Menelisik Kehidupan Aktivis HAM melalui Buku

Read Time:2 Minute, 2 Second

Diskusi buku “Mencintai Munir” digelar di Gedung Visinema Pictures, Jakarta Selatan, Senin (12/12). Buku ini berisi kisah perjalanan hidup Munir, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang meninggal saat perjalanan ke Belanda pada 2004 silam. Kematian Munir ini merupakan satu di antara banyaknya kasus pelanggaran HAM yang belum sepenuhnya terselesaikan di Indonesia.

Buku “Mencintai Munir” yang ditulis oleh Suciwati, istri Munir–buku ini diterbitkan pada September 2022. Suci mengaku kurang puas dengan sejumlah tulisan mengenai suaminya, sehingga ia menuliskannya sendiri sebagai orang yang menyaksikan langsung kisah hidup aktivis HAM ini. Meski sudah 18 tahun berlalu, potongan memori bersama Munir masih terekam jelas dengan bantuan catatan hariannya kala itu.

“Tahun awal-awal itu memang ada yang sempat menuliskan. Nah, memang tentunya akan berbeda ketika menulis sebagai orang ketiga dengan orang yang masuk di ruang itu,” tutur Suci, Senin (12/12).


Suci tergerak hatinya untuk menulis kisah hidup Munir saat melihat kondisi penegakan HAM di Indonesia dari waktu ke waktu. Ia mengaku prihatin terhadap kondisi HAM di negara ini dan ingin meneruskan kisah perjuangan Munir agar sampai ke generasi berikutnya.


“Kita bisa melihat bagaimana HAM atau hak asasi manusia hanya dijadikan komoditi belaka akhirnya. Karena pada satu titik, tidak ada kasus pelanggaran HAM berat yang diselesaikan,” ujar Suci, Selasa (12/12).


Menurut penulis skenario film Irfan Ramli, buku ini memberi gambaran kehidupan Munir seperti manusia pada umumnya. Jika media lain menceritakan Munir sebagai aktivis, sosok yang luar biasa dalam memperjuangkan HAM, maka buku ini menilik sisi-sisi kemanusiaan Munir yang belum dimuat di media manapun. Misal ketika ia ragu-ragu untuk pergi ke Belanda di akhir masa hidupnya.


“Buku ini tentu saja sekali lagi, membuat pengetahuan kami terhadap Cak Munir itu lebih utuh, dan terasa lebih dekat gitu. Kalau yang sudah dirilis sebelumnya, itu kan hal-hal yang basisnya aktivismenya. Karena kalau di buku ini kita melihat manusia yang juga ada ragu-ragunya,” kata Irfan, Senin (12/12).


Direktur PT Tempo Inti Media, Budi Setyarso menuturkan bahwa buku ini bukan  sekedar romantisme, namun sebuah usaha untuk membuat negara kita lebih baik. Kisah Munir sebagai aktivis HAM yang gugur diharapkan dapat terus mengingatkan masyarakat tentang pelanggaran HAM yang terjadi, serta menjadi pemacu gerakan-gerakan pencegahan pelanggaran HAM agar tidak terulang kembali.


“Buku ini bukan hanya romantisme, kenangan-kenangan Suci bersama Munir, ya, ini adalah sebuah jalan yang dipilih Suci untuk terus memperjuangkan hal-hal yang membuat negara kita lebih baik,” pungkasnya, Senin (12/12).

Reporter: SDC

Editor: Alfiarum Cahyani


About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Konstitusi Tidak Tegas Hukum Koruptor
Next post Main Gusur Sekolah Pondok Cina