Nasib Bahasa Ibu

Read Time:2 Minute, 13 Second

Memperingati perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari lalu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, E Aminudin Aziz kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya melestarikan bahasa ibu. Bahasa ibu, menurutnya, berbeda dengan bahasa daerah. Sebab, kedua hal itu sering disamaartikan oleh orang awam.

Aminudin berkata, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang diperoleh manusia ketika berinteraksi dalam lingkungan keluarga. Sedangkan bahasa daerah lebih dinisbatkan kepada bahasa-bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa tertentu, yang secara sosiologis berhubungan.

Lebih lanjut, ia menambahkan, bahasa daerah bukanlah penanda keberadaan dan batas sebuah wilayah. Menurutnya, bahasa daerah lebih mengacu kepada keterikatan dan kesatuan budaya dari para penuturnya. “Melalui bahasa ibu, manusia diasah rasa, emosi, nalar, logika, dan etikanya sebagai dasar untuk perkembangan mereka berikutnya,” jelas Aminudin, Rabu (24/2).

Survei Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan, ada 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, hampir 90 persen tersebar di wilayah timur Indonesia—428 di Papua, 80 di Maluku, 72 di Nusa Tenggara Timur, dan 62 di Sulawesi. Dari hasil survei tersebut, delapan bahasa dikategorikan punah, lima bahasa kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa mengalami kemunduran, 24 bahasa dalam kondisi rentan, dan 21 bahasa berstatus aman.

Menanggapi hal itu, Pakar Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Hindun mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan bahasa bisa punah. Bencana alam, kata dia, adalah salah satu penyebab kepunahan suatu bahasa. Hindun menambahkan, faktor kemajuan zaman dan perpindahan geografis manusia juga membuat bahasa ibu sang penutur semakin terkikis. “Manusia adalah user (penutur bahasa ibu), ketika user-nya hilang dari muka bumi maka bahasanya pun hilang,” jelas Hindun, Senin (22/2).

Seperti yang dirasakan Mahasiswi Ilmu Politik UIN Jakarta, Lala Kamila Latip. Sejak mengenyam pendidikan di sekolah menengah hingga merantau ke Ibu Kota, Lala merasa kemampuan berbahasa ibunya mengalami penurunan, karena kurangnya intensitas berkomunikasi dalam bahasa ibu selain kepada keluarga di rumah. “Sudah makin berkurang, karena enggak ada lawan bicaranya,” keluh Lala, Rabu (24/2).

Sementara itu, Mahasiswa Sastra Arab UIN Jakarta, Thifal, justru menyoroti sistem pendidikan di Indonesia yang mengharuskan siswa belajar bahasa Indonesia lebih dalam daripada bahasa ibu. Mahasiswa kelahiran Palembang ini menilai, bahasa ibu harusnya tetap dipelajari. “Bangku pendidikan yang menggunakan bahasa formal mengharuskan kita mempelajari bahasa Indonesia lebih dalam daripada bahasa ibu,” ujar Thifal mahasiswa Sastra Arab UIN Jakarta, Rabu (24/2).

Thifal juga mengajak masyarakat untuk melestarikan bahasa ibu. Ia juga berbagi tips supaya masyarakat lebih cinta kepada bahasa ibunya. Pertama, kata dia, seseorang harus merasa bangga dengan bahasa ibunya. Kedua, mendengarkan lagu-lagu berbahasa ibu, kemudian berkomunikasi dengan keluarga menggunakan bahasa ibu. “Komunikasi dengan keluarga menggunakan bahasa ibu,” ajak Thifal.

Anggita Raissa Amini, Firda Rahma

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Siap Gelar Aksi Lanjutan
Next post Antara Hukuman Mati atau Hak Asasi