
Berawal dari keresahan terhadap persoalan sampah, komunitas Bank Sampah Gen Z menghadirkan ruang edukasi lingkungan bagi masyarakat dengan mengubah limbah tak bernilai menjadi produk kreatif ramah lingkungan.
Berawal dari keprihatinan Generasi Z (Gen Z) terhadap tumpukan plastik di pesisir Pantai Carita, Pandeglang, menarik inisiatif sekelompok anak muda untuk mendirikan komunitas Bank Sampah Gen Z. komunitas tersebut berupaya mengembangkan kegiatan pengelolaan sampah menjadi bisnis yang ramah lingkungan.
Pendiri Bank Sampah Gen Z, Muhammad Adroni, mengungkapkan bahwa komunitas Bank Sampah Gen Z lahir dari keresahan melihat tanah kelahirannya tercemar. “Awalnya sederhana banget sih, karena resah. Saya tiap hari lihat sampah plastik menumpuk di sungai, terus kebawa ke pesisir Pantai Carita. Padahal itu kampung sendiri. Saya pikir, kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” ujar Adroni saat diwawancarai, Senin (16/2).
Masalah sampah di Kabupaten Pandeglang, Banten masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan. Melansir dari news.detik.com, volume sampah di wilayah Pandeglang terus mengalami peningkatan. Pada 2025, volume sampah sebelum Ramadan tercatat 1.403 ton, sedangkan saat memasuki Ramadan, jumlah sampah harian mencapai 1.600 ton.
Melalui komunitas tersebut, Adroni berupaya menunjukan bahwa Gen Z tidak hanya sekadar nongkrong, tetapi mampu mengorganisir manajemen sampah secara sistematis. Alurnya dibuat mudah oleh Adroni agar masyarakat tertarik menabung sampah. Tim Bank Sampah akan memilah plastik, kardus, serta logam untuk ditimbang dan dikonversi menjadi uang.
Sejak Januari 2024, komunitas tersebut telah mengelola beberapa ton sampah anorganik, untuk diolah menjadi ecobrick kerajinan tangan dari plastik, dan pupuk kompos. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini memiliki nilai ekonomi. Sampah itu tak hanya dijual ke pengepul, tetapi mereka juga membuat inovasi produk daur ulang.
“Kita sudah bikin beberapa produk daur ulang seperti ecobrick, kerajinan dari plastik, dan pupuk kompos dari sampah organik. Selain itu, produk utamanya sebenarnya adalah perubahan pola pikir masyarakat,” ungkapnya.
Meskipun awalnya komunitas itu dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, karena pandangan anak muda tidak seharusnya mengurus sampah. Namun kini, komunitas itu mendapat dukungan mulai mengalir dari berbagai instansi dan pengunjung wisata karena inovasi yang dihasilkannya.
Adroni juga menyampaikan terkait pentingnya menjaga lingkungan dimulai dari diri sendiri. “Jujur saja, bumi tidak butuh kita, tapi kita yang butuh bumi. Tidak harus langsung bikin komunitas, cukup mulai dari diri sendiri dulu. Kurangi plastik, jangan buang sampah sembarangan. Hal kecil tapi kalau bareng-bareng, dampaknya besar,” ujarnya.
Faroch Adiba, salah satu anggota Bank Sampah Gen Z menjelaskan pendekatan yang dilakukan komunitas Bank Sampah Gen Z agar menarik minat masyarakat. Ia menuturkan pendekatan dilakukan melalui cara komunikasi yang disesuaikan dengan gaya anak muda. Ia juga menggunakan konten kreatif di media sosial untuk mengampanyekan isu lingkungan.
“Saya masuk ke dalam tim media sekaligus menerima setoran nasabah. Pendekatannya lewat promosi media sosial dan mengikuti algoritma kekinian agar mudah diakses dan diterima anak-anak muda,” kata Faroch, Kamis (19/2).
Selain pengelolaan sampah harian, komunitas Bank Sampah Gen Z juga aktif melakukan edukasi ke berbagai Sekolah Dasar (SD) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dalam bentuk clean up bersama. Adiba juga mengungkapkan bahwa keterlibatannya dengan komunitas tersebut meningkatkan kepeduliannya terhadap pemilahan sampah.
“Saya menjadi lebih peka terhadap bentuk pemilahan sampah plastik dan juga peduli terhadap keasrian lingkungan,” ungkapnya.
Kini, Bank Sampah Gen Z menargetkan perluasan jumlah nasabah serta pembenahan sistem manajemen organisasi agar dapat menjadi menjadi pusat edukasi lingkungan bagi pemuda di sepanjang pesisir Carita. “Target dekatnya, kita ingin menambah jumlah nasabah dan buat sistem yang lebih rapi secara manajemen. Jangka panjangnya, saya ingin Bank Sampah Gen Z jadi pusat edukasi lingkungan anak muda di pesisir Pantai Carita,” tutur Adroni.
Reporter: TAR
Editor: Anggita Rahma Dinasih
