga, maupun lingkungan kampus, serta mencari dukungan dari orang terdekat agar kebingungan terkait masa depan tidak dihadapi sendirian.

“Selama masih mahasiswa, coba saja banyak hal. Ikut magang, organisasi, atau aktivitas lain supaya tahu sebenarnya kita cocoknya dimana,” tuturnya.

Ikhwan juga menilai, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menghadapi quarter life crisis. Kampus dinilai perlu mendorong mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan kemahasiswaan serta menyediakan ruang konsultasi bagi mahasiswa yang ingin berdiskusi mengenai kebingungan karier. “Mahasiswa jangan dibiarkan menganggur, harus bergerak, berpikir, dan bersosialisasi melalui kegiatan kemahasiswaan,” tambahnya.

Reporter: SJF
Editor: Anggita Rahma Dinasih

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Menakar Stigma Lulusan UIN Jakarta Previous post Menakar Stigma Lulusan UIN Jakarta