
Libur semester genap 2025, UIN Jakarta mengadakan kembali semester antara untuk membantu mahasiswa yang ingin memperbaiki nilai atau menabung mata kuliah. Namun, pelaksanaannya yang mendadak mengundang berbagai keluhan dari civitas academica.
Ketika sedang menikmati masa libur kuliah, Mahmud—bukan nama sebenarnya— menerima informasi pengadaan semester antara melalui grup WhatsApp. Semester antara merupakan semester singkat bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang ingin mengulang mata kuliah atau menabung mata kuliah. Mahmud yang ingin melakukan perbaikan nilai, lantas menghubungi Dosen Pembimbing Akademik (PA) dan kepala program studi (Kaprodi) untuk mengonsultasikan keinginannya mengikuti semester antara.
Namun, saat sedang berkonsultasi, Mahmud tidak mendapatkan informasi yang diinginkannya. Sebab, Kaprodi dan Dosen PA kompak mengatakan bahwa mereka baru akan mempersiapkan pengadaan semester antara pada hari itu. “Baik dosen PA sama Kaprodi di hari Senin itu baru mau mempersiapkan semester antara. Selain itu, Kaprodi juga mengeluhkan bahwa kampus mendadak mengadakan semester antara ini,” terang Mahmud secara daring, Selasa (20/8).
Institut juga telah menelusuri kalender akademik tahun 2025/2026 untuk mencari informasi tanggal pelaksanaan semester antara. Namun, berdasarkan penelusuran Institut tidak ditemukan informasi tanggal pelaksanaan semester antara di kalender akademik tahun 2025/2026.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie menjelaskan semester antara merupakan fasilitas dari universitas bagi mahasiswa yang ingin mengulang atau memperbaiki nilai. Lebih lanjut, ia menerangkan mahasiswa dapat membayar Rp220 ribu per Satuan Kredit Semester (SKS) dan mengajak minimal sepuluh orang untuk mengikuti semester antara. “Semester antara ini akan dilaksanakan setiap libur semester antara genap dan ganjil,” ungkap Tholabi, Selasa (19/8).
Katanya, semester antara diadakan kembali atas dasar banyaknya permintaan dari mahasiswa. Dia juga menuturkan, semester antara diadakan kembali untuk membantu mahasiswa lulus tepat waktu sehingga tidak melewati batas maksimal studi. “Kita berinisiatif mengadakan kembali semester antara untuk memberikan fasilitas terhadap mahasiswa,” ujar Tholabi.
Menjawab keluhan civitas academica, ia mengakui adanya kendala dalam melaksanakan dan mensosialisasikan semester antara. Hal itu terjadi karena waktu pelaksanaannya yang mepet. Kendala yang dialami perihal kesiapan sosial dan perangkat teknologi untuk menyinkronkan pengadaan semester antara dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti). “Kendala itu bukan karena kita lalai, tetapi memang baru kali ini kita hidupkan kembali,” jelas Tholabi.
Pengamat Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Pheni Cahya Kartika merasa pengadaan semester antara memiliki sisi positif dan negatif bagi akademik mahasiswa. Lebih lanjut, ia menerangkan pengadaan semester antara dapat membantu mahasiswa untuk mengejar ketertinggalannya. Di sisi lain, pengadaan semester antara menurut Pheni membuat mahasiswa tidak melalui proses yang seharusnya untuk mendapatkan nilai. “Seharusnya mahasiswa mendapat nilai melalui proses panjang, yaitu mengikuti pembelajaran, ujian tengah semester dan ujian akhir semester,” terang Pheni, Kamis (21/8).
Selanjutnya, ia juga menyoroti harga yang dipatok untuk semester antara cukup mahal bagi mahasiswa. Menurutnya Rp220 ribu per SKS akan memberatkan mahasiswa. “Bayangkan mahasiswa membutuhkan sepuluh SKS, itu saja sudah mengeluarkan Rp2,2 juta,” pungkas Pheni.
Reporter: Rifki Kurniawan
Editor: Muhammad Arifin Ilham
