Target Renstra Tak Optimal

Read Time:3 Minute, 42 Second


Guna peningkatan mutu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rektor Komaruddin Hidayat melahirkan Rencana Strategis (Renstra). Namun sayang, beberapa program renstra dinilai tak maksimal.
Senin, 6 Januari 2015 menjadi hari bersejarah untuk Dede Rosyada. Eks Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan ini terpilih sebagai Rektor UIN Jakarta menggantikan Komaruddin Hidayat. Saat pemilihan rektor pada 14 Oktober 2016 lalu, Dede berhasil memperoleh 43 dari 92 suara anggota senat. Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifuddin pun secara resmi melantik Dede di ruang Diorama UIN Jakarta.
Sebelum Dede menjabat, kepemimpinan Komaruddin di UIN Jakarta berlangsung dari 2006 hingga 2014. Tahun keenam, tepatnya 2012, ia beserta jajarannya merumuskan gagasan yang kemudian dikenal Rencana Strategis (Renstra). Dilansir dari uinjkt.ac.id, tujuan renstra adalah meningkatkan kinerja pendidikan dan pengajaran, kinerja penelitian, publikasi ilmiah.
Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Jakarta ini membagi renstra ke dalam tiga tahap, yakni dari 2012-2016, 2017-2021, dan 2022-2026. Selama Komaruddin memimpin, ia menjadikan renstra UIN Jakarta sebagai landasan dalam setiap kebijakan rektor. Tak hanya itu, ia  memperkuat tata kelola UIN Jakarta sebagai badan otonom dan meningkatkan kualitas UIN Jakarta menjadi berakreditasi A.
Namun sayang, dari program yang dirancangnya ada beberapa program yang dinilai tidak berjalan baik dalam pelaksanaannya. Dalam bidang pengembangan misalnya. 2014 lalu, UIN Jakarta meresmikan Fakultas Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Akan tetapi, pihak Pendidikan Tinggi (Dikti) belum memberikan izin pendirian fakultas tersebut. Alhasil, 2016 menjadi tahun akhir FSDAL di UIN Jakarta.
Tak hanya itu, berdasarkan langsiran dari Tabloid Institut edisi Maret 2013, dosen yang ingin melakukan penelitian masih terkendala karena sarana yang terbatas. Sebabnya, dana yang diberikan UIN Jakarta sebesar 5-8 juta masih kurang. Sehingga pada tahun itu jurnal UIN Jakarta masih minim akreditasi internasional. 
Selanjutnya, dalam aspek kurikulum di kelas internasional, UIN Jakarta masih menggunakan kurikulum Inggris yang diterapkan menggunakan bahasa Indonesia. Fasilitas seperti laboratorium bahasa pun tak mendukung program internasional yang diterapkan UIN Jakarta. 
Menanggapi kebijakan Komaruddin, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum periode 2006-2014 Amsal Bakhtiar turut berkomentar. Menurutnya, ada beberapa program yang tidak sesuai dengan ketersediaan dana. “Akibatnya, ada beberapa program yang sempat terhambat. Seperti beasiswa dosen di luar negeri dan peningkatan jurnal internasional,” ungkapnya, Kamis (20/4).
Setelah delapan tahun memimpin, 2015 menjadi babak baru untuk Dede Rosyada. Ia pun resmi menggantikan posisi Komaruddin selaku Rektor UIN Jakarta. Renstra yang dicanangkan Komaruddin pun tak luput dari perhatian Dede.
Sayangnya, turunnya Komaruddin dari kursi jabatan meninggalkan pekerjaan rumah bagi UIN Jakarta. Hal itu disampaikan oleh Ketua Senat UIN Jakarta Muhammad Atho Mudzar terkait tak adanya evaluasi renstra di masa kepemimpinannya. “Seharusnya rektor saat itu (Komaruddin) melakukan evaluasi Renstra terlebih dulu,” ujar Atho di ruangannya, Selasa (18/4).
Kini, Renstra UIN Jakarta tahap pertama telah usai. Selama dua tahun Dede menempati kursi nomor satu di UIN Jakarta, Renstra tahap dua pun mulai dirancang kmbali dalam rapat pimpinan yang digelar pada 19-21 Januari lalu. Dalam pidatonya di acara Wisuda 103, Dede mengusung visi UIN Jakarta menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH). 
Berdasarkan kutipan dari Tabloid Institut edisi September 2016, syarat untuk menjadi PTN-BH yakni Akreditasi institusi A, 80% program studi terakreditasi A, memiliki publikasi internasional terindeks scopus minimal 300, PTN memiliki pendapatan sendiri minimal 1 triliun. Akan tetapi pada realita, dari 65 prodi di UIN Jakarta, baru 26 berakreditasi A, 34 prodi B, dan 6 prodi C. Sedangkan penelitian yang terindeks scopus hanya 217 jurnal dan untuk pendapatan UIN Jakarta Rp431 Miliar.
Saat ditemui oleh Institut di ruangan lantai dua gedung rektorat UIN Jakarta, Dede mengungkapkan dirinya tengah menjalankan program peningkatan dalam penelitian dan publikasi internasional. “Kita punya 454 tulisan yang dipublikasi dan terindeks scopus,” ujarnya, Kamis (20/4).
Seperti yang tercantum dalam Tabloid Institut edisi XL/November 2015, pada 2016 Dede berencana menaikkan anggaran hingga Rp25 milyar untuk 600 jurnal ilmiah. Berdasarkan Evaluasi Renstra 2012-2016 jumlah judul jurnal yang terealisasi sebesar 59%.
Terkait program tersebut Ketua Senat Universitas Muhammad Atho Mudzhar angkat bicara, menurutnya, Dede harus lebih mengedepankan program beasiswa S3 bagi dosen UIN Jakarta. “Hal ini dilakukan demi mewujudkan visi UIN Jakarta dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” pungkasnya, Rabu (18/4).
Namun, berbeda dengan nasib mahasiswa di aspek penelitian UIN Jakarta. Berdasarkan survei yang dilakukan divisi Litbang Institut pada April 2017, sebanyak 96% dari 200 mahasiswa UIN Jakarta belum melakukan penelitian. Padahal, 56% mahasiswa mengaku bahwa dosennya sudah menganjurkan untuk penelitian. Dalam survei itu juga tertulis, 67% mahasiswa belum mengetahui sosialisasi UIN Jakarta dalam menyediakan dana riset.
Atik Zuliati & Dewi Sholeha Maisaroh

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Telisik Renstra Di Balik Slogan
Next post Menjalin Kebersamaan Bersama PGMI Expo