
Melawan kemunduran demokrasi, Islami.co menginisiasikan forum Islamitalk guna menghadirkan ruang dialog untuk membahas kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia yang kian terhimpit di Indonesia.
Menghadapi tantangan backsliding democracy—kemunduran demokrasi, Islami.co menginisiasikan forum diskusi dengan tajuk Islamitalk di Cafe Outlier, Ciputat, pada Jumat (27/2). Forum diskusi ini mengangkat tema “Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan Dinamika Demokrasi di Indonesia Kontemporer”.
Koordinator Kegiatan Islamitalk, Abi Nugroho, menjelaskan bahwa forum ini adalah tanggapan atas kondisi demokrasi yang tidak boleh hanya bersifat formalitas, tetapi harus menyentuh manfaat nyata bagi rakyat. Ia menegaskan bahwa aspirasi masyarakat harus tetap didengar oleh pemerintah meskipun sudah ada lembaga perwakilan.
“Tema ini penting karena beberapa waktu terakhir demokrasi kita mengalami backsliding democracy yang ditandai dengan penyempitan kebebasan sipil. Misalnya melalui media sosial, pendapat dibatasi atau diganggu lewat ancaman. Bahkan media nasional pun ada yang dibatasi diksinya untuk tidak melakukan kritik mendalam terhadap program pemerintah,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (27/2).
Forum dibuka dengan pemaparan materi mengenai relasi Islam, Hak Asasi Manusia (HAM), dan demokrasi. Pemaparan materi dilakukan oleh Khamami Zada, Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Hurriyah, Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), dan Savic Ali, pendiri Islami.co.
Dalam diskusi, Abi menyoroti adanya pernyataan pejabat publik yang seolah memonopoli pemahaman mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan menyudutkan masyarakat yang mengkritik kebijakan pemerintah. Menurutnya, inti dari HAM adalah melindungi setiap perbedaan pendapat dari warga negara.
“Baru-baru ini ada pernyataan dari pejabat soal HAM yang bilang bahwa beliau lebih mengerti soal HAM, dan menganggap pengkritik kebijakan pemerintah itu tidak mengerti HAM. Padahal HAM itu harusnya menyuarakan pandangan dan memberikan perlindungan terhadap perbedaan pendapat,” tegasnya.
Senada dengan Abi, salah satu peserta diskusi dari Yayasan Difabel Mandiri Indonesia (YDMI), Budi Hasanudin, menilai forum ini sebagai tempat untuk merenung soal kesetaraan. Bagi Budi, nilai-nilai demokrasi pada dasarnya merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat menghargai kebebasan setiap orang. “Menurut saya pribadi, demokrasi itu sebenarnya representasi dari Islam. Islam menjamin kebebasan, mulai dari kebebasan diri hingga kebebasan berbicara,” ungkap Budi saat diwawancarai, Jumat (27/2).
Namun, Budi memberikan kritik tajam mengenai kenyataan penerapan HAM di Indonesia saat ini. Ia mengamati adanya ketimpangan, di mana HAM cenderung hanya berlaku di level sesama masyarakat kecil, tetapi tampak tumpul jika masyarakat kecil berhadapan dengan pemerintah. “Secara politik, HAM seolah sudah tidak terlihat. Ada, tapi hanya sedikit dan berlaku di antara sesama masyarakat kecil. Jika sudah berhadapan dengan pemerintah, secara kasat mata saya melihatnya sudah tidak berjalan dengan baik,” tuturnya.
Reporter: TAR
Editor: Rifki Kurniawan
