
Inovasi lingkungan yang dicanangkan Taufiq Supriadi di wilayahnya membuat ia dikenal sebagai Ketua RT Inovatif. Prestasinya tersebut mendapatkan berbagai penghargaan hingga diundang oleh Pemerintah China.
Nama Taufiq Supriadi meroket sebagai Ketua RT (Rukun Tetangga) inspiratif berkat inovasi lingkungan yang digagasnya. Melansir dari Kumparan.com, Taufiq telah mendapatkan banyak penghargaan dari inovasi yang ia ciptakan hingga diundang oleh pemerintah China. Ia telah membuat lebih dari 43 inovasi berkelanjutan di antaranya yang terkenal yaitu mengubah saluran u-ditch atau saluran irigasi berbentuk U yang terbuat dari beton menjadi kolam lele, komposter komunal, dan lampu tenaga surya. Taufiq menjabat sebagai Ketua RT 8, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Berawal dari keresahan terhadap kondisi lingkungan yang gersang dan tidak adanya pengelolaan sampah, Taufiq bertekad mengubah kawasan tempat tinggalnya menjadi lebih asri. Menurutnya, sudah menjadi hak setiap warga negara untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun, hak tersebut hanya dapat terwujud melalui keterlibatan aktif seluruh masyarakat.
Memiliki latar belakang pendidikan tinggi di sejumlah kampus bergengsi seperti Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), tak membuat Taufiq menjauh dari masyarakat. Sebaliknya, ia menyalurkan ilmu yang dimilikinya langsung kepada masyarakat untuk mendorong kemandirian warga, baik ilmu dalam mengelola lingkungan maupun peningkatan ekonomi. Selain itu, Taufiq juga menjadi dosen hukum lingkungan di Universitas Pelita Harapan (UPH) agar dapat menyebarkan ilmunya kepada mahasiswa.
Selama menjabat, Taufiq menerapkan konsep Triple Bottom Line yaitu kerangka kerja keberlanjutan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan (profit), tetapi juga memperhatikan dampak terhadap manusia (people) dan lingkungan (planet), untuk mendorong kesuksesan jangka panjang yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Taufiq mewujudkan konsep people tersebut dengan membentuk budaya pada warga agar bisa menerapkan inovasi lingkungan yang baik dan sehat. Kemudian, inovasi tersebut juga dibarengi dengan kegiatan ekonomi seperti budi daya ikan lele di atas saluran air dan inovasinya itu berhasil meraup keuntungan sekitar Rp20 juta per kolam tiap bulannya. Dengan begitu, cita-cita Taufiq untuk mencegah krisis lingkungan pun dapat tercapai.
“Kita tidak hanya memperbaiki lingkungan, tetapi juga mengenyangkan perut warga dari inovasi,” ungkap Taufiq pada Kamis (5/2).
Keberhasilan program lingkungan di RT 8 itu menjadi contoh bahwa perubahan kecil dapat menghasilkan dampak besar. Program kerja Taufiq sudah direncanakan untuk periode tahun 2023 hingga 2028 dengan sekitar 80 persen difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Program tersebut sudah diperluas ke RT lainnya agar manfaat lingkungan yang asri dapat dirasakan lebih luas.
Dampak dari program itu juga dapat terlihat melalui situs web Pencegah Krisis Planet yang telah mendapatkan ribuan ulasan positif. Situs tersebut tidak hanya memaparkan program kerja, tetapi juga menampilkan laporan kerja dan keuangan sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi.
“Dengan adanya website Pencegah Krisis Planet, warga dapat memantau program kerja dan membuat laporan keluhan agar lebih cepat sampai, sehingga aspirasi semua warga dapat tertampung. Dari website ini pula, China bisa mengundang kami hingga ke Beijing,” tambah Taufiq.
Program yang diusung oleh Taufiq melibatkan seluruh kalangan masyarakat, baik rumah tangga, anak muda, hingga penyandang disabilitas. Selain itu, program tersebut juga menciptakan lapangan pekerjaan kepada warga, seperti menjadi petani yang memberikan pemasukan mandiri. Walaupun dana yang diberikan oleh pemerintah untuk operasional program tidak besar, Taufiq tetap optimis dalam mencapai tujuannya. Ia pun kerap mendapatkan penolakan mengenai programnya dari beberapa warga, namun hal itu tidak mematahkan semangatnya.
Bagi Taufiq, generasi muda harus menjadi penggerak regenerasi lingkungan dan memanfaatkan media yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat. Dalam menghadapi segala tantangan, ia berpesan untuk tetap fokus pada tujuan yang diinginkan. Ia juga mengungkapkan bahwa kendala terbesar sering kali berasal dari diri sendiri, maka strategi yang tepat dan optimisme sangat dibutuhkan.
Untuk langkah kedepannya, Taufiq berencana untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), yaitu sarana teknik yang dirancang khusus untuk memproses dan membersihkan limbah cair seperti air agar tidak hanya berakhir di sungai. Ia meyakini Indonesia masih memiliki harapan untuk menciptakan lingkungan yang sehat, “Indonesia bisa jadi besar bukan dari gedung-gedung tinggi, tapi dari lingkungan yang dijaga,” tuturnya.
Reporter: SFA
Editor: Anggita Rahma Dinasih
