Penyimpangan Norma dalam Berbahasa

Read Time:1 Minute, 54 Second
Komunikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak. Dalam kehidupan sosial, berkomunikasi adalah hal yang paling sering dilakukan. Bentuk komunikasipun beragam diantaranya komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi bertujuan untuk tersampainya maksud dari lawan bicara kepada penerima. 
Bentuk komunikasi di abad 21 mengalami pergeseran norma. Secara umum Indonesia adalah negara yang memiliki norma sopan dan santun. Tetapi arus globalisasi menjadikan adanya pembauran bahasa. Tidak sedikit remaja yang menggunakan sarkasme  dalam berkomunikasi sehari-hari. Bagi sebagian masyarakat, hal ini lumrah. Namun, penggunaan sarkasme banyak menimbulkan konflik.
Keadaan emosi manusia dapat cepat berubah. Sekalipun ada hubungan dekat, sekali waktu temanpun bisa tersinggung dengan ucapan lawan bicaranya. Belum lagi bermunculan istilah-istilah yang semakin memperkeruh tenggang rasa. Seperti kata baper, setiap ada orang yang merasa tidak senang dengan ucapan kasar lawan bicaranya, justru menganggap sepele dengan menggiring embel-embel baper.
Bahkan sarkasme tidak hanya dilakukan antar teman, tetapi juga lingkungan keluarga. Antara kakak dan adik saling melontarkan bahasa kasar. Disinilah peran penting orangtua untuk bisa memberikan edukasi tata cara berkomunikasi yang baik dan benar. Setiap individu perlu diberikan ruang untuk mengeluarkan pendapat dan keresahannya. Penggunaan sarkasme menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat ruang untuk didengar.
Berdasarkan penelitian di University of Rochester  menggunakan sarkasme membuat orang tidak terlihat cerdas. Mirisnya penggunaan sarkasme ini diawali dengan mengikuti orang-orang. Penggunaan sarkasme penulis nilai tidak bijaksana. Pasalnya masih banyak ungkapan-ungkapan yang lebih etis daripada menggunakan sarkasme. Disamping itu, secara tidak sadar akan mengikis penggunaan bahasa yang baik dan tak dipungkiri akan mengikis perilaku-perilaku terpuji.
Apalagi di Indonesia, dengan kultur yang ramah ini, orang-orang yang bertutur kata sarkas menempati stigma buruk. Spekulasi masyarakat Indonesia terhadap orang-orang yang berkata kasar adalah kurangnya pendidikan dari sekolah dan salah asuh dari orangtuanya. Bahkan tak sedikit masyarakat dalam rentang usia berapapun yang mengkotak-kotakkan pergaulannya sehingga memunculkan circle pertemanan.
Komunikasi melihat siapa lawan bicaranya. Ini kembali lagi pada norma. Penulis berpendapat sekalipun dengan teman sebaya, sudah sepatutnya memiliki etika berbicara yang baik dan benar. Pembiasaan berbicara menggunakan sarkasme hanya akan menimbulkan polemik. Karena pasalnya setiap insan ingin diperlakukan baik. Disamping itu hukum hidup adalah hubungan timbal balik, maka sudah selayaknya sebagai manusia mempunyai tutur kata yang baik dan sopan.
DBA

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Bank Sampah Solusi Kurangi Limbah Plastik
Next post Anak menjadi sasaran sosial media