
Jakarta sebagai kota metropolitan ternyata masih rapuh soal kemandirian pangan karena ketergantungan pada pasokan dari luar kota. Namun, sebuah inisiatif kolektif muncul menjadi solusi dan alarm bagi ketidakberdayaan itu. Mereka membangun alternatif sebelum krisis pangan benar-benar melanda.
Melansir dari Project Multatuli, dalam sejarahnya pada tahun 1505, Mataram (salah satu kerajaan besar Nusantara) mengirim Pangeran Jagakarsa ke selatan Jakarta (Sunda Kelapa) untuk membangun daerah ketahanan pangan sebagai respons terhadap ancaman Portugis. Sejak saat itu, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat pertanian bagi warga Jakarta. Puncak kejayaan pertaniannya tercatat pada 1963. Namun, modernisasi datang di tahun 1965 menyebabkan sawah berkurang, tanah diambil untuk lahan pembangunan, air tercemar, dan udara memburuk.
Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta yang serba modern itu, inisiatif kolektif bernama Selarasa Food Lab berdiri sebagai ruang alternatif untuk membangun ekosistem pangan yang mandiri. Berbasis di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selarasa lahir dari keresahan terhadap sistem pangan kota yang timpang, khususnya dalam distribusi dan akses terhadap hasil panen segar.
Selarasa bukan sekadar komunitas, melainkan sebuah ekosistem pangan yang mempertemukan petani perkotaan, produsen olahan pangan, dan konsumen. Visi utamanya adalah menghidupkan kembali Jagakarsa sebagai wilayah mandiri pangan, yakni sebuah identitas yang sesungguhnya telah mengakar dalam sejarah.
Berangkat dari keresahan tersebut, lima anak muda bernama Julian Rizki, Erbi, Tahlia Salima Motik, Bonit, dan Risya Ayudya menelusuri rantai distribusi pangan dari petani hingga ke tangan konsumen. Mereka menemukan bahwa sistem distribusi menyebabkan perubahan harga dan kualitas hasil panen karena terlalu banyak perantara.
“Ternyata dalam perjalanan hasil panen terjadi perubahan harga dan kualitas, karena banyak melewati tengkulak. Seperti hasil panen yang bagus atau terkurasi akan dijual ke supermarket, sedangkan yang kualitas rendah akan dijual di pasar tradisional, sehingga terjadi kesenjangan pada sayur,” ucap Julian pada Sabtu (3/5).
Kemudian lima pemuda itu sepakat mendirikan sebuah tempat bernama Gudskul Ekosistem di Jalan Durian 30A Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk berkumpul sembari mendiskusikan masalah pangan Jakarta. Di sanalah sebuah inisiatif pangan bernama Selarasa Food Lab terbentuk. Nama “Selarasa” sendiri berasal dari hari pertemuan mereka yang rutin dilakukan tiap Selasa, Rabu, dan Sabtu. Mereka memetakan jaringan petani lokal, mengumpulkan hasil panen dan olahan pangan, serta mendistribusikannya langsung ke warga Jagakarsa dan publik luas.
“Saat ini, Selarasa telah menjalin kerja sama dengan 32 kelompok tani yang tersebar di enam kelurahan di Jagakarsa,” ujarnya.
Selarasa menjalankan dua peran utama yaitu food lab dan food hub. Food lab berperan sebagai ruang eksperimen pangan, mulai dari kelas memasak, lokakarya, hingga diskusi. Sementara itu, food hub menjadi ajang temu dan dialog antara petani, kelompok tani, serta warga kota melalui berbagai program seperti Pasar Selaras (Panen Raya Jagakarsa), Podcast Undang-Undang Petani, dan Majelis Sayur Jagakarsa.
Program-program unik juga terus dikembangkan, salah satunya kuliah tumbuhan (Kultum) yang fokus pada edukasi seputar tanaman. Tak hanya itu, terdapat juga tur odong-odong, yaitu sebuah perjalanan dari dapur kolektif Gudskul menuju kebun untuk mengenalkan cara mengolah hasil panen dari sumbernya langsung.
Meski begitu, niat baik Selarasa Food Lab tak luput dari tantangan, mulai dari mahalnya pupuk, kondisi iklim yang tidak menentu, hingga residu tanah yang mengganggu kesuburan. Namun, semangat komunitas ini tetap menyala, percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari inisiatif kecil yang konsisten.
Institut mengunjungi salah satu kelompok tani di Jagakarsa yang bernama Kelompok Tani Hutan Kumbang (KTH Kumbang). Jullio Eglisias Tarigan selaku pengurus KTH Kumbang bergabung dengan Selarasa, ketika Julian mengajak untuk bekerja sama dalam mengelola hasil panennya. “Dulu Mas Juli itu, mengumpulkan petani-petani di Jagakarsa, kemudian dirangkul untuk (bersama mengelola) hasil panennya,” ujar Jullio pada Minggu (4/5).
Di KTH Kumbang, teknik penanamannya masih konvensional menggunakan tanah. Penjualan dan pengelolaan kelompok tani itu hanya diperuntukan untuk warga sekitar Jagakarsa. “Karena lahannya cuma 1,4 hektar ini, masih diperuntukan untuk warga sekitar. Dari door to door, tapi sekarang bisa dari WA tinggal posting,” lanjutnya.
Reporter: Anggita Rahma Dinasih
Editor: Muhammad Arifin Ilham
