Zaki Mubarok: Mahasiswa Rentan Berpaham Radikal

Read Time:1 Minute, 38 Second


Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Badan Nasional Penananggulangan Terorisme (BNPT) mengadakan dialog bertajuk Pencegahan Terorisme di Kampus. Bertempat di Auditorium Harun Nasution, Selasa (9/12), dialog dihadiri tak kurang dari 500 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Duduk sebagai pembicara, Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta, Zaki Mubarok, dengan moderator Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (FIDIKOM), Sunandar. Dialog juga dihadiri oleh perwakilan pejabat dari setiap fakultas, lembaga kemahasiswaan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN Jakarta.

Dalam pemaparannya, Zaki menuturkan, dialog-dialog seperti ini penting diadakan di kampus-kampus. Pasalnya, anak-anak muda seperti mahasiswa masih sangat rentan menerima paham-paham radikal karena masih berada dalam proses penegasan pandangan hidup. “Termasuk proses penegasan berideologi dan beragama,” katanya.

Selain  karena faktor usia, menurut Zaki, ada faktor lain yang menyebabkan pelajar, khsususnya mahasiswa, akhirnya berpaham radikal. Lemahnya kontrol juga menjadi salah satu sebab anak di usia muda berpaham radikal. Baik kontrol dari keluarga maupun dari guru atau dosen yang berada di lembaga pendidikan.

Zaki juga menegaskan, bahwa paham-paham radikal yang diterima mahasiswa sebenarnya bukan dari mata kuliah yang diajarkan dosen di kelas. Karena tidak ada kurikulum yang mengajarkan mahasiswa untuk berpaham radikal. Melainkan didapat dari kegiatan-kegiatan lain mahasiswa di luar kuliah.

Oleh karena itu, Zaki berharap agar kampus bertanggung jawab dalam mengontrol kegiatan sosial maupun keagamaan mahasiswa yang berada di lingkungan kampus. “Jika tidak, Indonesia akan kehilangan generasi-generasi mudanya,” tandas Zaki.

Senada dengan Zaki, Idris Irfan selaku perwakilan BNPT menegaskan, anak muda memang sangat rentan menerima paham-paham radikal. Khususnya anak muda di usia 15-25 tahun. Data itu juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan BNPT, bahwa anak muda di usia tersebut, 49% memiliki simpati terhadap paham-paham radikal.

Untuk mengatasi hal itu, sejauh ini pihak BNPT mengaku telah berupaya untuk terus melakukan sosialisasi. “Termasuk pada masyarakt agar tidak mudah menerima paham radikal yang kerap diiming-imingi surga Tuhan,” terangnya.


Thohirin

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Penerapan Software Anti Plagiat Tak Menyeluruh
Next post Pemutaran Film Senyap “Merangkai Narasi Alternatif Peristiwa 65”